Pembangunan Masjid di Perancis
 By Republika Contributor
Rabu, 08 Oktober 2008 pukul 12:34:00
 [image: Pembangunan Masjid di Perancis]

Ketika konstruksi masjid di hampir penjuru Perancis selalu menghadapi
tantangan serius, namun tidak demikian di wilayah Alsace-Moselle. Wilayah
jauh di sudut Perancis ini memang perkecualian, membantu pendirian masjid
untuk komunitas Muslim yang cukup besar di sana.

Alsace, adalah contoh dialog antar agama yang terjalin kuat dibanding
wilayah lain di Perancis," ujar Fouad Douai, orang yang bertanggung jawab
pada tender pembangunan masjid negara bagian di kota Strasbourg, seperti
yang dilansir oleh International Herarld Tribune Selasa (7/10) lalu.

Kondisi itu tidak biasa di Perancis yang sekuler. Negara dimana
Undang-Undang 1905 melarang keras negara mengakui atau membiayai agama
apapun, undang-undang lokal di Alsace-Moselle justru membuat Muslim memiliki
hak untuk membangun masjid mereka.

Wilayah yang dikembalikan oleh Jerman kepada Perancis setelah Perang Dunia I
ternyata masih menerapkan aturan Kerukunan pra-1905 yang memiliki keuangan
publik untuk konstruksi tempat ibadah dan honor kependetaan.

Namun selama berpuluh tahun, Alsace-Moselle terbatas ketat hanya untuk
Katholik Roma, Kristen Protestan Martin Luther, Calvinisme dan Yudaisme.
Lalu pada tahun 1998, barulah kepala Gereja Katholik, Gereja Lutheranisme,
Gereja Calvinisme dan kaum minoritas Yudaisme menandatangani surat
kesepatakan dengan pemerintah lokal, untuk mendukung pendirian masjid.

Mereka waktu itu mengatakan jika agama dengan komunitas cukup banyak di
wilayah tersebut harus menikmati status yang sama sebanding dengan empat
agama resmi lain. Sementara Muslim di Alsace-Moselle menempati urutan
terbanyak kedua.

Tak lama setelah penandatanganan surat itu, pemerintah lokal pun memberikan
plot lahan cukup luas di tepi sungai kota Strasbourg untuk rencana masjid.
Berdasar aturan Kerukunan tempat beribadah pra-1905, Kota dan dewan wilayah
bertanggung jawab atas 26 % biaya konstruksi masjid.

Toh rencana membangun masjid tersebut bukan tanpa halangan. "Ada hipokrit
yang besar dalam politik Perancis," ujar Douai, yang juga menjadi kepala
organisasi komunitas Muslim di Alsace-Moselle.

"Begitu orang tidak menamai hal-hal seperti mereka, setiap kali ada orang
berkulit berwarna dankehitaman, atau nama Muslim, anda ditekan," ujar Douai.
Kabar tentang rencana pendirian masjid pada tahun 1998 itu pun sempat memicu
debat politik panas.

Roland Ries, mantan walikota Strasbourg kala itu yang membantu awal
pendirian masjid baru harus membayar harga politik cukup mahal. Ia
kehilangan jabatannya ketika partai pemerintah Sosialis tempat ia bernaung
dikalahkan pada pemilu lokal tahun 2001.

Walikota baru yang lebih 'kanan' merevisi proyek masjid tersebut. Ia hanya
mengijinkan bagian untuk ritual ibadah yang boleh dibangun, sementara pusat
studi dan auditorium, yang semula ada dalam rencana ia tolak.

Pemerintah baru tersebut juga menolak memberi ijin mendirikan menara masjid.
Baru pada tahun 2007 lalu konstruksi masjid benar-benar rampung. Hanya
menggantungkan dana dari upaya keras komunitas Muslim, konstruksi pun
berjalan sangat lambat.
*
Pelajaran*

Pemerintah meyakini terlepas dari rintangan yang ada, Alsace-Moselle harus
menjadi contoh bagi wilayah-wilayah lain di Perancis.

"Islam saat ini menjadi agama terbesar kedua di Perancis, seperti juga di
Alsace-Moselle," tekan Francois Grosdidier, walikota Woippy, sebuah kota
kecil di wilayah tersebut dimana sepertiga dari 15.000 penduduk adalah
Muslim.

"Sikap mengeluarkan Islam, justru mendorong Muslim untuk membangun masjid di
bawah tanah dan mencari dana luar negeri,"kata Francois.

Ada sekitar 1.700 tempat Ibadah umat Muslim di Perancis, negara yang menjadi
rumah bagi 6 hingga 7 juta Muslim di Eropa. Namun hanya sekitar 400 yang
resmi berbentuk masjid, sementara sisanya adalah ruang ibadah temporer di
dalam gimnasium, toko tak terpakai, atau ruang bawah tanah di apartemen dan
perumahan.

Sang walikota Francois meyakini, cepat atau lambat undang-undang dan
politisi Perancis bakal sadar akan perlunya mengakomodasi populasi Muslim.
"Saya kira kondisi saat ini tidak akan bertahan di Perancis," ujar Francois.
"Ini tidak bisa dilanjutkan," imbuhnya lagi./it


-- 
Aldo Desatura (R) & (c)

========
" Lebih mudah memaafkan orang yang salah daripada yang benar .... "

" Kekuasaan akan berjalan baik bila dipercayakan kepada orang yang tidak
mencarinya sebab dia akan berusaha menjalankan sebaik mungkin.. " Prof.
Albus Dumbledore


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke