--------------------------------------------------------------------- WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP Edisi: Bahasa Indonesia
Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir. --------------------------------------------------------------------- Edisi ini diterbitkan pada: Selasa 10 November 2009 14:30 UTC ** POPULASI BERUANG KOALA TERANCAM PUNAH ** KORUT DAN KORSEL TERLIBAT BAKU TEMBAK ** MANTAN PM THAILAND TIBA DI KAMBOJA ** TOPIK TINJAUAN PERS: PENAHANAN ILEGAL PEMBANGKANG CINA DAN INDIA KUASAI DUNIA DENGAN MOBIL LISTRIK ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: MEDIA MASSA DALAM BENCANA: MENGGUGAH KHALAYAK ** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: ORANG ARMENIA DAN TURKI DI BELANDA JUGA TIDAK TAHU ** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: DRAMA BIBIT-CHANDRA: BOLA KEMBALI KE SBY * POPULASI BERUANG KOALA TERANCAM PUNAH Tahun-tahun belakangan populasi beruang koala di Australia berkurang drastis. Tim peneliti menyatakan, kalau hal ini terus berlangsung, hewan tersebut bisa punah dalam 30 tahun. Hasil penelitian terbaru menunjukkan, populasi beruang koala tinggal maksimal 80 ribu ekor. Itu 20 ribu lebih sedikit daripada sepuluh tahun lalu. Jumlah beruang koala terutama berkurang akibat penebangan hutan. Di utara negara bagian Queensland koala sudah punah. Padahal sepuluh tahun lalu populasinya berjumlah 20 ribu ekor. Pegiat lingkungan hidup ingin agar beruang koala ditetapkan sebagai jenis yang terancam punah. Diharapkan tahun depan pemerintah akan mengambil keputusan dalam masalah ini. * KORUT DAN KORSEL TERLIBAT BAKU TEMBAK Kapal Korea Utara dan Korea Selatan terlibat baku tembak di Laut Kuning. Demikian lapor kantor berita Korea Selatan, Yonhap. Kapal patroli Korea Utara melewati perbatasan laut dengan Korea Selatan dan mengabaikan tembakan peringatan, kata seorang juru bicara tentara kepada Yonhap. Pihak Korea Selatan kemudian menembaki kapal Korea Utara yang terbakar akibatnya. Namun Korea Utara berkata kapalnya berlayar di perairan sendiri dan diserbu ketika mengundurkan diri. Pyongyang menuntut permintaan maaf Korea Selatan. Di masa lampau kedua Korea secara sporadis terlibat pertikaian di laut. Insiden terakhir terjadi tujuh tahun lalu, menewaskan tujuh jiwa. Kali ini tidak jatuh korban. Insiden terjadi menjelang kunjungan Presiden Barack Obama ke Korea Selatan. * MANTAN PM THAILAND TIBA DI KAMBOJA Mantan perdana menteri Thailand, Thaksin Shinawatra telah tiba di Kamboja. Thaksin diangkat menjadi penasehat pribadi Perdana Menteri Hun Sen dan penasehat ekonomi pemerintah Kamboja. Ia mendarat di pangkalan militer ibukota Phnom Penh dan diantar ke kediaman baru dengan pengawalan ketat. Kamis mendatang Thaksin akan memberi kuliah di depan 300 pakar ekonomi. Thailand sangat marah atas Kamboja dan memanggil pulang duta besarnya dari negeri tersebut. Tahun 2006, Thaksin dilengserkan tentara Thailand dan divonis penjara dua tahun in absentia, atas tuduhan korupsi. * PENUNDAAN EKSEKUSI PENEMBAK JITU DITOLAK Mahkamah Agung Amerika menolak pengajuan penundaan eksekusi penembak jitu John Allen Muhammad. Tujuh tahun silam, pria ini, dalam waktu tiga minggu, menembak mati secara acak sepuluh orang di Washington serta negara bagian Virginia dan Maryland. Muhammad bekerja