Widyawati Tak Ingin Kebohongan
Mengenai Sebab Kematian Suami

Jakarta - Kematian aktor sekaligus politikus Sophan Sophiaan menyisakan
tanda tanya. Sang istri, Widyawati, mempersoalkan itu terkait dengan
penemuan beberapa fakta.

Widyawati yakin, jika sekadar jatuh dari sepeda motor Harley Davidson Ultra
Classic Glide berkapasitas 1.600 cc, Sophan tidak akan langsung meninggal.
"Biasanya, kalau kecelakaan motor besar itu paling-paling patah," kata
Widyawati yang tidak sanggup meneruskan perkataannya saat ditemui di
rumahnya kemarin (3/9).

Berdasar fakta yang dia punya, Widyawati tidak ingin lagi ada kebohongan
publik. "Saya minta, apalagi ini di bulan Ramadan, untuk mengetuk pintu hati
mereka agar bicara sejujur-jujurnya. Seperti apa *sih* sebenarnya supaya
saya juga enak," sindirnya.

Banyak yang memberi tahu Widyawati bahwa kematian Sophan bukan murni
kecelakaan. "Banyak pihak yang mengatakan ditabraklah, ketabraklah,"
ucapnya. Widyawati mengaku sesungguhnya sudah ikhlas dengan kematian
suaminya. Hanya, menurut dia, perlu dipertegas penyebabnya.

Lantas, kenapa baru sekarang dibahas? "Memang saat kejadian itu, saya panik
dan tidak bisa berpikir apa-apa. Yang saya *pikirin*, saya ditinggal suami.
Yang saya *pikirin* itu," jelasnya.

Setelah sekitar seminggu Sophan meninggal, Widyawati mulai memperhatikan
barang-barang peninggalan sang suami. Terutama benda-benda yang dipakai
dalam perjalanan. "Saya lupa, seminggu saya dikirim barang-barang (milik
Sophan, Red). Tapi, barang-barang itu disimpan saja di kamar,
*nggak*diperhatikan. Sekitar dua minggu setelah beres-beres, saya
menemukan dua
surat dari kepolisian Jawa Timur," ungkapnya.

Ternyata, menurut dia, surat itu sudah digunting. Entah siapa pelakunya.
Satu surat berisi ucapan belasungkawa, satunya lagi laporan kemajuan. "Ada
tembusannya, tapi *nggak* ada suratnya. Yang saya tanya, siapa yang buka dan
siapa yang ambil surat itu?" ujar widyawati, yang hingga sekarang masih
trauma mendengar suara motor Harley Davidson.

Widyawati menambahkan, berdasar hasil rontgen terhadap jasad suaminya,
terbukti rahang Sophan patah. Tulang punduk juga patah, di samping bagian
badan yang lain, terutama tulang rusuk. (gen/tia)


On 5/30/08, Barnabas Rahawarin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 Dear All,

Sejak diberitakan meninggal hingga akhirnya saya terpanggil menurunkan lagi
pertimbangan dan pendapat hukum saya kepada Anda, bayang almarhum
SophanSophian mendesak untuk mengusik penanganan pasca kecelakaan
lalu-lintas yang
menimpa almarhum.

Beberapa indikator yang diangkat dan selanjutnya dapat didebat seputar
profesionalisme Kepolisian, adalah sebagai berikut:

1. Kurang dari dua jam setelah peristiwa kecelakaan lalu lintas, Polisi
secara resmi telah mengumumkan, bahwa kematian Sophan Sophian disebabkan
KECELAKAAN TUNGGAL, yang menyebabkan luka parah dan nyawa almarhum tidak
dapat tertolong dalam perjalanan ke RS.
2. Keterangan seorang (beberapa?) saksi mata yang mengatakan telah melihat
KECELAKAAN BERUNTUN sama sekali tidak digali oleh pihak Kepolisian.
3. Keesokan harinya, jalan di mana telah terjadi kecelakaan TELAH DIASPAL.
4. Beberapa media MENGGEMBAR-GEMBORKAN isu bahwa kerusakan jalan raya di
seputar locus delicti telah menelan 40 orang lebih dalam kurun waktu dua
bulan terakhir.
5. Di mana rombongan MOGE (motor gede) MERAH PUTIH setelah almarhum
dinyatakan meninggal? Mereka TETAP MELANJUTKAN kegiatan tur.
6. Pernyataan Ketua Penyelenggara acara tersebut (namanya???), bahwa
Almarhum memang mengalami kecelakaan tunggal secara berulang di media cetak
dan elektronik.

