---------------------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

---------------------------------------------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Selasa 10 November 2009 14:30 UTC



** POPULASI BERUANG KOALA TERANCAM PUNAH

** KORUT DAN KORSEL TERLIBAT BAKU TEMBAK

** MANTAN PM THAILAND TIBA DI KAMBOJA

** TOPIK TINJAUAN PERS: PENAHANAN ILEGAL PEMBANGKANG CINA DAN INDIA KUASAI 
DUNIA DENGAN MOBIL LISTRIK

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: MEDIA MASSA DALAM BENCANA: MENGGUGAH KHALAYAK

** GEMA WARTA TOPIK INTERNASIONAL: ORANG ARMENIA DAN TURKI DI BELANDA JUGA 
TIDAK TAHU

** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: DRAMA BIBIT-CHANDRA: BOLA KEMBALI KE SBY



* POPULASI BERUANG KOALA TERANCAM PUNAH

Tahun-tahun belakangan populasi beruang koala di Australia berkurang drastis. 
Tim peneliti menyatakan, kalau hal ini terus berlangsung, hewan tersebut bisa 
punah dalam 30 tahun. Hasil penelitian terbaru menunjukkan, populasi beruang 
koala tinggal maksimal 80 ribu ekor. Itu 20 ribu lebih sedikit daripada sepuluh 
tahun lalu. Jumlah beruang koala terutama berkurang akibat penebangan hutan. Di 
utara negara bagian Queensland koala sudah punah. Padahal sepuluh tahun lalu 
populasinya berjumlah 20 ribu ekor. Pegiat lingkungan hidup ingin agar beruang 
koala ditetapkan sebagai jenis yang terancam punah. Diharapkan tahun depan 
pemerintah akan mengambil keputusan dalam masalah ini.


* KORUT DAN KORSEL TERLIBAT BAKU TEMBAK

Kapal Korea Utara dan Korea Selatan terlibat baku tembak di Laut Kuning. 
Demikian lapor kantor berita Korea Selatan, Yonhap. Kapal patroli Korea Utara 
melewati perbatasan laut dengan Korea Selatan dan mengabaikan tembakan 
peringatan, kata seorang juru bicara tentara kepada Yonhap. Pihak Korea Selatan 
kemudian menembaki kapal Korea Utara yang terbakar akibatnya. Namun Korea Utara 
berkata kapalnya berlayar di perairan sendiri dan diserbu ketika mengundurkan 
diri. Pyongyang menuntut permintaan maaf Korea Selatan. Di masa lampau kedua 
Korea secara sporadis terlibat pertikaian di laut. Insiden terakhir terjadi 
tujuh tahun lalu, menewaskan tujuh jiwa. Kali ini tidak jatuh korban. Insiden 
terjadi menjelang kunjungan Presiden Barack Obama ke Korea Selatan.


* MANTAN PM THAILAND TIBA DI KAMBOJA

Mantan perdana menteri Thailand, Thaksin Shinawatra telah tiba di Kamboja. 
Thaksin diangkat menjadi penasehat pribadi Perdana Menteri Hun Sen dan 
penasehat ekonomi pemerintah Kamboja. Ia mendarat di pangkalan militer ibukota 
Phnom Penh dan diantar ke kediaman baru dengan pengawalan ketat. Kamis 
mendatang Thaksin akan memberi kuliah di depan 300 pakar ekonomi. Thailand 
sangat marah atas Kamboja dan memanggil pulang duta besarnya dari negeri 
tersebut. Tahun 2006, Thaksin dilengserkan tentara Thailand dan divonis penjara 
dua tahun in absentia, atas tuduhan korupsi.


* PENUNDAAN EKSEKUSI PENEMBAK JITU DITOLAK

Mahkamah Agung Amerika menolak pengajuan penundaan eksekusi penembak jitu John 
Allen Muhammad. Tujuh tahun silam, pria ini, dalam waktu tiga minggu, menembak 
mati secara acak sepuluh orang di Washington serta negara bagian Virginia dan 
Maryland. Muhammad bekerja sama dengan anak laki-laki di bawah umur, Lee Boyd 
Malvo, yang kini menjalani hukuman penjara seumur hidup. Hari ini penembak jitu 
diberi suntikan mematikan di penjara Virginia. Menurut pengacaranya, pemerintah 
membunuh seorang laki-laki yang sakit mental. Kabarnya ia menderita trauma 
stress pasca perang Teluk.


* BLOGGER KUBA DIANIAYA TIGA PRIA

Pemerintah Amerika mengecam keras penganiayaan Yoani Sanchez, blogger Kuba, 
yang dianugerahi penghargaan internasional. Kabarnya, Jumat lalu Sanchez 
diseret masuk mobil oleh tiga pria yang kemudian memukulinya selama setengah 
jam. Sanchez yakin tiga laki-laki tersebut adalah agen rahasia yang berupaya 
membungkamkan dia. Insiden ini juga dikecam organisasi hak-hak asasi manusia 
Human Rights Watch. Rezim di Havana tidak menanggapi kasus ini. Sanchez 
mengatakan tetap melanjutkan kegiatannya bagi weblog Generasi Y, yang 
mengkritik rezim komunis Kuba.


* AMERIKA PERTANYAKAN PENJARA SEUMUR HIDUP

Mahkamah Agung Amerika Serikat membahas pertanyaan apakah anak di bawah umur 
masih perlu divonis penjara seumur hidup untuk tindak kejahatan lain daripada 
pembunuhan. Di Amerika Serikat, 2500 orang sedang menjalani hukuman penjara 
seumur hidup sehubungan tindak kejahatan yang dilakukan sebelum mereka berusia 
18 tahun. Menurut pengkritik, ini bertentangan dengan undang undang dasar, yang 
secara eksplisit melarang hukuman kejam. Mahkamah Agung tengah menangani dua 
contoh kasus. Kasus pertama berasal dari tahun 1989. Ketika itu Joe Sullivan, 
13 tahun, divonis penjara seumur hidup karena memperkosa perempuan lebih tua. 
Menurut pengacara, Sullivan cacat mental. Kasus lain berasal dari tahun 2005. 
Terrance Graham, 17 tahun, melakukan perampokan bersenjata dalam masa percobaan 
sehubungan tindak kejahatan yang dilakukan sebelumnya. Tahun 2005, Mahkamah 
Agung Amerika melarang vonis mati bagi anak di bawah umur. Sebelumnya, terutama 
negara bagian selatan seperti Texas dan Alabama sering mengeksekusi anak di 
bawah umur.


* PENGADILAN MILITER TANGANI KASUS FORT HOOD

Laki-laki yang pekan lalu menembak mati 13 orang di pangkalan militer Amerika, 
Fort Hood di Texas, akan diajukan ke pengadilan militer. Demikian kata seorang 
juru bicara pemerintah. Masih belum jelas kapan pelaku diinterogasi. Menurut 
pihak kehakiman laki-laki ini bekerja sendiri dan tidak merencanakan serangan. 
Namun demikian, media Amerika melaporkan, ia saling berkiriman email dengan 
seorang imam radikal yang bersembunyi di Yaman. Imam juga berhubungan dengan 
dua pembajak 11 September 2001. Di situs webnya, imam memuji serangan terhadap 
Fort Hood. Kabarnya, dinas rahasia FBI dan tentara Amerika tahu soal 
korespondensi email antara keduanya, tapi tidak menganggap itu menjadi alasan 
untuk turun tangan.


* MANTAN PRESIDEN DITUDUH TERLIBAT KORUPSI

Gaston Flosse, mantan presiden Polinisia-Prancis, ditahan di Tahiti terkait 
tuduhan korupsi. Ia diduga terlibat 30 kasus korupsi. Kabarnya, Flosse serta 
partainya selama bertahun-tahun menerima uang suap. Ia juga dituduh 
menggelapkan satu setengah juta euro untuk sektor pos dan telekomunikasi. 
Flosse adalah anggota blok kanan tengah pimpinan Presiden Prancis, Nicolas 
Sarkozy. Ia juga sekutu mantan presiden Prancis Jacques Chirac. Senator berusia 
78 tahun memimpin kepulauan di Samudra Pasifik dari tahun 1984 hingga 2008. 
Senat Prancis baru-baru ini mencabut kekebalan hukum terhadapnya.


* REMAJA DISELAMATKAN DI KUTUB UTARA

Setelah operasi pencarian selama lebih dari satu hari di kawasan Kutub Utara 
Kanada, seorang anak laki-laki berusia 17 tahun berhasil diselamatkan. Sabtu 
lalu, ia bersama pamannya berburu beruang. 17 Kilometer dari pesisir, scooter 
es mereka rusak. Ketika menuju ke pemukiman terdekat, si anak laki-laki 
tersebut masuk bongkahan es yang mengapung, yang juga tempat keberadaannya tiga 
beruang es. Bongkahan es itu hanyut ke laut. Untuk melindungi diri, si remaja 
menembak mati satu beruang. Dua beruang lainnya tidak berani mendekati dia. 
Senin pagi kemarin, anak laki-laki tersebut diselamatkan dua anggota tim 
penolong, lebih dari 30 kilometer dari tempat ia meninggalkan scooter esnya.


* BERITA BURSA

Hari ini bursa saham Eropa dibuka lebih tinggi. Indeks AEX di Amsterdam naik 
0,2 persen pada 315,12 poin. Bursa saham di Frankfurt, London dan Paris naik 
hingga 0,1 persen. 

Satu Euro tercatat 1,4975 Dolar Amerika. 
Satu Dolar Amerika bernilai 9.425,04 Rupiah. 
Satu Euro sama dengan 14.117,50 Rupiah.


* PENAHANAN ILEGAL PEMBANGKANG CINA DAN INDIA KUASAI DUNIA DENGAN MOBIL LISTRIK

Cina mengintimidasi pembangkang dan warga bermasalah dengan menahan mereka 
secara ilegal. Pemerintah setempat seringkali menggunakan hotel, rumah jompo 
atau rumah sakit jiwa untuk menahan orang selama beberapa hari, minggu atau 
bahkan bulan. Demikian simpul organisasi Hak-Hak Asasi Manusia Human Rights 
Watch dalam laporan yang diluncurkan menjelang kunjungan pertama Presiden 
Barack Obama ke Cina Ahad mendatang. Dalam laporan tersebut, Obama diminta 
membahas masalah HAM dengan pemerintah Cina. Demikian tulis harian pagi 
Belanda, De Volkskrant. 

Pemerintah Beijing membantah keberadaan apa yang disebut 'penjara-penjara 
gelap'. Tapi sejumlah kesaksian menunjukkan penahanan ilegal, cara yang sering 
dipakai polisi dan lembaga pemerintah lain. Menurut Human Rights Watch praktek 
macam ini bertentangan dengan janji Cina memperbaiki situasi HAM dan memperkuat 
pentaatan undang undang. 

Penjaga rutan ilegal sering menganiaya, memeras dan mengancam para tahanan. 
Korban kurang makan serta tidur, dan layanan kesehatan bagi mereka tidak 
memadai. Demikian kata Human Rights Watch berdasarkan kesimpulan pernyataan 
beberapa saksi. 

Pemerintah Cina harus cepat turun tangan dan mengakhiri praktek-praktek macam 
itu, kata Sophie Richardson, pakar Asia dari Human Rights Watch. "Cina punya 
undang undang yang mengatur penangkapan dan penahanan orang. Pemerintah yang 
melanggar undang undangnya sendiri tidak layak dihargai masyarakat 
internasional," ungkap Sophie Richardson seperti dikutip De Volkskrant. 

Kita beralih ke topik berikut. Juli silam, perusahaan otomotif India, Reva, 
mengumumkan akan membangun produksi mobil listrik terbesar di dunia, yakni di 
kota Bangalore. India sebagai pusat industri mobil listrik murah di dunia? "Itu 
realistis", kata direktur Reva, Chetan Maini seperti dikutip harian Trouw. 

"Separuh ongkos produksinya dipakai untuk elektronika, baterai dan peranti 
lunak. Itulah yang menjadi keunggulan India: peranti lunak dan elektronika. 
Lagipula penelitian dan pengembangan sangat murah di sini. Orang India sangat 
lihai menciptakan sesuatu yang baru untuk menghemat biaya produksi," jelas 
Chetan Maini.

Reva kini menjadi mobil listrik paling banyak dijual di dunia. Dalam waktu 
dekat juga akan dipasarkan di Belanda. Tapi orang India sendiri jarang membeli 
mobil Reva, karena terlalu mahal untuk mobil sekecil itu. Mobil besar 
memberikan prestise. Selain itu warga India pada umumnya tidak banyak 
mempedulikan lingkungan. 

Namun direktur Reva, Maini berharap sikap seperti ini cepat berubah, antara 
lain melalui kerja sama dengan perusahaan otomotif Amerika, General Motors. 
September lalu diumumkan Reva dan GM akan bekerja sama memproduksi mobil 
listrik murah untuk pasar India. "Saya berharap, sepuluh tahun lagi saya bisa 
berdiri di Bangalore, melihat bis, mobil dan motor semuanya bermotor listrik 
dan sunyi," ujar Maini dalam harian Trouw. Dan sekian pula Tinjauan Pers untuk 
kali ini.


* MEDIA MASSA DALAM BENCANA: MENGGUGAH KHALAYAK

Intro: Kalau bencana alam melanda, orang harus mulai berpikir. Sesudah itu 
mereka harus bertindak. Media massa berperan penting dalam upaya penyelamatan 
jiwa ini. Wartawan di negara-negara yang sering dilanda bencana jelas sudah 
terbekali dengan hal-hal penting ini. Tetapi dengan makin nyatanya perubahan 
iklim, badai dan banjir juga bisa melanda tempat-tempat yang sebelumnya tidak 
pernah kenal bencana macam itu. Laporan redaktur internasional Laurens Nijzink.

"Kita tidak butuh ilmu pengetahuan lagi, kita butuh cerita," demikian Eelco 
Dijkstra, gurubesar pengelolaan darurat. Dijkstra berbicara di depan hadirin 
internasional pada Dialog Lembaga Penyiaran Eropa Asia Pasifik di Amsterdam.

Eelco Dijkstra: "Grafik ilmiah, informasi ilmiah tidak begitu menarik kalangan 
non-ilmuwan. Jadi, kalau ingin melibatkan khalayak ramai, maka mereka harus 
diberi cerita yang bisa melibatkan mereka. Dan tidak ada jalan yang lebih baik 
lagi daripada membuat mereka secara pribadi bertanggung jawab pada masalah yang 
ada. 'Apa yang Anda pikirkan, apa yang akan Anda lakukan, apa harapan Anda yang 
patut dilakukan orang lain, apa yang bisa Anda lakukan untuk diri sendiri?' 
Semuanya harus dibikin hidup. Dengan begitu orang akan berpikir. Pada saat itu 
mereka akan melibatkan diri. Masalah terbesar yang dihadapi banyak pemerintahan 
adalah mereka ingin memberitahu orang tapi tidak tahu apa yang harus 
diberitahukan."

Dijkstra menunjuk pada peran penting media massa pada saat Eropa dilanda badai 
besar, seperti Katrina yang melanda Pantai Timur Amerika tahun 2005. Pada apa 
yang disebut "bagaimana kalau" ini, Eelco Dijkstra menunjuk empat saat penting.

1. Dua pekan menjelang badai. Sudahkah Eropa siap menangani keadaan darurat 
seperti itu?

2. Dua hari sebelum badai melanda Eropa. Bagaimana media massa bisa sebanyak 
mungkin menyelamatkan orang?

3. Seminggu setelah badai. Sekarang sudah jelas cakupan bencananya. Kebutuhan 
informasi meningkat, mulai dari yang paling praktis (di mana bisa diperoleh 
makanan?) sampai mencari sanak saudara.

4. Mulai pembangunan kembali.

Eelco Dijkstra mendasarkan cerita "bagaimana kalaunya" pada kajian bencana 
Katrina. Terdapat beberapa persamaan dengan keadaan Negeri Belanda. Wilayah 
sekitar New Orleans dan Negeri Belanda sama-sama berada di bawah permukaan 
laut. 

Eelco Dijkstra menekankan bahwa pada saat krisis, pemerintah daerah dan 
pemerintah pusat kalau bekerjasama erat dengan media massa.

Eelco Dijkstra: Peran dan pentingnya media massa lebih besar dari yang dikira 
media itu sendiri. Media massa adalah perekat antara pemerintah dengan warga. 
Terlalu banyak rakyat yang tidak percaya pada pemerintah. Tanpa adanya 
kepercayaan ini orang tidak akan bisa melakukan pengendalian krisis dengan 
baik. 

Kedengarannya bisa tidak masuk akal, tetapi ini juga berarti sikap kritis media 
terhadap pemerintah, khususnya menjelang dan sesudah terjadi keadaan darurat.

Jurnalis harus bisa menjelaskan apa yang dikerjakan pemerintah dalam mencegah 
tsunami, banjir dan bencana lain. Selain itu juga harus jelas langkah-langkah 
apa yang akan diambil ketika terjadi bencana dan sesudah bencana itu melanda. 
Dalam kata-kata Dijkstra: "Kalau rakyat tidak tahu apa yang dikerjakan 
pemerintah untuk mereka, maka mereka juga tidak akan tahu apa yang harus mereka 
lakukan sendiri."


* ORANG ARMENIA DAN TURKI DI BELANDA JUGA TIDAK TAHU

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Turki berupaya mendekati Armenia. 
Sejarah bangsa Armenia yang kristen dan bangsa Turki yang islam dipenuhi dengan 
sengketa. Yang tergawat adalah penolakan pemerintah Turki untuk mengakui 
pembunuhan ratusan ribu orang Armenia selama Perang Dunia Pertama sebagai 
genosida. Kenapa sekarang Turki ingin rujuk? Laporan redaktur internasional 
Martijn van Tol.


Di Den Haag tiga orang Belanda keturunan Armenia dan seorang keturunan Turki 
bertemu membicarakan masalah ini. 

Araik, 27 tahun, dibesarkan di Yerevan, ibukota Armenia. "Sejak kecil sudah 
saya dengar genosida ini yang tiap tahun kami peringati. Soal pembunuhan massal 
itu, saya sampai mengira di Turki ke mana-mana orang bawa pedang."

Sedangkan Arpa Telimi, 28 tahun, membenarkan, walaupun dia dibesarkan di 
Spijkenisse, dekat Rotterdam. "Sejak kecil saya sudah dibanjiri berita dan foto 
tentang pembunuhan massal ini. Kami juga hadir pada peringatan tahunan. Setiap 
orang Belanda selalu mengira saya ini keturunan Turki. Kalau saya protes mereka 
lalu bilang, "lho itu kan sama saja," saya tidak suka itu."

Salib
Asena Kibrit, 23 tahun, tidak tampak seperti orang Armenia. Maklum rambutnya 
pirang dengan kulit putih. "Saya dibesarkan di Istambul, tapi ke sekolah 
Armenia, saya tinggal di dunia Armenia di Turki." Walaupun Asena fasih 
berbahasa Turki dan teman-teman Turkinya juga banyak, ia merasa tidak bisa 
sepenuhnya hidup sebagai orang Armenia. "Kami berupaya tidak menonjol, salib 
saya sembunyikan di balik baju dan di Turki kami tidak bisa mengadakan upacara 
peringatan genosida."

Sedangkan Melek Karasu, 32 tahun, pemuda Turki tapi tidak banyak berbeda dari 
Araik dan Arpa. Melek juga dibesarkan di Istambul. "Kami selalu diberi tahu 
bahwa orang-orang Armenia itu tidak adil dan mencuri kekayaan kami." Melek 
tidak pernah mendengar apapun tentang pembunuhan massal orang Armenia. "Baru di 
Belanda saya tahu tentang itu. Lebih dari itu, baru hari ini saya duduk 
bersama-sama orang Armenia." 

Digelandang
Asena Kibrit juga baru tahu soal pembunuhan massal orang Armenia ketika ia tiba 
di Belanda, termasuk bagaimana dulu Turki bermusuhan sengit dengan Armenia. 
Walau begitu di Belanda ia tidak mengalami kelahiran kembali jatidiri 
Armenianya. "Karena dibesarkan bersama orang Turki, saja jadi pragmatis. 
Sekarang jelas lain sekali. Kalau di Belanda sini saya berteriak hidup Armenia 
di jalanan, maka orang akan mengira betapa aneh saya ini. Tetapi kalau itu saya 
lakukan di Turki, maka dua menit kemudian saya pasti akan digelandang ke kantor 
polisi."

Di Spijkenisse, dekat Rotterdam, Arpa bisa mengembangkan nasionalisme 
Armenianya. "Sudah sejak kanak-kanak saya ingin berbuat sesuatu untuk 
mempertahankan tradisi Armenia. Justru karena dua pertiga rakyat Armenia sudah 
dilenyapkan, maka tugas ini jatuh ke pundak kami." Dengan antusias Arpa 
menambahkan, "Tidak perduli di mana, kalau kita menghargai diri sendiri sebagai 
orang Armenia, maka pasti kita sibuk dengan hal ini."

Bohong besar
Araik mengaku, baru di Belanda ia berhubungan dengan orang Turki. Walau sudah 
punya teman-teman Turki, ia tidak bisa bebas bicara soal genosida orang 
Armenia. Ketika sekolah di Rotterdam, Arpa tiba-tiba duduk sekelas dengan 
orang-orang Turki. Waktu itu dia mengaku takut menyatakan dirinya orang 
Armenia. Tapi akhirnya tidak apa-apa juga. Hanya beberapa orang Turki yang 
menyatakan bahwa pembunuhan orang Armenia itu bohong besar. Tetapi masalah ini 
tetap bisa dibicarakan secara terbuka. 

"Yang benar-benar tidak saya pahami," kata Asena pada Melek, "ternyata ada juga 
orang Turki yang dibesarkan di Belanda, tapi tidak tahu sejarah, tiap tahun 
mereka pulang ke Turki, bukankah orang-orang Turki ini yang benci pada orang 
Armenia?"

Melek menimpali, justru karena mereka tinggal di Belanda perbedaan itu nyata. 
Di Belanda, orang terkena krisis jati diri, sehingga perasaan senasib dengan 
sesama jadi lebih besar.

Asena akhirnya dengan sedikit putus asa menyimpulkan, isu genosida adalah 
sesuatu yang sangat dalam tertanam dalam jiwa orang Armenia. Ia mengaku punya 
banyak teman Turki, tetapi tetap tidak bisa bebas bicara soal tersebut dengan 
mereka.

Tanpa dendam
"Sepertinya tidak akan terjadi, tapi kalau pendekatan Turki Armenia bisa 
mengarah pada pengakuan, maka itu adalah sesuatu yang indah," kata Araik 
sedikit emosi. "Orang Turki tidak akan merasa malu, dan orang Armenia juga 
tidak akan menyimpan dendam. Generasi berikut akan merasakan hidup yang lain."

Arpa sangat berharap prasangka antara orang Turki dan Armenia akan berakhir. 
Pembicaraan antara generasi muda Turki dan Armenia ini berakhir dengan harapan, 
tetapi jalan keluar tampaknya masih jauh, juga di kalangan orang-orang Turki 
dan Armenia di Belanda.


* Uji DNA Tan Malaka Cocok

Setelah pembongkaran makam di desa Selopanggung. Kediri, dan melalui uji DNA  
yang dilakukan tim forensik  Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 
ternyata jasad yang ditemukan adalah benar jasad Tan Malaka. Dari 14 aspek 
pencocokan yang dilakukan, sembilan aspek dinyatakan cocok. Pihak keluarga Tan 
Malaka rencananya akan mengumumkan hasil pencocokan DNA, bertepatan dengan Hari 
Pahlawan 10 November ini. Kepada Radio Nederland Wereldomroep, pakar sejarah 
dan penulis biografi Tan Malaka, Hari Poeze, mengungkapkan tanggapannya. 

Hari Poeze [HP]: Saya memang sangat gembira bahwa penggalian jasad itu sudah 
sukses dalam bidang penyesuaian DNA yang didapat dengan DNA keponakan Tan 
Malaka. Dan penggalian ini sudah dua bulan yang lalu, dan tidak ada berita 
mengenai hasilnya, karena itu saya menjadi sangsi dan curiga, apakah hasil itu, 
yang digali itu bukan Tan Malaka. 

Tetapi sekarang saya baca setengah jam yang lalu, di internet saya dapat berita 
Tepo Interakrif itu, dan memang saya gembira penelitian saya mengenai riwayat 
hidup Tan Malaka sukses dalam bidang itu. Juga karena saya yakin bahwa Tan 
Malaka ditembak mati di desa kecil itu. Tapi ya keyakinan sayabelum dibuktikan 
dan hari ini dibuktikan dengan kepastian bahwa jasad itu adalah memang Tan 
Malaka. Dan seterusnya Tan Malaka bisa diberi monumen yang pasti untuk Phlawan 
Nasional. 

Di mana monumen, di mana tugu peringatan akan didirikan, itu belum tentu.  Tapi 
soal pertama yang terpenting  adalah bahwa jasadnya sudah ditemukan. 

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Sebagai seorang pakar sejarah yang 
menelusuri riwayat hidup Tan Malaka, siapa sebenarnya Tan Malaka itu? Sehingga 
kita kita menamakan dia sebagai Pahlawan Nasional, apa lagi hari ini adalah 
Hari Pahlawan 10 November?

HP:  Ini adalah hari yang sangat pasti untuk memberitahukan  berita itu, karena 
Tan Malaka diangkat menjadi Pahlawan Nasional sudah lama. Dia memang seorang 
yang   peranannya dalam sejarah Indonesia sangat penting. Dan saya sudah 
menulis  beberapa buku tentang Tn Malaka dan biografinya yang saya tulis yang 
tebalnya lebih dari 2000 halaman. 

Untuk mengikuti wawancara selengkapnya Hari Poeze ini anda dapat membuka situs 
web kami www.ranesi.nl.


* DRAMA BIBIT-CHANDRA: BOLA KEMBALI KE SBY
 
Drama kasus Bibit-Chandra belum berakhir. Dan bola kembali ke tangan Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono, Kejaksaan Agung dan Kepolisian. Presiden meminta 
Jaksa Agung dan Kapolri menimbang rekomendasi-sementara Tim Pencari Fakta TPF 
yang menyimpulkan bahwa penyelidikan kasus tersebut lemah. Namun, permintaan 
Kepala Negara itu tidak ditegaskan sebagai pesan: "Silahkan mundur, jika 
gagal". Maka penyidikan kasus Bibit-Chandra tampaknya akan dilanjutkan. 
Walhasil, drama seputar tuduhan terhadap dua pimpinan Komisi Pemberantasan 
Korupsi KPK itu, memang bukan Watergate yang pernah memakzulkan Presiden Nixon. 
 Berikut, catatan Aboeprijadi Santoso.

Tim Delapan atau TPF kasus Bibit-Chandra telah bekerja dengan baik dan 
transparan, namun tak mampu menuntaskan perkara tsb. Ironisnya, "kegagalan" ini 
justru merupakan sukses dan kesimpulan Tim-8. Pertama, karena pihak Kepolisian 
mau pun Kejaksaan dianggap gagal membuktikan terjadinya penyuapan dan pemerasan 
terhadap kedua pimpinan KPK tsb; kedua, karena aliran dana dari pengusaha 
Anggodo Wijoyo ke KPK itu tak jelas.