sama dengan anak laki-laki di bawah umur, Lee Boyd Malvo, yang kini menjalani hukuman penjara seumur hidup. Hari ini penembak jitu diberi suntikan mematikan di penjara Virginia. Menurut pengacaranya, pemerintah membunuh seorang laki-laki yang sakit mental. Kabarnya ia menderita trauma stress pasca perang Teluk. * BLOGGER KUBA DIANIAYA TIGA PRIA Pemerintah Amerika mengecam keras penganiayaan Yoani Sanchez, blogger Kuba, yang dianugerahi penghargaan internasional. Kabarnya, Jumat lalu Sanchez diseret masuk mobil oleh tiga pria yang kemudian memukulinya selama setengah jam. Sanchez yakin tiga laki-laki tersebut adalah agen rahasia yang berupaya membungkamkan dia. Insiden ini juga dikecam organisasi hak-hak asasi manusia Human Rights Watch. Rezim di Havana tidak menanggapi kasus ini. Sanchez mengatakan tetap melanjutkan kegiatannya bagi weblog Generasi Y, yang mengkritik rezim komunis Kuba. * AMERIKA PERTANYAKAN PENJARA SEUMUR HIDUP Mahkamah Agung Amerika Serikat membahas pertanyaan apakah anak di bawah umur masih perlu divonis penjara seumur hidup untuk tindak kejahatan lain daripada pembunuhan. Di Amerika Serikat, 2500 orang sedang menjalani hukuman penjara seumur hidup sehubungan tindak kejahatan yang dilakukan sebelum mereka berusia 18 tahun. Menurut pengkritik, ini bertentangan dengan undang undang dasar, yang secara eksplisit melarang hukuman kejam. Mahkamah Agung tengah menangani dua contoh kasus. Kasus pertama berasal dari tahun 1989. Ketika itu Joe Sullivan, 13 tahun, divonis penjara seumur hidup karena memperkosa perempuan lebih tua. Menurut pengacara, Sullivan cacat mental. Kasus lain berasal dari tahun 2005. Terrance Graham, 17 tahun, melakukan perampokan bersenjata dalam masa percobaan sehubungan tindak kejahatan yang dilakukan sebelumnya. Tahun 2005, Mahkamah Agung Amerika melarang vonis mati bagi anak di bawah umur. Sebelumnya, terutama negara bagian selatan seperti Texas dan Alabama sering mengeksekusi anak di bawah umur. * PENGADILAN MILITER TANGANI KASUS FORT HOOD Laki-laki yang pekan lalu menembak mati 13 orang di pangkalan militer Amerika, Fort Hood di Texas, akan diajukan ke pengadilan militer. Demikian kata seorang juru bicara pemerintah. Masih belum jelas kapan pelaku diinterogasi. Menurut pihak kehakiman laki-laki ini bekerja sendiri dan tidak merencanakan serangan. Namun demikian, media Amerika melaporkan, ia saling berkiriman email dengan seorang imam radikal yang bersembunyi di Yaman. Imam juga berhubungan dengan dua pembajak 11 September 2001. Di situs webnya, imam memuji serangan terhadap Fort Hood. Kabarnya, dinas rahasia FBI dan tentara Amerika tahu soal korespondensi email antara keduanya, tapi tidak menganggap itu menjadi alasan untuk turun tangan. * MANTAN PRESIDEN DITUDUH TERLIBAT KORUPSI Gaston Flosse, mantan presiden Polinisia-Prancis, ditahan di Tahiti terkait tuduhan korupsi. Ia diduga terlibat 30 kasus korupsi. Kabarnya, Flosse serta partainya selama bertahun-tahun menerima uang suap. Ia juga dituduh menggelapkan satu setengah juta euro untuk sektor pos dan telekomunikasi. Flosse adalah anggota blok kanan tengah pimpinan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy. Ia juga sekutu mantan presiden Prancis Jacques Chirac. Senator berusia 78 tahun memimpin kepulauan di Samudra Pasifik dari tahun 1984 hingga 2008. Senat Prancis baru-baru ini mencabut kekebalan hukum terhadapnya. * REMAJA DISELAMATKAN DI KUTUB UTARA Setelah operasi pencarian selama lebih dari satu hari di kawasan Kutub Utara Kanada, seorang anak laki-laki berusia 17 tahun berhasil diselamatkan. Sabtu lalu, ia bersama pamannya berburu beruang. 