gila.... sedih gue Ki....

Pada 5 Januari 2010 11:41, [agiel] <[email protected]> menulis:

>
>
> berhubung gw blom punya anak, tar sore mandi bareng ibunya aja ahh....
>
> 2010/1/5 TiVo <[email protected]>
>
> Semoga bs jadi pencerahan...
>>
>> ------Original Message------
>> From: resonansi_2002
>> Sender: [email protected]
>> To: [email protected]
>> ReplyTo: [email protected]
>> Subject: [resonansi] Mandikan Aku Bunda
>> Sent: Jan 5, 2010 11:03
>>
>>   Mandikan Aku Bunda Sudahkan Kita Memenuhi Tanggung Jawab Kita sebagai
>> Seorang Ibu yang Baik bagi Anak-Anak Tercinta Kita Dirumah? oleh: Ayah Edy,
>> penulis buku 'Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur, 37 Kebiasaan
>> Orang Tua yang Menghasilkan Perilaku Buruk pada Anak' Dewi adalah sahabat
>> saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki
>> idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah
>> jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan
>> digelutinya. ''Why not to be the best?,'' begitu ucapan yang kerap kali
>> terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.
>> Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di
>> Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya. Setelah
>> menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ''selevel'';
>> sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah
>> Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat
>> manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka
>> lengkaplah sudah kebahagiaan mereka. Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan
>> Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang
>> dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai
>> seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, "Tidakkah si Bayu
>> masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?" Dengan sigap
>> Dewi menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan
>> sempurna". "Everything is OK !, Don't worry Everything is under control kok
>> !" begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri. Ucapannya itu memang
>> betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional
>> oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat
>> telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas
>> mandiri dan mudah mengerti. Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan
>> kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang
>> gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang
>> berlimpah. "Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah
>> seperti Bunda". Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng
>> menjelang tidurnya. Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan
>> kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman
>> bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian. Terkejut dengan permintaan
>> tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya.
>> Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat
>> Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ''memahami'' orangtuanya. Dengan
>> Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi,
>> kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya
>> yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang
>> larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu
>> menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya
>> malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua
>> orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari
>> orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini. Suatu hari,
>> menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan
>> oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya," Bunda
>> aku ingin mandi sama bunda...please. ..please bunda", pinta Bayu dengan
>> mengiba-iba penuh harap. Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya
>> sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan
>> tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan
>> mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau
>> mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau
>> menurutinya, meski wajahnya cemberut. Peristiwa ini terus berulang sampai
>> hampir sepekan. "Bunda, mandikan aku !" Ayo dong bunda mandikan aku sekali
>> ini saja...?" kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan
>> suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah,
>> jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu
>> bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya. Sampai suatu sore, Dewi
>> dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, "Bu, hari ini Bayu panas
>> tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency".
>> Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di
>> Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang...
>> terlambat sudah...Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil,
>> keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat.
>> Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan
>> putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk
>> memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat
>> memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting.
>> Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si
>> kecil terbujur kaku. Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar
>> suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata "Ini Bunda Nak...., Hari ini
>> Bunda mandikan Bayu ya...sayang. ...! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda
>> ya Nak.." . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan
>> berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya,
>> sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka. Ketika tanah merah telah
>> mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di
>> sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar
>> itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, "Inikan sudah takdir, ya
>> kan..!" Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah
>> saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?". Saya yang saat itu tepat
>> berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan
>> kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang
>> lain. Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak
>> bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air
>> mata yang mulai meleleh membasahi pipinya. Sambil menatap pusara anaknya,
>> terdengar lagi suara Dewi berujar, "Inilah konsekuensi sebuah pilihan!"
>> lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat. Angin senja meniupkan aroma
>> bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah
>> itu tanpa di duga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu
>> membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil
>> berteriak-teriak histeris. "Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni
>> bundamu ya nak...? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya
>> ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai
>> air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi
>> untuk selama-lamanya. Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini
>> saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini. Lalu terdengar
>> lagi Dewi berteriak-teriak histeris "Bangunlah Bayu sayaaangku.. ..Bangun
>> Bayu cintaku, ayo bangun nak.....?!?" pintanya berulang-ulang, "Bunda mau
>> mandikan kamu sayang.... Tolong Beri kesempatan Bunda sekali saja Nak....
>> Sekali ini saja, Bayu.. anakku...?" Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali
>> membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara
>> anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin
>> deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu. Senja semakin senyap,
>> aroma bunga kamboja semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu
>> kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini...tapi apa
>> hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu
>> tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya
>> karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada
>> hanya sekedar memandikan seorang anak. Semoga kisah ini bisa menjadi
>> pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat
>> dan penting dengan segala kesibukannya.
>>
>> Macan ber Karisma
>>
>> Powered by TiVoBerry®
>>
>> ------------------------------------
>>
>> see more information about us in www.bekakak.or.idYahoo! Groups Links
>>
>>
>>
>>
>
>
> --
> Powered by Oseng-Oseng Tempe Gembus
>  
>



-- 
SekJend
..Vincent.. a.k.a BebeX TangguH
B6600KDQ
BekaKak SMS Line : 0856 8049 020
BekaKak Care Line : 021-966 490 20
fs & fb : [email protected]
ym : tangguh035
www.bekakak.or.id
www.hkci.or.id

Kirim email ke