---------- Forwarded message ----------
From: Asep F <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/5/19
Subject: [yamaha_scorpio] [oot] Kisah Konyol Seputar Berkendara Dengan
Sepeda Motor
To:


  Dari http://community.kompas.com/index.php/read/artikel/114

Kisah Konyol Seputar Berkendara Dengan Sepeda Motor
*Yovita Siswati - Jakarta - *

*Cerita ini adalah hasil obrolan ngalor ngidul antara saya dan beberapa
orang teman, di suatu acara makan siang di hari Jum'at menjelang akhir
pekan.  *

Semua teman yang berkumpul saat itu adalah pengguna setia sepeda motor,
paling tidak untuk perjalanan dari dan ke tempat kerja, biarpun tersedia
sarana angkutan lainnya, baik umum maupun non umum. Walaupun kendaraan roda
dua kami sering mendapat perlakuan diskriminatif dari pengelola
gedung-gedung bertingkat tempat kami bekerja, walaupun kendaraan kami
biasanya tidak bisa masuk lewat gerbang utama, melainkan harus masuk lewat
pintu samping atau pintu belakang yang tidak terlihat oleh para bos ataupun
tamu gedung lainnya,  walalupun tempat parkir untuk kendaraan kami ini
biasanya tidak manusiawi dan biasanya pula jaraknya jauh sekali dari lokasi
pintu masuk utama, kami memilih untuk tetap setia pada si roda dua ini.

Terlepas dari nasib kami, para pengendara sepeda motor, yang seringkali
dimarjinalkan, banyak sekali kisah-kisah unik dan lucu yang bisa membuat
pengalaman kami bersepeda motor ini menjadi suatu kenangan yang
menyenangkan. Berikut ini adalah sedikit dari banyak kisah yang pernah kami
alami.

Cerita pertama adalah tentang teman saya yang takut sekali pada palang pintu
otomatis di tempat parkir. Phobia. Entah phobia apa namanya. Si Phobia ini
(supaya mudah, saya sebut saja Si Phobia) takut sekali sewaktu-waktu palang
pintu itu akan rubuh dan menimpa kepalanya. Untuk menghindari resiko
kerubuhan palang, Si Phobia selalu saja langsung tancap gas setiap kali
selesai membayar parkir, takut palangnya nanti keburu turun sebelum dia
sempat melintas.

Suatu saat dia yang saat itu sedang berboncengan dengan seorang teman
lainnya hendak keluar dari tempat parkiran. Seperti biasa, tidak ada yang
aneh, setelah mengantri sekian lama, sampai juga di 'kasir' parkiran,
setelah membayar, seperti biasanya pula, Si Phobia langsung tancap gas.
Tepat pada saat melintas di bawah palang terdengar suara 'krek!' dan motor
menjadi oleng. Si Phobia, langsung menjerit-jerit sambil memegang
kepalanya.. "kepalaku..!!" kepalaku…!!" Si Phobia yang merasa sudah mau mati
itu merasa heran, kenapa tidak ada satupun orang yang berlari ke arahnya
untuk menawarkan bantuan.

Saat menoleh ke belakang…ternyata… temannya yang tadinya duduk manis di atas
boncengan sedang terkapar di tanah dan dikerumuni beberapa orang yang sibuk
menolong. Rupaya palang itu tadi jatuh menimpa teman yang dibonceng… Waduh..
bukan main malunya Si Phobia. Tapi untung, tidak ada orang yang tega untuk
tertawa pada saat itu. Ada beberapa orang yang menawarkan bantuan untuk
mengantar si teman ke rumah sakit, tetapi karena si teman itu tidak muntah,
tidak pusing, masih bisa berdiri dan cengengesan serta masih ingat namanya
sendiri  dan juga masih mampu menghitung satu sampai 10, maka perjalananpun
dilanjutkan. Rupanya memang palang itu sedang rusak. Seorang petugas parkir
wanita lalu mendapat tugas untuk memegangi palang itu, supaya tidak jatuh
menimpa pengendara motor berikutnya.

Kasian teman saya yang tertimpa palang, kasian juga teman saya si Phobia,
yang sudah terlanjur malu, katanya pula 'daripada malu lebih baik jatuh
tertimpa palang..'…tetapi… .lebih kasihan lagi si mbak petugas parkir yang
mendapat tugas untuk memegangi si palang. Entah sampai kapan tugasnya itu
berakhir...