17 Kilometer dari pesisir, scooter es mereka rusak. Ketika menuju ke pemukiman terdekat, si anak laki-laki tersebut masuk bongkahan es yang mengapung, yang juga tempat keberadaannya tiga beruang es. Bongkahan es itu hanyut ke laut. Untuk melindungi diri, si remaja menembak mati satu beruang. Dua beruang lainnya tidak berani mendekati dia. Senin pagi kemarin, anak laki-laki tersebut diselamatkan dua anggota tim penolong, lebih dari 30 kilometer dari tempat ia meninggalkan scooter esnya. * BERITA BURSA Hari ini bursa saham Eropa dibuka lebih tinggi. Indeks AEX di Amsterdam naik 0,2 persen pada 315,12 poin. Bursa saham di Frankfurt, London dan Paris naik hingga 0,1 persen. Satu Euro tercatat 1,4975 Dolar Amerika. Satu Dolar Amerika bernilai 9.425,04 Rupiah. Satu Euro sama dengan 14.117,50 Rupiah. * PENAHANAN ILEGAL PEMBANGKANG CINA DAN INDIA KUASAI DUNIA DENGAN MOBIL LISTRIK Cina mengintimidasi pembangkang dan warga bermasalah dengan menahan mereka secara ilegal. Pemerintah setempat seringkali menggunakan hotel, rumah jompo atau rumah sakit jiwa untuk menahan orang selama beberapa hari, minggu atau bahkan bulan. Demikian simpul organisasi Hak-Hak Asasi Manusia Human Rights Watch dalam laporan yang diluncurkan menjelang kunjungan pertama Presiden Barack Obama ke Cina Ahad mendatang. Dalam laporan tersebut, Obama diminta membahas masalah HAM dengan pemerintah Cina. Demikian tulis harian pagi Belanda, De Volkskrant. Pemerintah Beijing membantah keberadaan apa yang disebut 'penjara-penjara gelap'. Tapi sejumlah kesaksian menunjukkan penahanan ilegal, cara yang sering dipakai polisi dan lembaga pemerintah lain. Menurut Human Rights Watch praktek macam ini bertentangan dengan janji Cina memperbaiki situasi HAM dan memperkuat pentaatan undang undang. Penjaga rutan ilegal sering menganiaya, memeras dan mengancam para tahanan. Korban kurang makan serta tidur, dan layanan kesehatan bagi mereka tidak memadai. Demikian kata Human Rights Watch berdasarkan kesimpulan pernyataan beberapa saksi. Pemerintah Cina harus cepat turun tangan dan mengakhiri praktek-praktek macam itu, kata Sophie Richardson, pakar Asia dari Human Rights Watch. "Cina punya undang undang yang mengatur penangkapan dan penahanan orang. Pemerintah yang melanggar undang undangnya sendiri tidak layak dihargai masyarakat internasional," ungkap Sophie Richardson seperti dikutip De Volkskrant. Kita beralih ke topik berikut. Juli silam, perusahaan otomotif India, Reva, mengumumkan akan membangun produksi mobil listrik terbesar di dunia, yakni di kota Bangalore. India sebagai pusat industri mobil listrik murah di dunia? "Itu realistis", kata direktur Reva, Chetan Maini seperti dikutip harian Trouw. "Separuh ongkos produksinya dipakai untuk elektronika, baterai dan peranti lunak. Itulah yang menjadi keunggulan India: peranti lunak dan elektronika. Lagipula penelitian dan pengembangan sangat murah di sini. Orang India sangat lihai menciptakan sesuatu yang baru untuk menghemat biaya produksi," jelas Chetan Maini. Reva kini menjadi mobil listrik paling banyak dijual di dunia. Dalam waktu dekat juga akan dipasarkan di Belanda. Tapi orang India sendiri jarang membeli mobil Reva, karena terlalu mahal untuk mobil sekecil itu. Mobil besar memberikan prestise. Selain itu warga India pada umumnya tidak banyak mempedulikan lingkungan. Namun direktur Reva, Maini berharap sikap seperti ini cepat berubah, antara lain melalui kerja sama dengan perusahaan otomotif Amerika, General Motors. September lalu diumumkan Reva dan GM akan bekerja sama memproduksi mobil listrik murah untuk pasar India. "Saya berharap, sepuluh tahun lagi saya bisa berdiri di Bangalore, melihat bis, mobil dan motor semuanya bermotor listrik dan sunyi," ujar Maini dalam harian Trouw. Dan sekian pula Tinjauan Pers untuk kali ini. * MEDIA MASSA DALAM BENCANA: MENGGUGAH KHALAYAK Intro: Kalau bencana alam melanda, orang harus mulai berpikir. Sesudah itu mereka harus bertindak. Media massa berperan penting dalam upaya penyelamatan jiwa ini. Wartawan di negara-negara yang sering dilanda bencana jelas sudah terbekali dengan hal-hal penting ini. Tetapi dengan makin nyatanya perubahan iklim, badai dan banjir juga bisa melanda tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah kenal bencana macam itu. Laporan redaktur internasional Laurens Nijzink. "Kita tidak butuh ilmu pengetahuan lagi, kita butuh cerita," demikian Eelco Dijkstra, gurubesar pengelolaan darurat. Dijkstra berbicara di depan hadirin internasional pada Dialog Lembaga Penyiaran Eropa Asia Pasifik di Amsterdam. Eelco Dijkstra: "Grafik ilmiah, informasi ilmiah tidak begitu menarik kalangan non-ilmuwan. Jadi, kalau ingin melibatkan khalayak ramai, maka mereka harus diberi cerita yang bisa melibatkan mereka. Dan tidak ada jalan yang lebih baik lagi daripada membuat mereka secara pribadi bertanggung jawab pada masalah yang ada. 'Apa yang Anda pikirkan, apa yang akan Anda lakukan, apa harapan Anda yang patut dilakukan orang lain, apa yang bisa Anda lakukan untuk diri sendiri?' Semuanya harus dibikin hidup. Dengan begitu orang akan berpikir. Pada saat itu mereka akan melibatkan diri. Masalah terbesar yang dihadapi banyak pemerintahan adalah mereka ingin memberitahu orang tapi tidak tahu apa yang harus diberitahukan." Dijkstra menunjuk pada peran penting media massa pada saat Eropa dilanda badai besar, seperti Katrina yang melanda Pantai Timur Amerika tahun 2005. Pada apa yang disebut "bagaimana kalau" ini, Eelco Dijkstra menunjuk empat saat penting. 1. Dua pekan menjelang badai. Sudahkah Eropa siap menangani keadaan darurat seperti itu? 2. Dua hari sebelum badai melanda Eropa. Bagaimana media massa bisa sebanyak mungkin menyelamatkan orang? 3. Seminggu setelah badai. Sekarang sudah jelas cakupan bencananya. Kebutuhan informasi meningkat, mulai dari yang paling praktis (di mana bisa diperoleh makanan?) sampai mencari sanak saudara. 