Dapet dr tetangga yg lagi ngintip semalem nih....




Udang di Balik Pertamax
Erie Sudewo
Social Entrepreneur
 
 
Empat tahun silam, dahi mulai berkerut saat Petronas bangun SPBU di Jakarta. 
SPBU Shell yang lebih dahulu hadir saja lengang. Sebab siapa rela beli bensin 
mahal. Tiap melongok, cuma satu dua mobil yang isi bensin. SPBU Shell terbaru 
di tol Jagorawi, pun tak kalah sepi. SPBU Petronas di jalan Ir. Juanda Ciputat 
atau di Cibubur, yang ramai tempat jajannya. Namun Petronas tetap ‘maju tak 
gentar’. Saat ini yang tengah dibangun, di antaranya di jalan Veteran Tanah 
Kusir Bintaro.
 
Ada udang, ada batu. Itu biasa. Ada udang di balik batu, itu juga biasa. Yang 
tak biasa, Shell buangbuang dollar, Petronas hamburhambur ringgit. Pebisnis 
kecil, jauh-jauh hari pasti sudah KO. Bertahun-tahun cuma biayai, jelas tak 
sehat. Soalnya, mengapa tetap mentereng? Malah Petronas terus merangsek dengan 
kinclong warna hijaunya. Sedang Shell tetap menguas corporate color-nya yang 
merah kuning.
 
Misteri itu akhirnya tersibak juga. Awal 2008 pemerintah bertekad. Mulai Mei 
‘08, Premium berangsur ditiadakan. Pemerintah katanya tekor terus. Subsidi BBM 
2007 naik Rp 56 triliun. Tahun 2006 subsidi cuma Rp 46 triliunan. Total subsidi 
BBM 2007, jadi Rp 102 triliun.
 
Maka pemerintah harus rasional soal subsidi. Yang jadi soal, jika hendak lepas 
subsidi, mengapa Premium di-Pertamax- kan? Ini dua soal berbeda. Melepas 
subsidi, bukti pemerintah gagap. Bukan seolah, pemerintah benarbenar tak mau 
tanggung jawab. Lantas ubah Premium ke Pertamax, ini jelas bisnis. Usai 
digoreng, udang di balik batu memang gurih. Jika Premium dihabisi, yang 
termurah tinggal Pertamax.
 
Siapa untung? Shell dan Petronas tepuk tangan. Sebab bensin yang mereka siapkan 
memang di kelas itu. Jika hingga sekarang mereka tak laku, ini cuma soal waktu. 
Investasi image perlu. SPBU mereka memang lebih keren tertata.
 
Ruaaar biasa. Ini strategi yang hanya bisa dilakukan pemain raksasa. Terutama 
lobby politiknya yang tak dimiliki sembarang pebisnis. Jika anda asing, anda 
bakal dapat full services dan privellege sana sini. Sayangnya kulit anda (maaf) 
‘sawo busuk’. Jika ingin dapat segalanya, sehebat apapun anda tetap musti 
berkolaborasi dengan asing. Jika tak ada apa-apanya, mustahil non Pertamina 
bisa buka SPBU di tol Jagorawi. Jika bukan dengan politik, tak mungkin 
penambang-penambang asing begitu liar mereguk minyak Indonesia. Tetesannya yang 
tersisa seperti di Blok Cepu, itulah yang kini diperebutkan pemain lokal.
 
Soal ‘bisnis politik’, sejarawan Onghokham telah ingatkan. Dalam berdagang, 
lobby VOC selalu dibayang-bayangi meriam. Mahathir Muhammad juga tegaskan. 
Bahwa cara berdagang mereka berbeda dengan Asia. Mereka tak segan kerahkan 
segala cara dan sumber daya. Dalam mengubah paradigma, mindsetnya telah ditanam 
dengan pendidikan. Untuk kuasai sumber daya, mereka invest utang 
sebanyak-banyaknya. Karena tak kuat bayar, konsensi pun dituntut. Maka ada 
pertanyaan usai krisis 1998. Mengapa bantuan untuk pemilu hibah, sedang untuk 
fakir miskin utang?
 
Dalam mengerat kekuatan negara, globalisasi diusung dengan pendekatan 
multinational corporate. Professional dan entrepreneurship, begitu biduk 
pemandunya. Kerjasama dengan asing tak salah. Asal bagi hasilnya adil. 
Franchaise pun tak bisa dicegah. Yang untung dan buntung pasti ada. Di sektor 
pemberdayaan, NGO telah lama mengakar. Dengan pendekatan kultural, capacity 
building tak lagi asing. Bahkan bagi pemulung sekalipun. Pencerahan memang 
telah terjadi. Tetapi berapa banyak yang mafhum hidden agenda-nya.
 
Dalam menguasai sumber daya, mereka yang asing memang harus bersiasah. Itu sah, 
lumrah dan wajar saja. Yang tak wajar, kita. Dalam pandangan awam, mengapa kita 
yang punya sumber daya tapi cuma dapat porsi kecil. Kita penuhi kebutuhan 
mereka, tapi tak peduli untuk rakyat sendiri. Jika ada Hugo Chavez atau 
Mahathir di Indonesia, episodenya mungkin lain. Namun apa yakin? Dengan carut 
marut peta politik kita, mungkin Hugo Chavez dan Mahathir pun tak jadi apa-apa 
di Indonesia. Keduanya pasti habis diakali dan dikhianati.
 
Sebagian pejabat dan politikus kita, punya kesamaan tabiat. Jabatan dan 
kedudukan adalah peluang. Tanggung jawab, no waylah. Begitu asing masuk, ini 
jalan tol maksimalkan peluang. Maka set up-nya jauh-jauh hari. Yang sadar, 
undur diri seperti saat Indosat dibeli Temasek. Ini idealisme. Yang mendukung 
ada. Yang mencibir, mungkin lebih banyak lagi. Saat KPPU ketok palu, pro dan 
kontra meletup. Meneg BUMN tak sependapat. Sebagian karyawan juga protes atas 
keputusan KPPU. Ini jadi cermin. Problem kita tak satu bahasa. Antara tanah air 
dan ‘zona nyaman’, kini seperti air dan minyak. Jika anda ingin bela tanah air, 
siap-siaplah ditertawai. Katanya: ‘Hari gene masih ada Pahlawan Kesiangan’. Mau 
coba?
 
()
http://www.republik a.co.id/koran_ detail.asp? id=325436&kat_id=515
 
 . 
 


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke