kepanjangan om, jd pengen ibadah mbacanya. nb : tidur ibadah juga kan.
On 9/19/07, hendro cahyono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > HUTANG KITA TERHADAP JOGJA > > Film Janur Kuning memang dahsyat! Film yang digarap tahun 1980-an mampu > > menggoreskan optimisme anak anak SD se-usiaku saat itu tentang apa arti > > pantang menyerah. Indonesia hampir kolaps. Meski sudah memproklamirkan > > diri sebagai negara merdeka, Agresi I dan II (1947-1948) oleh Belanda > seolaholah > > membuat proklamasi yang dibacakan Sukarno itu sia-sia. Tapi dengan > > sedikit tentara yang tersisa, Jogja saat itu ibu kota negara, selama 6 jam > > > berhasil dikuasai tentara rakyat. RRI selama beberapa jam > > mengumandangkan pekik "Merdeka" dan mengumumkan dengan bangga ke > > dunia internasional bahwa Indonesia masih ada! Andai saja 6 jam di Jogja > tak > > terealisasi, mungkin Konfrensi Meja Bundar yang mengantar penyerahan > > teritori Indonesia dari Belanda tidak akan pernah ada. Sayang, film itu > terlalu > > menonjolkan ketokohan Suharto. Bukan Panglima Sudirman yang > > sesungguhnya mempunyai andil besar dalam perlawanan yang heroik itu. > > Mengenang Jogja adalah mengurai arti perjuangan. Bukan hanya karena kota > > ini sarat akan sejarah berdirinya Republik Indonesia. Tapi Jogja adalah > kota > > perjuangan dalam arti yang sesungguhnya. Siapapun yang pergi Jogja > > mempunyai sebuah harapan untuk masa depan yang lebih baik, cita-cita yang > > tinggi, terutama dengan menyelesaikan studi di perbagai perguruan tinggi > di > > Jogja yang mencapai lebih dari seratusan. Jogja tidak menjanjikan uang > > sebanyak di Jakarta, atau bahkan kota kota besar lainnya di Jawa. Kalau > anda > > pengusaha, mungkin Jogja bukanlah alternatif yang tepat untuk > > mengembangkan usaha, kecuali mau mempertimbangkan pengeluaran > > mahasiswa yang pas-pasan.. Demikianlah, karena sebagian besar mahasiswa > > saya yakin juga hidup dalam kondisi perjuangan; Pengeluaran dan pemasukan > > yang selalu diawasi oleh orang tua. Bagi yang kuliah sambil bekarja tentu > > harus lebih prihatin lagi karena gaji UMR di Jogja sangat rendah. Lebih > rendah > > dari kota besar lainnya di Jawa. Saya pernah bertanya pramuniaga di > > Matahari Malioboro, Mirota Kampus Kaliurang, para penjaga counter HP di > > Ramai Malioboro, penjaga warnet di sekitar UII, dan penjaga wartel di > beberpa > > tempat. Gaji mereka sebulan sekitar Rp 200-300 ribu. ($25-35), padahal > > penjaga counter pakaian di Grage Mall Cirebon itu Rp 400 ribu... Oh ya, > teman > > saya yang kerja di kantor PLN juga becerita gajinya Rp 200.ribu. Tapi aneh > > semua yang saya tanya apakah cukup, semua mengatakan "ya dicukup > > cukupin-lah". Lebih aneh lagi adik kelas saya yang pernah nyambi sebagai > > ustadzah di sebuah pesantren di Jogja gajinya cuma Rp 75 ribu ($7,5) > sebulan > > (th1999an) dan dia berhasil tidak meminta kiriman rutin dari orang tuanya. > > > Jangan silau dengan mahasiswi mahasiswi cantik Jogja yang nyambi jadi > > pelayan di restauran atau counter counter HP. Gajinya tidak seberapa di > > bandingkan kota lain, apalagi di Jakarta misalnya. Oh ya, saya ingat gaji > > teman saya hanya lulus SMA yang jadi buruh non skill di Bekasi itu sekitar > Rp > > 800 ribu. Di Jogja, gaji sebesar itu lumayan bagus untuk bulan-bulan > pertama > > lulusan S1 Jogja. Saya pernah ngobrol dengan teman-teman lulusan UMY yang > > bekerja di bidang computer. Mereka terbengong-bengong dengan beasiswa > > bulanan saya di UGM yang jumlahnya melebihi gaji