4. Mulai pembangunan kembali. Eelco Dijkstra mendasarkan cerita "bagaimana kalaunya" pada kajian bencana Katrina. Terdapat beberapa persamaan dengan keadaan Negeri Belanda. Wilayah sekitar New Orleans dan Negeri Belanda sama-sama berada di bawah permukaan laut. Eelco Dijkstra menekankan bahwa pada saat krisis, pemerintah daerah dan pemerintah pusat kalau bekerjasama erat dengan media massa. Eelco Dijkstra: Peran dan pentingnya media massa lebih besar dari yang dikira media itu sendiri. Media massa adalah perekat antara pemerintah dengan warga. Terlalu banyak rakyat yang tidak percaya pada pemerintah. Tanpa adanya kepercayaan ini orang tidak akan bisa melakukan pengendalian krisis dengan baik. Kedengarannya bisa tidak masuk akal, tetapi ini juga berarti sikap kritis media terhadap pemerintah, khususnya menjelang dan sesudah terjadi keadaan darurat. Jurnalis harus bisa menjelaskan apa yang dikerjakan pemerintah dalam mencegah tsunami, banjir dan bencana lain. Selain itu juga harus jelas langkah-langkah apa yang akan diambil ketika terjadi bencana dan sesudah bencana itu melanda. Dalam kata-kata Dijkstra: "Kalau rakyat tidak tahu apa yang dikerjakan pemerintah untuk mereka, maka mereka juga tidak akan tahu apa yang harus mereka lakukan sendiri." * ORANG ARMENIA DAN TURKI DI BELANDA JUGA TIDAK TAHU Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Turki berupaya mendekati Armenia. Sejarah bangsa Armenia yang kristen dan bangsa Turki yang islam dipenuhi dengan sengketa. Yang tergawat adalah penolakan pemerintah Turki untuk mengakui pembunuhan ratusan ribu orang Armenia selama Perang Dunia Pertama sebagai genosida. Kenapa sekarang Turki ingin rujuk? Laporan redaktur internasional Martijn van Tol. Di Den Haag tiga orang Belanda keturunan Armenia dan seorang keturunan Turki bertemu membicarakan masalah ini. Araik, 27 tahun, dibesarkan di Yerevan, ibukota Armenia. "Sejak kecil sudah saya dengar genosida ini yang tiap tahun kami peringati. Soal pembunuhan massal itu, saya sampai mengira di Turki ke mana-mana orang bawa pedang." Sedangkan Arpa Telimi, 28 tahun, membenarkan, walaupun dia dibesarkan di Spijkenisse, dekat Rotterdam. "Sejak kecil saya sudah dibanjiri berita dan foto tentang pembunuhan massal ini. Kami juga hadir pada peringatan tahunan. Setiap orang Belanda selalu mengira saya ini keturunan Turki. Kalau saya protes mereka lalu bilang, "lho itu kan sama saja," saya tidak suka itu." Salib Asena Kibrit, 23 tahun, tidak tampak seperti orang Armenia. Maklum rambutnya pirang dengan kulit putih. "Saya dibesarkan di Istambul, tapi ke sekolah Armenia, saya tinggal di dunia Armenia di Turki." Walaupun Asena fasih berbahasa Turki dan teman-teman Turkinya juga banyak, ia merasa tidak bisa sepenuhnya hidup sebagai orang Armenia. "Kami berupaya tidak menonjol, salib saya sembunyikan di balik baju dan di Turki kami tidak bisa mengadakan upacara peringatan genosida." Sedangkan Melek Karasu, 32 tahun, pemuda Turki tapi tidak banyak berbeda dari Araik dan Arpa. Melek juga dibesarkan di Istambul. "Kami selalu diberi tahu bahwa orang-orang Armenia itu tidak adil dan mencuri kekayaan kami." Melek tidak pernah mendengar apapun tentang pembunuhan massal orang Armenia. "Baru di Belanda saya tahu tentang itu. Lebih dari itu, baru hari ini saya duduk bersama-sama orang Armenia." Digelandang Asena Kibrit juga baru tahu soal pembunuhan massal orang Armenia ketika ia tiba di Belanda, termasuk bagaimana dulu Turki bermusuhan sengit dengan Armenia. Walau begitu di Belanda ia tidak mengalami kelahiran kembali jatidiri Armenianya. "Karena dibesarkan bersama orang Turki, saja jadi pragmatis. Sekarang jelas lain sekali. Kalau di