Timbuktu Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa
Indonesia. Langsung
ke: navigasi <http://id.wikipedia.org/wiki/Timbuktu#column-one>,
cari<http://id.wikipedia.org/wiki/Timbuktu#searchInput>
 Timbuktu*  Situs Warisan Dunia
UNESCO<http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Warisan_Dunia>
------------------------------
[image: Masjid 
Djinguereber]<http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Djingareiber_cour.jpg>
*Negara 
Peserta<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tabel_Situs_Warisan_Dunia_berdasarkan_Negara_Peserta&action=edit&redlink=1>
* [image: Bendera_Mali]<http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Flag_of_Mali.svg>
 Mali <http://id.wikipedia.org/wiki/Mali>  *Tipe* Budaya
*Kriteria<http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Warisan_Dunia>
* ii, iv, v  *Referensi* 119 <http://whc.unesco.org/en/list/119>  *Wilayah*†
Afrika <http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika>  *Sejarah prasasti*  *Prasasti
resmi* 1988  (Sesi <http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Warisan_Dunia> 12th)
*Terancam<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Daftar_Situs_Warisan_Dunia_yang_terancam&action=edit&redlink=1>
* 1990-2005  * Nama resmi dalam Daftar Warisan
Dunia.<http://whc.unesco.org/en/list>
† Menurut klasifikasi resmi
UNESCO.<http://whc.unesco.org/en/list/?search=&search_by_country=&type=&media=&region=&order=region>

*Timbuktu* (Koyra
Chiini<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Koyra_Chiini&action=edit&redlink=1>:
*Tumbutu*, bahasa Perancis <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Perancis>: *
Tombouctou*) adalah sebuah kota di Mali <http://id.wikipedia.org/wiki/Mali>,
Afrika Barat <http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika_Barat>. Kota ini adalah
rumah dari Universitas
Sankore<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Universitas_Sankore&action=edit&redlink=1>dan
madrasah<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Madrasah&action=edit&redlink=1>lainnya,
dan juga, kota ini adalah pusat dari penyebaran
Islam <http://id.wikipedia.org/wiki/Islam> di
Afrika<http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika>pada abad ke-15 dan abad
ke-16. 3 Masjid utamanya,
Djingareyber<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Masjid_Djinguereber&action=edit&redlink=1>,
Sankore<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sankore&action=edit&redlink=1>dan
Sidi
Yahya<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sidi_Yahya&action=edit&redlink=1>,
mengingatkan kembali kepada zaman keemasan Timbuktu. Walaupun terus bangkit,
monumen ini sekarang dibawah ancaman dari
desertifikasi<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Desertifikasi&action=edit&redlink=1>
.[1] <http://id.wikipedia.org/wiki/Timbuktu#cite_note-0>

Kota ini dihuni oleh suku
Songhay<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Songhay&action=edit&redlink=1>,
Tuareg <http://id.wikipedia.org/wiki/Tuareg>,
Fulani<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fulani&action=edit&redlink=1>,
dan Moor <http://id.wikipedia.org/wiki/Moor>. Kota ini sering kali dibilang
terletak di Sungai Niger <http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Niger>, namun
sebenarnya terletak 15 km utara sungai itu. Kota ini juga berada di daerah
persimpangan dari Perdagangan
Trans-Sahara<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perdagangan_Trans-Sahara&action=edit&redlink=1>baik
dari barat ke timur, sampai utara ke selatan. Kota ini dulu dan
sekarang, merupakan tempat penyaluran natrium
klorida<http://id.wikipedia.org/wiki/Natrium_klorida>dari
Taoudenni<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Taoudenni&action=edit&redlink=1>

Letak geografisnya membuatnya sebuah tempat pertemuan alami bagi populasi
Afrika di sekitarnya dan suku Berber <http://id.wikipedia.org/wiki/Berber>yang
nomaden <http://id.wikipedia.org/wiki/Nomaden> dan orang Arab dari utara.
Sejarahnya yang panjang sebagai pos perdagangan yang menghubungkan Afrika
Barat dengan Berber, Arab dan Yahudi melalui Afrika Utara, dan juga secara
tidak langsung dengan pedagang dari Eropa<http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa>,
telah memberikannya status fabel, dan di barat, dia merupakan sebuah
metafora untuk tanah jauh yang eksotik. Kontribusi Timbuktu yang panjang
kepada kebudayaan Islam dan dunia adalah pelajar.