bulanan mereka. Saya > > baru tahu lulusan IT UMY-pun kalau belum established benar, bayarannya > > tidak lebih dari sekitar Rp 800 ribu. Teman teman S1 saya bilang "itu > sudah > > gede mas.". Jadi di Jogja lulusan skilled S1 gajinya sama dengan buruh > lulusan > > SMA di Bekasi. Perjuangan, artinya menyiasati hidup. Meski hanya Rp 250 > ribu > > ($30) sebulan mereka bisa hidup, bisa belajar, bahkan bisa juga sambilan > buat > > pacaran haha... Pelayan cantik di Mirota itu ternyata tiap pagi dan sore > > diantar-jemput pacarnya. Temanku, Siregar dari Batak, hari pertama gajian > > biasanya makan di Rumah Makan Padang Sederhana yang sekali makan > > (dibungkus) tarifnya sekitar Rp 10 ribu. Tapi pertengahan bulan sudah > > nongkrong di angkringan. Tiap malam menikmati nasi kucing dan susu jahe > > hanya dengan Rp 2.500 (2,5 cents). Minggu terakhir biasnya dia akan > > mengurangi jatah makanannnya. Aku hamper pasti yakin pengeluaran mbakmbak > > yang nyambi itu nggak cukup buat menjaga tata-rias dan penampilan > > yang harus segar setiap saat. Perjuangan itulah pelajaran yang sedang > > dijalankan oleh figur-figur mahasiswa di atas. Mereka berpikir bagaiamana > > menyiasati kekurangan kiriman dari rumah, atau menyambung hidup untuk > > meneruskan rencana cita-cita. Untungnya di Jogja banyak gerobak angkringan > > atau mbok-mbok yang menjual nasi deserta lauknya hanya sekitar Rp 2.000. > > (2 cents). Oh ya, saya dan teman teman biasa sarapan di si mbok belakang > > kost-ku. Nasi pake ayam suir-suir (sobekan daging ayam) hanya sekitar Rp > > 2.000. terkadang Rp 1.500 (1.5 cents). sudah plus pake air minum teh > anget, > > hmmm, murah benar!. Tengah malam sekitar jam 01-03 kalau lapar banget > > tinggal pergi ke pasar Gejayan. Di lesehan midnite itu bisa makan sambel > petai > > ikan, atau ayam dan sayuran seharga Rp 3.000-an (3 cents) Bagi para > > mahasiswa, Jogja memang menyediakan semua fasilitas belajar untuk hidup > > dalam perjuangan. Angkringan yang murah dan nonstop setiap waktu. Mbokmbok > > yang sayang dan perhatian sama mahasiswa. Pak RT yang tidak lupa > > mengundang slametan. Teman teman yang siap meminjami uang jika kiriman > > datang terlambat. Pacar yang juga tetap setia dan sabar meski lagi > bangkrut. > > Kios kios rental VCD yang menyediakan film film bajakan penghilang stress. > > Bahkan kata Emha Ainun Najib, pelacur pelacur Jogja itu murah murah juga > > menyesuaikan tarifnya dengan kondisi kota Jogja. Saat kos di Minomartani > > baru sadar kalau bapak semangku itu seorang germo di Sarkem. Katanya kalo > > mau, bisa datang kapan saja. "Banyak discount", rayunya. Aku yakin orang > > orang Jogja masih banyak menganggap hidupnya sama seperti saat nenek > > moyang mereka bersedia menjadi tameng Tentara Rakyat di hadapan serdadu > > Belanda. Mereka harus ikut melebur diri dengan perjuangan para pelajar dan > > > mahasiswa untuk meraih cita-citanya. "Teruskan kalian relajar untuk > > membangun negeri ini, biarkan kami yang menyediakan logistiknya...", > > mungkin begitu yang ada dalam benaknya. > > *** > > Masa "tirakat" bagi para pelajar mulai berhenti saat mereka sudah berhasil > > meraih degree akademiknya dan mendapatkan kerja. Hidup di Jogja atau di > > lain kota. Lain halnya dengan penduduk Jogja dan sekitarnya yang belum > > sempat meraih pendidikan tinggi dan hidup dalam ekonomi yang pas-pasan. > > Perjuangan dan tirakat bukan lah suatu fase hidup yang akan berakhir tapi > > sudah menjadi bagian hidup yang harus terus dijalani. Orang Jogja seakan > > sadar