Belanda sini saya berteriak hidup Armenia di jalanan, maka orang akan mengira betapa aneh saya ini. Tetapi kalau itu saya lakukan di Turki, maka dua menit kemudian saya pasti akan digelandang ke kantor polisi." Di Spijkenisse, dekat Rotterdam, Arpa bisa mengembangkan nasionalisme Armenianya. "Sudah sejak kanak-kanak saya ingin berbuat sesuatu untuk mempertahankan tradisi Armenia. Justru karena dua pertiga rakyat Armenia sudah dilenyapkan, maka tugas ini jatuh ke pundak kami." Dengan antusias Arpa menambahkan, "Tidak perduli di mana, kalau kita menghargai diri sendiri sebagai orang Armenia, maka pasti kita sibuk dengan hal ini." Bohong besar Araik mengaku, baru di Belanda ia berhubungan dengan orang Turki. Walau sudah punya teman-teman Turki, ia tidak bisa bebas bicara soal genosida orang Armenia. Ketika sekolah di Rotterdam, Arpa tiba-tiba duduk sekelas dengan orang-orang Turki. Waktu itu dia mengaku takut menyatakan dirinya orang Armenia. Tapi akhirnya tidak apa-apa juga. Hanya beberapa orang Turki yang menyatakan bahwa pembunuhan orang Armenia itu bohong besar. Tetapi masalah ini tetap bisa dibicarakan secara terbuka. "Yang benar-benar tidak saya pahami," kata Asena pada Melek, "ternyata ada juga orang Turki yang dibesarkan di Belanda, tapi tidak tahu sejarah, tiap tahun mereka pulang ke Turki, bukankah orang-orang Turki ini yang benci pada orang Armenia?" Melek menimpali, justru karena mereka tinggal di Belanda perbedaan itu nyata. Di Belanda, orang terkena krisis jati diri, sehingga perasaan senasib dengan sesama jadi lebih besar. Asena akhirnya dengan sedikit putus asa menyimpulkan, isu genosida adalah sesuatu yang sangat dalam tertanam dalam jiwa orang Armenia. Ia mengaku punya banyak teman Turki, tetapi tetap tidak bisa bebas bicara soal tersebut dengan mereka. Tanpa dendam "Sepertinya tidak akan terjadi, tapi kalau pendekatan Turki Armenia bisa mengarah pada pengakuan, maka itu adalah sesuatu yang indah," kata Araik sedikit emosi. "Orang Turki tidak akan merasa malu, dan orang Armenia juga tidak akan menyimpan dendam. Generasi berikut akan merasakan hidup yang lain." Arpa sangat berharap prasangka antara orang Turki dan Armenia akan berakhir. Pembicaraan antara generasi muda Turki dan Armenia ini berakhir dengan harapan, tetapi jalan keluar tampaknya masih jauh, juga di kalangan orang-orang Turki dan Armenia di Belanda. * Uji DNA Tan Malaka Cocok Setelah pembongkaran makam di desa Selopanggung. Kediri, dan melalui uji DNA yang dilakukan tim forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ternyata jasad yang ditemukan adalah benar jasad Tan Malaka. Dari 14 aspek pencocokan yang dilakukan, sembilan aspek dinyatakan cocok. Pihak keluarga Tan Malaka rencananya akan mengumumkan hasil pencocokan DNA, bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November ini. Kepada Radio Nederland Wereldomroep, pakar sejarah dan penulis biografi Tan Malaka, Hari Poeze, mengungkapkan tanggapannya. Hari Poeze [HP]: Saya memang sangat gembira bahwa penggalian jasad itu sudah sukses dalam bidang penyesuaian DNA yang didapat dengan DNA keponakan Tan Malaka. Dan penggalian ini sudah dua bulan yang lalu, dan tidak ada berita mengenai hasilnya, karena itu saya menjadi sangsi dan curiga, apakah hasil itu, yang digali itu bukan Tan Malaka. Tetapi