Cerita kedua tentang teman saya yang nekat naik motor walaupun sedang hamil
muda. Saat itu dia sedang heboh-hebohnya mengalami morning sick. Saat sedang
berada di atas motor, tiba-tiba dia merasa ingin muntah. Karena sudah tidak
tahan lagi, maka muntahlah dia, dan malangnya dia lupa melepas helm 'full
face'nya, Jadi bisa dibayangkan bagaimana rasanya bila residu sisa-sisa
makan pagi melekat di seputar kepala, mulai dari ubun-ubun hingga leher.
Sangat menjijikkan. Helm itu pun, nasibnya tak kalah tragis, menemui ajal di
tong sampah…

Cerita ketiga terjadi sewaktu hujan deras, lagi-lagi cerita ini milik teman
saya. Waktu itu teman saya baru saja selesai mengisi bensin dan hendak
menyalakan mesin motornya kembali. Dia mencoba beberapa kali menekan tombol
starter, tetapi mesin motor tidak kunjung hidup. Teman saya menjadi panik,
sementara hujan juga tambah deras, dia coba untuk menstarter motor dengan
engkol. Gagal juga. Teman saya lalu minta bantuan pada petugas SBPU. Si
petugas datang membantu, tetapi mesin motor tetap tidak mau hidup.

Orang-orang yang datang membantu semakin banyak, mengerumuni teman saya dan
motornya. Ada juga yang memberi usul supaya motor teman saya itu dibongkar
sebentar untuk diperbaiki. Tiba-tiba seseorang yang ikut mengerumuni teman
saya nyeletuk '..yah si Eneng…pantes aja motornya gak bisa hidup, itu kunci
motornya sudah diputar belum…'.. Alamak…rupanya karena panik, teman saya
lupa untuk memutar kunci kontak ke posisi on. Biar dikasih mantra dan
dimandikan air kembang tujuh rupa sekalipun, mana mungkin motor itu mau
hidup. Orang-orang yang berkerumun itu pun langsung pada ngedumel, ada juga
yang tertawa, sementara teman saya sendiri cukup cengengesan saja, karena
dia sendiri juga kehabisan kata-kata setelah sukses menjadi tontonan orang
banyak. Hujan memang bisa membuat kita jadi kehilangan akal.

Cerita terakhir….this is the best part. Teman saya biasa menunggu suaminya
di halte bis di depan kantornya untuk selanjutnya berboncengan naik sepeda
motor menuju rumah. Saat itu lagi-lagi sedang hujan deras. Saat sampai di
halte, teman saya melihat seorang pria mengenakan helm sedang duduk di atas
sepeda motor Honda Supra X, serta merta teman saya langsung naik ke atas
boncengan motor itu  dan motor itu pun segera melaju. Tiba-tiba dari arah
belakang teman saya mendengar suara orang berteriak-teriak. Teman saya tidak
menoleh, karena merasa teriakan itu tidak ditujukan untuknya. Tetapi semakin
lama, suara teriakan itu menjadi semakin jelas. Semakin didengarkan, semakin
teman saya menjadi curiga, suara orang yang berteriak itu kenapa mirip
sekali dengan suara suaminya. Teman saya menoleh dan disana…..dia melihat
suaminya sedang memacu motornya sambil berteriak-teriak "Hei…Jangan bawa
lari istriku…!!" Teman saya kaget, kalau suaminya ada di motor belakang,
lalu siapa pria yang saat itu sedang dia peluk mesra? Spontan dia minta
motor itu berhenti 'Stop Stop!!! Siape Lu?? Mau nyulik gua lu ya?? Orang itu
juga kaget, dia malah balik bertanya "Lho…mana bini gua??…siapa juga lu??"

Suasana jadi ribut. Suami teman saya juga sewot, dia berkata pada teman saya
"Kalau mau selingkuh jangan di depan mata  gitu dong caranya…" Wuah, teman
saya jadi bingung…'siapa yang mau selingkuh??' Orang-orang berusaha melerai
suasana baku hantam yang nyaris terjadi antara suami teman saya dengan si
pengendara motor. Setelah suasana dingin, barulah terungkap. Rupanya si
pengendara motor yang dilihat teman saya di halte itu bukan suaminya, karena
motornya mirip dan perawakan si pengendara motor itu juga mirip dengan
suaminya, teman saya itu menyangka si pengendara itu adalah suaminya,
apalagi waktu itu wajah si pengendara motor tertutup helm. Sementara itu, si
pengendara motor itu juga sedang menunggu istrinya di halte. Waktu teman
saya naik ke atas boncengan, dia kira itu adalah istrinya, apalagi perawakan
tubuh teman saya itu sama dengan perawakan istrinya. Karena waktu itu hujan,
prosedur cek dan recek tidak dilakukan, maka terjadilah salah paham ini….

Woalah…untung saja semuanya bisa diluruskan, kalau tidak kesalahan seperti
inilah yang bisa fatal akibatnya… Naik sepeda motor memang tiada duanya….

***untuk teman-teman saya, terimakasih atas cerita-ceritanya**
 *

*Kind Regards,*
*Yovita Siswati - Jakarta*

-- 
AF
schwarzes SZ
 



-- 
[agiel]
B 6115 KKU
-ordinary black scorpio-

Kirim email ke