Catatan kritis-legal:

ad.1. Polisi telah elakukan suatu pengumuman YANG TERLALU DINI dan DI BAWAH
STANDAR untuk seorang figur setingkat Sophan Sophian. Almarhum memang bukan
mantan presiden ataupun menteri, tetapi pengumuman atau pernyataan polisi
tidak proporsional, apalagi adanya faktor-faktor lain di bawah.

ad2. Keterangan seorang (atau lebih) saksi mata bahwa ADANYA KECELAKAAN
BERUNTUN yang berbeda dari keterangan POLISI  dan PIHAK PENYELENGGARA
menimbulkan pertanyaan: Siapa yang benar? Pertanyaan yang sebenarnya tidak
perlu untuk dipertentangkan, karena akhirnya Polisi jugalah yang harusnya
menentukan kebenaran kejadiannya, SETELAH SUATU BEDAH LOKASI KEJADIAN secara
cermat, dan menggali keterangan saksi.

ad3. Selama ada kesimpang-siuran informasi, semestinya tempat kejadian masih
TERJAGA KEASLIANNYA seperti pasca kecelakaan. Herannya pada hari ke-2, jalan
raya di mana almarhum meninggal telah diubah dengan pembenaran hotmix
seadanya. Semestinya, ada asumsi, bila polisi sendiri belum yakin akan
adanya dua informasi berbeda dari saksi mata di sisi jalan dan pihak
penyelenggara, mestinya LOKASI MESTINYA MASIH DALAM KONDISI terjaga POLICE
LINE.

ad4.Media sedikit banyak memberitakan bahwa medan yang sama telah merenggut
40 nyawa dlm kurun waktu dua bulan. Sepintas kedengarannya, suatu bentuk
analisis rational untuk "pembenaran" kecelakaan berujung kematian
SophanSophian. Tapi, dalam konteks asumsi dan indikator yang lain,
pemberitaan itu
menjadi masuk kategori markable.

ad5. "Kehebatan yang lain" adalah "TEGAR-NYA" para peserta tour MOGE yang
MERELAKAN KEPERGIAN kerabatnya, sambil tetap melanjutkan kegiatannya. Tidak
ada penjelasan rasional tentang "KETEGARAN" peserta, "KE-TEGA-AN" mereka,
dan "MELARIKAN DIRI" setelah kejadian itu. Untuk suatu tour yang sifatnya
bukan kompetisi melainkan eksebisi, tampaknya orang berakal sehat akan
MENGHENTIKAN rangkaian kegiatan, dan menyatakan perkabungan dengan mengurus
"kemuliaan nyawa terrenggut" karena kegiatan eksebisi itu. (Eksebis
dipertentang dengan kompetisi, meskipun nilai historis kegiatan itu lebih
historis-ritual-momental). Dengan MENINGGALKAN JASAD tak bernyawa dan
pelbagai indikator lain, sikap dan pilihan melanjutkan perjalanan eksibisi
itu dapat diinterogasi polisi.

ad.6. Pada akhirnya, setiap kegiatan menjadi tanggung-jawab penyelenggara,
termasuk kecelakaan ringan dan berat, apalagi yang berujung kematian seperti
dialami bang Sophan Sophian. Pernyataan Ketua Penyelenggara yang terkesan
tidak mengetahui, atau tidak mau tahu prosedur minimum tentang suatu
pernyataan yang seharusnya datang dari PIHAK KEPOLISIAN, telah diambil alih
oleh Ketua Penyelenggara, hal yang di luar kewenangannya. Pelbagai faktor
yang menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat ini, haruslah segera
dijelaskan pihak kepolisian, Profesionalisme polisi diuji. Beberapa anggota
polisi yang berwenang untuk locus-delicti telah dimintakan keterangan,
tetapi sejauh ini belum diketahui hasilnya oleh masyarakat.

Mbak Widyawati mengaku sangat terpukul dengan kehilangan orang yang
dikasihinya. Tetapi, sedih mendengar pelbagai keganjilan seputar kematian
mas Sophian. Tugas kepolisian untuk memberi JAWABAN PROFESIONAL.

Saran: Polisi menyelidik PIHAK PENYELENGGARA secara mendalam.

wassalam,

berthy barnabas rahawarin

Kirim email ke