sekarang saya baca setengah jam yang lalu, di internet saya dapat berita Tepo Interakrif itu, dan memang saya gembira penelitian saya mengenai riwayat hidup Tan Malaka sukses dalam bidang itu. Juga karena saya yakin bahwa Tan Malaka ditembak mati di desa kecil itu. Tapi ya keyakinan sayabelum dibuktikan dan hari ini dibuktikan dengan kepastian bahwa jasad itu adalah memang Tan Malaka. Dan seterusnya Tan Malaka bisa diberi monumen yang pasti untuk Phlawan Nasional. Di mana monumen, di mana tugu peringatan akan didirikan, itu belum tentu. Tapi soal pertama yang terpenting adalah bahwa jasadnya sudah ditemukan. Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Sebagai seorang pakar sejarah yang menelusuri riwayat hidup Tan Malaka, siapa sebenarnya Tan Malaka itu? Sehingga kita kita menamakan dia sebagai Pahlawan Nasional, apa lagi hari ini adalah Hari Pahlawan 10 November? HP: Ini adalah hari yang sangat pasti untuk memberitahukan berita itu, karena Tan Malaka diangkat menjadi Pahlawan Nasional sudah lama. Dia memang seorang yang peranannya dalam sejarah Indonesia sangat penting. Dan saya sudah menulis beberapa buku tentang Tn Malaka dan biografinya yang saya tulis yang tebalnya lebih dari 2000 halaman. Untuk mengikuti wawancara selengkapnya Hari Poeze ini anda dapat membuka situs web kami www.ranesi.nl. * DRAMA BIBIT-CHANDRA: BOLA KEMBALI KE SBY Drama kasus Bibit-Chandra belum berakhir. Dan bola kembali ke tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kejaksaan Agung dan Kepolisian. Presiden meminta Jaksa Agung dan Kapolri menimbang rekomendasi-sementara Tim Pencari Fakta TPF yang menyimpulkan bahwa penyelidikan kasus tersebut lemah. Namun, permintaan Kepala Negara itu tidak ditegaskan sebagai pesan: "Silahkan mundur, jika gagal". Maka penyidikan kasus Bibit-Chandra tampaknya akan dilanjutkan. Walhasil, drama seputar tuduhan terhadap dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi KPK itu, memang bukan Watergate yang pernah memakzulkan Presiden Nixon. Berikut, catatan Aboeprijadi Santoso. Tim Delapan atau TPF kasus Bibit-Chandra telah bekerja dengan baik dan transparan, namun tak mampu menuntaskan perkara tsb. Ironisnya, "kegagalan" ini justru merupakan sukses dan kesimpulan Tim-8. Pertama, karena pihak Kepolisian mau pun Kejaksaan dianggap gagal membuktikan terjadinya penyuapan dan pemerasan terhadap kedua pimpinan KPK tsb; kedua, karena aliran dana dari pengusaha Anggodo Wijoyo ke KPK itu tak jelas. Dua kesimpulan Tim-8 ini memang sudah banyak diramalkan sebelumnya. Kasusnya berawal dari inisiatif polisi untuk mencurigai testimoni pengusaha Anggoro Wijaya sebagai upaya untuk menyuap KPK atau upaya dua pimpinan KPK, Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah untuk memeras Anggoro. Pihak polisi rupanya hendak memanfaatkan wawancara Antasari Azhar, mantan Ketua KPK yang menjadi tersangka kasus pembunuhan, agar menjadi bumerang bagi lembaga KPK itu sendiri. Kubu polisi, dalam hal ini Kabareskrim, yaitu orang ketiga Polri, Komjen Susno Duadji, bahkan sempat mengejek KPK sebagai "cicak" yang hendak mengusik "buaya". Akibatnya publik marah, tokoh tokoh nasional, termasuk mantan pimpinan KPK, politisi, masyarakat sipil, membela Bibit dan Chandra dengan menyediakan diri sebagai tahanan. Satu hal yang tak pernah