18 Desember, 2008 - Published 10:23 GMT

 
                
Email kepada teman              Versi cetak
Cina belajar hidup di era reformasi
 
        

Deng Xiaoping dinilai berjasa menggulirkan reformasi
Tiga puluh tahun lalu, pemimpin Cina Deng Xiaoping menggulirkan 
serangkaian reformasi ekonomi besar-besaran. Wartawan BBC Michael 
Bristow mencermati dampak perubahan-perubahan besar itu pada warga 
biasa Cina.
Bagi orang yang menggangap penting santap malam, Yuebin Restaurant, 
yang tersembunyi di salah satu lorong jalan kota Beijing, mungkin 
bukan pilihan utama mereka.

Tidak banyak yang bisa dilihat pada dinding yang dipoles kapur dan 
perabot polos di tempat itu. Hidangan yang disuguhkan juga bergaya 
menu rumah tangga khas Beijing.

Namun, restoran itu lebih penting dari penampilannya. Tiga puluh tahun 
silam, Cina mulai melancarkan program reformasi yang mengubah negara 
itu, dan melanjutkannya hingga hari ini.

Yuebin merupakan restoran milik swasta pertama yang buka sejak 
mendiang pemimpin Cina Deng Xiaoping memulai reformasi 
revolusionernya.

Pergeseran kebijakan Deng, yang dinamai Reformasi dan Membuka Pintu, 
mengubah fungsi ekonomi Cina secara mendasar.

Di bawah Ketua Mao Zedong, semua dimiliki oleh negara, tapi reformasi 
memungkinkan perusahaan swasta, seperti Yuebin Restaurant, berkembang.

Rumah makan itu dibuka oleh Guo Peiji dan istrinya, Liu Guixian, pada 
tahun 1980 di rumah mungil mereka. Mereka masih mengelola restoran 
tersebut.

Ketika mereka mulai menjalankan bisnis, pasangan itu memiliki hanya 
beberapa meja dan kursi, dan mereka memasak sendiri sajian. Mereka 
membeli bahan yang mereka sanggup beli di pasar setempat.

"Pada hari pertama kami memiliki 36 yuan untuk membeli sayur dan 
bebek. Kami meraup untung sekitar 50 yuan," kenang Guo, yang kini 
berusia 75 tahun.

'Setan kapitalis'

Ketika restoran itu buka untuk kali pertama, tidak semua orang 
menyambut usaha tersebut.

        

Guo Peiji membuka usaha restoran swasta di Beijing
Pada zaman Revolusi Kebudayaan, kampanye politik yang kacau 
melumpuhkan Cina antara tahun 1966 dan 1976, bisnis swasta tidak 
diperkenankan.

Orang yang dianggap "setan kapitalis" bisa dijebloskan ke bui - atau 
bahkan dihadapkan ke nasib yang lebih buruk.

"Sebagian orang mengatakan, restoran ini kapitalisme. Namun, setelah 
satu tahun kemudian, banyak dari mereka yang menyatakan itu mulai 
menjual barang," kenang Guo.

Hasil reformasi ekonomi Cina sangat mencengangkan. Dalam beberapa 
tahun saja, puluhan juta warga Cina berhasil lolos dari kemiskinan.

Menurut data Bank Dunia, pendapat rata-rata di Cina baru $293 pada 
1985. Namun, angka itu melonjak ke $2.025 pada tahun 2006.

Masyarakat Cina juga menjadi longgar. Warga Cina kini mendapatkan 
kebebasan untuk memilih tempat hidup, jenis busana, dan karir.

Namun, terlepas dari manfaat material yang jelas muncul dari 
reformasi, sebagian warga masih bernostalgia soal masa lalu yang 
sering tampak lebih aman.

Reformasi menghapuskan banyak tunjangan gratis, termasuk kesehatan dan 
pendidikan, yang diharapkan warga. Sementara itu, korupsi kini tampak 
menjangkiti semua sektor masyarakat.

Pemerintah perlahan-lahan membangun kembali jaringan pengaman 
tunjangan sosial.

"Tiba-tiba orang mendapati bahwa mereka harus memikirkan banyak hal 
mengenai pendidikan anak-anak dan pekerjaan mereka," kata wartawan 
Cina Li Xing.

"Mereka mendapati bahwa ongkos berobat membengkak, sehingga mereka 
khawatir mereka tidak punya cukup uang untuk menutupnya," tambah Li.

Kesenjangan melebar

Dan, kendati reformasi mendatangkan manfaat bagi hampir semua orang, 
tidak setiap orang mendapat manfaat sebesar orang lain.

        

Anak-anak pekerja migran tidak menikmati tunjangan pendidikan
Keajaiban ekonomi Cina ditopang oleh pekerja migran, dan pemerintah 
mengatakan, jumlah mereka saat ini 210 juta.

Mereka adalah petani yang meninggalkan lahan garapan mereka untuk 
bekerja di kota.

Namun, anak-anak penduduk migran ini tidak berhak atas pendidikan 
gratis ketika mereka pindah.

Sekolah-sekolah khusus telah didirikan di kebanyakan kota, dan kendati 
mereka menerima dukungan terbatas dari pemerintah kota, sekolah-
sekolah tersebut umumnya bergantung pada SPP yang dibayarkan siswa.

        
 Saya bermimpi melihat anak-anak migran belajar di sekolah yang sama 
seperti anak-anak kota biasa

 
Zhang Gezhen
Kepala sekolah, Beijing
"Saya bermimpi melihat anak-anak migran belajar di sekolah yang sama 
seperti anak-anak kota biasa," kata Zhang Gezhen, kepala salah satu 
sekolah khusus tersebut, di salah satu kawasan kumuh di pinggiran 
Beijing.

Memberikan tunjangan yang memadai kepada seluruh masyarakat Cina akan 
menjadi tantangan utama dalam beberapa tahun ke depan, kata Presiden 
Bank Dunia Robert Zoellick - dan warga Cina tidak ingin menunggu 
terlalu lama untuk mendapatkan tunjangan tersebut.

"Tigapuluh tahun keberhasilan memperbesar pengharapan di Cina," kata 
dia kepada BBC.

"Ada itikat baik dan kebanggaan, tapi pada saat yang sama, kita 
mendapatkan generasi baru muncul dan mereka tidak akan bersabar," 
tambak Zoellick.

Namun, merumuskan yang dikehendaki warga dari reformasi masa depan 
tidak akan mudah di negara yang masih diperintah oleh satu partai 
tidak harus menguji popularitasnya di bilik suara.

Perubahan-perubahan luar biasa di bidang sosial dan ekonomi telah 
terjadi di Cina dalam tiga dekade ini, tapi reformasi politik terbatas 
- dan itu bisa menjadi masalah.

"Proses pengambilan keputusan adalah proses kelompok konsensus, tapi 
[para pemimpin Cina] menaruh perhatian besar ke gagasan bahwa mereka 
harus tanggap terhadap suasana batin publik," kata presiden Bank 
Dunia.

"Mereka tahu bahwa dari segala yang mereka telah capai dan keyakinan 
yang mereka raih, ini merupakan tantangan serius," katanya.

Kirim email ke