apa yang mereka lakukan adalah perjuangan mulia, berkorban untuk > > orang orang non Jogja dengan melupakan nasib mereka sendiri. Ibarat lilin > > mereka memberi penerangan tapi membiarkan mereka sendiri terleleh oleh > > api. Di sudut-sudut Malioboro kita bertemu orang jogja asli yang sepanjang > > hari menunggui becaknya mengais rezeki dari penumpang. Syukur ada turis > > yang mau naik becak. Jangan heran, hanya di Jogja yang punya tarif resmi > > becak. Di samping itu para penarik becak sangat lebih rapi dari pada > tukang > > becak di Pantura. Mereka mau antri, atau mempersilahkan temannya > > mendapatkan penumpang. Aku tahu penghasilan mereka kurang dari cukup > > tapi demikianlah kehidupan harus di jalani. Anda perlu tahu, kalau ke > Jogja > > tak usah ragu naik becak. Tarifnya sudah standar, aman, dan ramah karena > > mereka sebagian besar mendapatkan pembinaan dari dinas pariwisata Jogja. > > Setiap pagi, di saat para mahsiswa masih malas-malasan di atas kasur, > orang > > Jogja selatan (Bantul Gunung Kidul, Purworejo dan sekitarnya) sudah > > memenuhi jalan mempersiapkan semua keperluan utama industri akademik > > Jogja. Tukang sapu, buruh pasar, cleaning service, penjual sayur, nasi, > bubur > > ayam, security, buruh pabrik, tukang bangunan dan para pegawai rendahan > > lainnya berlomba memacu sepeda ontel dari selatan (Bantul dan sekitarnya) > ke > > utara pusat kegiatan Jogja. Mereka yang tinggal di desa-desa banyak yang > > tetap mengais rezeki di sawah atau ladang menyediakan komoditas makanan > > dan sayuran. Pukul 6, Ring-Road utara biasanya sudah ramai suara > hirukpikuk, > > senda-gurau dan saling sapa antar mereka. Agak siang sedikit orang > > Jogja yang sudah lebih baik pendidikannya berangkat kerja, ke Supermarket, > > atau toko-toko bukan milik orang Jogja yang berjamuran di pojok-pojok > kota, > > office boy di kantor-kantor, atau membuka dagangan di Malioboro. > > *** > > Jogja, dan orang orangnya punya karakter yang unik. Kenal mbah Maridjan 67 > > th penjaga gunung Merapi yang tidak mau turun gunung meski sudah > > diperintahkan Sultan Jogja?. Bagi dia berdo'a di kesunyian Merapi untuk > > keselamatan jiwa penduduk di punggung Merapi adalah kewajiban utamanya. > > Presiden SBY pun tak urung mengirim salam dengan mbah yang unik ini. Jawa, > > > khusunya Jogja memang khas. Masih ada orang seperti mbah Maridjan. Jangan > > heran mungkin hanya ada di pasar Beringharjo Jogja, ada laki-laki > (bertawaf) > > berkeliling pasar memakai pakaian kraton dan blangkon yang agak lusuh > > sambil membaca mantera. Tak sempat aku bertanya apa maksudnya, tetapi > > aku tahu ada 2 mantera; mantera untuk kebaikan dan mantera untuk > > kejahatan. Aku menduga laki laki itu sedang berdo'a untuk kebaikan pasar. > > Beberapa bulan setelah Tsunami melanda Aceh, ada kabar Jogja akan dapat > > giliran. Raja Jogja (tentu setelah berkonsultasi dengan penasihat > spiritualnya) > > memerintahkan masyarakat untuk memasak sayur lodeh 7 macam (9 macam?) > > bahan sayuran. Tak ayal hari hari itu sulit mendapatkan bahan sayur lodeh > di > > pasar. Aku ingat betul, keluarga dan tetangga temanku saat itu sedang > sibuk > > memasak sayur lodeh. Temanku mengeluh tidak mendapatkan kacang > > panjang di pasar. Pagi-pagi sudah diserbu pembeli, katanya. Tsunami lawan > > sayur lodeh... unik bukan?! Damarjati Supajar, filosof Jogja dan penasihat > > pribadi Sultan sering mencoba merasionalisasikan arti sayur lodeh. Tetap > saja > > susah dilogikakan. Yang jelas, masyarakat dari Wonosari