terjadi di masa lalu. Bahkan publik dunia maya, utamanya jejaring facebook, menghujat kubu Buaya dan gelombang protes dan demonstrasi pun bergulir selama beberapa minggu. Mengapa Anggoro, Direktur PT Masaro yang sembunyi di Singapura, merasa perlu memberi testimoni dan adiknya, Anggodo, kemudian mengatur penyaluran uang kepada pimpinan KPK? Maka drama pun berpuncak ketika polisi menahan Bibit dan Chandra sebagai tersangka dan hampir bersamaan waktu beredar rekaman pembicaraan Anggodo dengan berbagai pihak yang mengindikasikan upaya rekayasa mengkriminalkan pimpinan KPK. Gayung tuduhan kubu Cicak ini segera bersambut. Presiden membentuk TPF dan TPF pun mengajak MK, Mahkamah Konstitusi untuk memperdengarkan rekaman Anggodo. Penjelasan Kapolri di muka DPR dianggap rapuh, bahkan ini pun belakangan diakui oleh Jaksa Agung. Tuduhan bahwa Bibit dan Chandra memeras Anggoro tak mungkin dibuktikan. Bahkan aliran dana dari Anggodo ke KPK penuh lubang. Dua tokoh kuncinya, yang disebut-sebut menjadi perantara antara Anggoro/Anggodo dan KPK, yaitu Ary Muladi dan Julianto - yang satu plintat plintut, yang lain tak jelas keberadaannya. Singkatnya, Kejaksaan Agung dan terutama Kepolisian harus menanggung aib karena dianggap mereka-reka tuduhan terhadap KPK. Celakanya pula, keterangan Kapolri di muka DPR justru disambut dengan puja puji. Walhasil, bagi publik pun makin jelas ada mafia, tidak hanya di aparat penegak hukum, tapi juga di sekitar lembaga perwakilan. Tidak hanya masyarakat sipil di kubu Cicak, bahkan kalangan politisi kini menuntut agar Presiden SBY menjadikan drama ini sebagai momentum baru - pembuka pintu menuju perombakan lembaga lembaga penegak hukum, terutama kepolisian. Apalagi pihak kepolisian kini malah hendak melanjutkan penyidikan kasus Bibit-Chandra yang memancing protes public. Persoalan menjadi rumit karena Komjen Susno Duadji yang menjadi bulan-bulanan kritik, juga disebut-sebut terlibat penyaluran dana Bank Century yang baru baru ini justru ditalangi pemerintah dengan dana hingga 6 milyar rupiah. Maka timbul pertanyaan, jangan jangan drama Bibit-Chandra tadi sekadar asap belaka yang menutu-nutupi skandal Century. Dengan kata lain, ada Centurygate yang mirip Watergate. Di Amerika kasus pencurian di markas Partai Republik Watergate tahun 70an gagal menutupi permainan curang partai tsb untuk memenangkan Richard Nixon, sehingga Presiden Nixon akhirnya harus turun. Tetapi harus dicatat, dalam kasus Indonesia, Presiden SBY baru mulai memimpin dengan legitimasi kemenangan besar dalam pilpres yang baru saja berlalu. Selain itu, gelombang protes seputar perang Cicak-Buaya sama sekali bukanlah seperti People Power yang membuat Soeharto mundur tahun 98. Walhasil, mirip pertandingan tinju, kubu Cicak baru menang angka. Apakah sang Buaya akan knock out atau tidak, tergantung pada Presiden SBY, Jakgung dan polisi. Jangan jangan buaya itu hanya akan masuk kandang saja. --------------------------------------------------------------------- Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum http://www.ranesi.nl/ http://www.radionetherlands.nl/ Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda peroleh melalui [email protected] Copyright Radio Nederland Wereldomroep. ---------------------------------------------------------------------