Kontribusi Timbukti terhadap dunia Islam adalah ilmu pengetahuan.[2] Pada
abad ke-14 banyak buku penting ditulis dan dikopi di Timbuktu, membuat kota
ini sebagai pusat tradisi tertulis penting di Afrika.
  Daftar isi [sembunyikan <javascript:toggleToc()>]

   - 1 Asal mula <http://id.wikipedia.org/wiki/Timbuktu#Asal_mula>
   - 2 Cerita dongeng <http://id.wikipedia.org/wiki/Timbuktu#Cerita_dongeng>
   - 3 Pranala luar <http://id.wikipedia.org/wiki/Timbuktu#Pranala_luar>
   - 4 Referensi <http://id.wikipedia.org/wiki/Timbuktu#Referensi>

   
[sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Timbuktu&action=edit&section=1>
] Asal mula

Timbuktu didirikan oleh suku Tuareg
<http://id.wikipedia.org/wiki/Tuareg>pada awal abad ke-10. Menurut
etimologi populer, namanya dibuat dari
*tin* dimana berarti *tempat* dan *buktu*, nama dari wanita tua Mali yang
diketahui karena kelurusan hatinya dan yang suatu hari tinggal di daerah
itu. Tuareg <http://id.wikipedia.org/wiki/Tuareg> dan pengelana lainnya
mempercayakan wanita ini barang yang mereka tidak digunakan saat kembali
dari kunjungannya ke utara. Hingga, saat Tuareg kembali ke rumahnya, ia
ditanya dimana ia meninggalkan barangnya, lalu ia menjawab: *Saya
meninggalkannya di Tin Buktu*, Tin Buktu berarti tempat dimana seorang
wanita yang bernama
Buktu<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Buktu&action=edit&redlink=1>tinggal.
2 hubungan ini akhirnya bergabung menjadi 1 kata, dan memberikan
kota ini nama *Tinbuktu* yang nantinya menjadi *Timbuktu*. Namun, orang
Perancis yang bernama René Basset memberikan teori yang lebih masuk akal:
pada bahasa Berber, "*buqt*" berarti ""sangat jauh", karena itu,
"Tin-Buqt(u)" berarti tempat yang merupakan ujung dunia, karena itu orang
menggambarkan dirinya pergi ke ujung dunia dengan pergi ke Timbuktu.
[1]<http://www.isesco.org.ma/Capitales2006/Tombouktu/ENG/P1.htm>

Seperti pendahulunya,
Tiraqqa<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tiraqqa&action=edit&redlink=1>,
kota perdagangan yang bertetangga dengan
Wangara<http://id.wikipedia.org/wiki/Wangara>,
Timbuktu berkembang menjadi sangat kaya karena peran kuncinya dalam Perdagangan
Trans-Sahara<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perdagangan_Trans-Sahara&action=edit&redlink=1>dengan
komoditi
emas <http://id.wikipedia.org/wiki/Emas>,
gading<http://id.wikipedia.org/wiki/Gading>,
budak <http://id.wikipedia.org/wiki/Budak>,
garam<http://id.wikipedia.org/wiki/Garam>,
dan komoditi lain dari pedagang Tuareg,
Moor<http://id.wikipedia.org/wiki/Moor>dan
Fulani<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fulani&action=edit&redlink=1>.
Jika Sahara berfungsi sebagai laut, Timbuktu adalah pelabuhan utamanya. Kota
ini juga merupakan kota utama dalam beberapa kekaisaran: Kerajaan
Ghana<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kerajaan_Ghana&action=edit&redlink=1>,
Kerajaan 
Mali<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kerajaan_Mali&action=edit&redlink=1>dari
tahun
1324 <http://id.wikipedia.org/wiki/1324>, dan Kerajaan
Songhai<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kerajaan_Songhai&action=edit&redlink=1>dari
tahun
1468 <http://id.wikipedia.org/wiki/1468>, pendudukan kedua dimulai saat
kekaisaran menyingkirkan kepemimpinan Tuareg yang telah mendapatkan
kekuasaan. Kota ini mencapai kejayaannya pada abad ke-16.