di Gunung Kidul, > > sampai Kalikuning di Sleman percaya bahwa sayur lodeh telah meredakan > > tsunami. Mbah Maridjan, pria lelaku dan contoh2 lain di atas adalah > ungkapan > > khas tradisi Jawa yang khas dan rumit menjelaskannya. Damarjati Supajar > > selalu memulai dengan bertanya; lahir itu ada dari mana? Kemudian dia akan > > menerangkan filosofi Alun-alun Utara, Selatan, Siti Hinggil sampai Istana > Sultan > > yang menghadap gunung Merapi. "Bumi itu pusatnya di Jawa...", begitu mitos > > orangorang Jogja. Nies Mulder dan Marx Woodward menekankan sisi mistis > > Jawa yang sangat kental, dan selalu menjadi warna tradisi masyarakat Jawa > > sama seperti para antropolog pendahulunya meski penelitiannya dilakukan di > > tempat lain sepeti Hefner (di Tengger) dan Geertz (di Pare). Kalau aku > > mencerna dari orang orang Jogja, filosofi Jawa adalah filsafat Urip mung > > mampir ngombe (hidup di dunia ini sekedar mampir minum). Artinya sekedar > > singgah di rumah teman, café atau warung kopi. Sekedar menghilangkan > > dahaga. Sebagaimana orang mampir, maka karakteristiknya; harus mencoba > > menikmati apa yang dihidangkan, hormat terhadap tuan rumah, tidak terlalu > > bernafsu untuk mendapatkan yang lebih, selalu mawas dengan tujuan hidup > > setelah mampir "ngombe" yaitu kehidupan sebenarnya di rumah masingmasing > > (alam setelah dunia). Saat mampir di rumah orang, orang Jawa tahu > > akan banyak hal terjadi, mungkin menyenangkan, mungkin menyedihkan, > > tapi orang Jawa harus tetap tenang karena ingat itu terjadi hanya sebentar > > > dan sesaat. Pada waktunya semuanya akan berakhir. Bagiku mbah Maridjan, > > lelaki pembaca mantera dan sayur lodeh adalah local wisdom dalam rangka > > secara tradisonal melestarikan filosofi urip mung mampir ngombe.yang > > melingkupi jagat Jawa di Jogja. Syirik atau tidak tergantung niat dan > keinginan kita > > Mereka hanya mencoba secara > > kreatif mengelola secara tradisi hubungan mesra dengan Allah Gusti > Pangeran > > yang mereka yakini. > > *** > > Sudah hampir 1 tahun Musibah melanda Jogja, tetapi masih banyak > orang-orang pintar > > yang kekurangan uang buat sekolah dan bea hidup > > Kini para penyokong perjuangan generasi bangsa itu sedang menangis. > > Handaitaulan dan rumah mereka terberai dalam kesedihan. Para nelayan di > > Bantul yang menyediakan ikan dan bahan sayuran untuk para mahasiswa > > masih dalam kesengsaraan. Mereka selama ini adalah pribadi-pribadi tegar > > yang membantu para pelajar mahasiswa, sarjana dan profesor-profesor tanpa > > memprotes berapapun sedikit gaji yang mereka terima.. Pribadi-pribadi > tanpa > > serakah itulah yang menjaga Jogja tetap menjadi kota yang nyaman untuk > > "perjuangan" para pelajar. Saya yakin orang-orang Jogja seperti mereka > > adalah orang yang kuat secara batin. Mereka tidak akan terlalu lama > > menderita dengan musibah ini. Mereka sudah terlatih dengan sikap > > "optimisme" hidup mung mampir ngombe. Tetapi kita semua, Republik > > Indonesia, harus merasa berhutang dengan Jogja dan orang orangnya yang > > telah berandil besar dalam sejarah Indoensia masa lalu dan masa kini. > Dalam > > kehidupan pribadi atau bersama. Saya yakin salah satu dari profesor, > gurunya > > profesor, guru, teman, suami, istri, pacar, bahkan selingkuhan anda pasti > ada > > dan pernah berada di Jogja. Saat ini mungkin waktu yang paling tepat untuk > > > membayar hutang kita terhadap JOGJA. > > > -- > hendro > 0812 841 8958 > [EMAIL PROTECTED] > > -- [agiel] satu-satunya pria dengan rasa apel segar