Pemimpin Kerajaan Songhai mulai mengekspansi kekuasaannya di sungai Niger.
Seperti kerajaan Ghana dan Mali yang telah hilang di daerah itu pada abad
sebelumnya, Songhai berkembang lebih kuat karena kekuasaannya terhadap rute
perdagangan lokal. Timbukti segera menjadi jantung kekaisaran Songhai. Kota
ini menjadi kaya karena banyak pedagang yang berkelana di rute perdagangan
berhenti disitu.

[sunting<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Timbuktu&action=edit&section=2>
] Cerita dongeng

Cerita tentang kekayaan Timbuktu membuat adanya eksplorasi orang
Eropa<http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa>di pantai barat Afrika. Leo
Africanus<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Leo_Africanus&action=edit&redlink=1>,
Ibn Battuta <http://id.wikipedia.org/wiki/Ibn_Battuta> dan
Shabeni<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Shabeni&action=edit&redlink=1>mendeskripsikan
tentang Timbuktu.

Timbuktu juga dikatakan berasal dari nama wanita Tuareg bernama Buktu yang
menggali sumur di daerah ini dimana kota ini berdiri, dimana berarti "sumur
Buktu".


On Mon, May 19, 2008 at 10:50 AM, fajar fajar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   sedikit tentang timbuktu
>
> Timbuktu, also spelled TOMBOUCTOU, is a city in the West African nation of
> Mali. It is historically important as a post on the trans-Saharan caravan
> route. It is located on the southern edge of the Sahara, about 8 mi (13 km)
> north of the Niger River. Timbuktu was a centre for the expansion of Islam,
> an intellectual and spiritual capital at the end of the Mandingo Askia
> dynasty (1493-1591) and home to a prestigious Koranic university. Three
> great mosques built at that time, using traditional techniques, still
> remain.
>
> Timbuktu was founded about AD 1100 as a seasonal camp by Tuareg nomads.
> After it was incorporated within the Mali Empire, probably in the late 13th
> century, the Mali sultan, Mansa Musam, built a tower for the Great Mosque
> (Djingereyber) and a royal residence, the Madugu (the former has since been
> rebuilt many times, and of the latter no trace now remains). Shortly after
> this the city was annexed by the Mossi kingdom of Yatenga, but when the
> North African traveller Ibn Battutah visited in 1353, he found it again
> governed by Mali.
>
> In the 14th century Timbuktu became an important focal point of the
> gold-salt trade. With the influx of North African merchants came the
> settlement of Muslim scholars. It made little difference that the Tuareg
> regained control of the city in 1433; they ruled from the desert, and,
> though they plundered periodically, trade and learning continued to
> flourish.
>
> In 1468 Timbuktu was conquered by Sonni 'Ali, the Songhai ruler. He was
> generally ill-disposed to the city's Muslim scholars, but his successor--the
> first ruler of the new Askia dynasty, Muhammad I Askia of Songhai (reigned
> 1493-1528)--reversed the policy and used the scholarly elite as legal and
> moral counsellors. During the Askia period (1493-1591) Timbuktu was at the
> height of its commercial and intellectual development. Merchants from Wadan,
> Tuwat, Ghudamis (Ghadames), Augila, and the cities of Morocco gathered there
> to buy gold and slaves in exchange for the Saharan salt of Taghaza and for
> North African cloth and horses. The city's scholars, many of whom had
> studied in Mecca or Egypt, attracted students from a wide area.
>
> The city declined after it was captured by Morocco in 1591. Two years later
> the city's scholars were arrested on suspicion of disaffection; some were
> killed during a struggle, others were exiled to Morocco. The small Moroccan
> garrisons could not protect the Niger Bend, and Timbuktu was repeatedly
> attacked and conquered by the Bambara, Fulani, and Tuareg until 1893, when
> the French captured the city. The French partly restored the city from the
> desolate condition in which they found it, but no railway or tarmac road
> ever reached it. In 1960 it became part of the newly independent Republic of
> Mali.
>
> Timbuktu is now an administrative centre of Mali. Small salt caravans from
> Taoudenni still arrive in winter, but there is no gold to offer in exchange,
> and trans-Saharan commerce no longer exists. Although there is air service,
> the city remains most easily accessible by camel and boat. Islamic learning
> survives among a handful of aging scholars, and a Lyc e Franco-Arabe teaches
> Arabic to the younger generation. Pop. (1976) 19,165.
> giel..
> terjemahin..gw kagak paham basa ne wong londo
>
>

-- 
[agiel]
B 6115 KKU
-ordinary black scorpio-

Kirim email ke