Dua kesimpulan Tim-8 ini memang sudah banyak diramalkan sebelumnya. Kasusnya 
berawal dari inisiatif polisi untuk mencurigai testimoni pengusaha Anggoro 
Wijaya sebagai upaya untuk menyuap KPK atau upaya dua pimpinan KPK, Bibit Samad 
Riyanto dan Chandra Hamzah untuk memeras Anggoro. Pihak polisi rupanya hendak 
memanfaatkan wawancara Antasari Azhar, mantan Ketua KPK yang menjadi tersangka 
kasus pembunuhan, agar menjadi bumerang bagi lembaga KPK itu sendiri. Kubu 
polisi, dalam hal ini Kabareskrim, yaitu orang ketiga Polri, Komjen Susno 
Duadji, bahkan sempat mengejek KPK sebagai "cicak" yang hendak mengusik 
"buaya". 

Akibatnya publik marah, tokoh tokoh nasional, termasuk mantan pimpinan KPK, 
politisi, masyarakat sipil, membela Bibit dan Chandra dengan menyediakan diri 
sebagai tahanan. Satu hal yang tak pernah terjadi di masa lalu. Bahkan publik 
dunia maya, utamanya jejaring facebook, menghujat kubu Buaya dan gelombang 
protes dan demonstrasi pun bergulir selama beberapa minggu. Mengapa Anggoro, 
Direktur PT Masaro yang sembunyi di Singapura, merasa perlu memberi testimoni 
dan adiknya, Anggodo, kemudian mengatur penyaluran uang kepada pimpinan KPK? 
Maka drama pun berpuncak ketika polisi menahan Bibit dan Chandra sebagai 
tersangka dan hampir bersamaan waktu beredar rekaman pembicaraan Anggodo dengan 
berbagai pihak yang mengindikasikan upaya rekayasa mengkriminalkan pimpinan 
KPK. 

Gayung tuduhan kubu Cicak ini segera bersambut. Presiden membentuk TPF dan TPF 
pun mengajak MK, Mahkamah Konstitusi untuk memperdengarkan rekaman Anggodo. 
Penjelasan Kapolri di muka DPR dianggap rapuh, bahkan ini pun belakangan diakui 
oleh Jaksa Agung. Tuduhan bahwa Bibit dan Chandra memeras Anggoro tak mungkin 
dibuktikan. Bahkan aliran dana dari Anggodo ke KPK penuh lubang. Dua tokoh 
kuncinya, yang disebut-sebut menjadi perantara antara Anggoro/Anggodo dan KPK, 
yaitu Ary Muladi dan Julianto - yang satu plintat plintut, yang lain tak jelas 
keberadaannya. 

Singkatnya, Kejaksaan Agung dan terutama Kepolisian harus menanggung aib karena 
dianggap mereka-reka tuduhan terhadap KPK. Celakanya pula, keterangan Kapolri 
di muka DPR justru disambut dengan puja puji. 

Walhasil, bagi publik pun makin jelas ada mafia, tidak hanya di aparat penegak 
hukum, tapi juga di sekitar lembaga perwakilan. Tidak hanya masyarakat sipil di 
kubu Cicak, bahkan kalangan politisi kini menuntut agar Presiden SBY menjadikan 
drama ini sebagai momentum baru - pembuka pintu menuju perombakan lembaga 
lembaga penegak hukum, terutama kepolisian. Apalagi pihak kepolisian kini malah 
hendak melanjutkan penyidikan kasus Bibit-Chandra yang memancing protes public.

Persoalan menjadi rumit karena Komjen Susno Duadji yang menjadi bulan-bulanan 
kritik, juga disebut-sebut terlibat penyaluran dana Bank Century yang baru baru 
ini justru ditalangi pemerintah dengan dana hingga 6 milyar rupiah. Maka timbul 
pertanyaan, jangan jangan drama Bibit-Chandra tadi sekadar asap belaka yang 
menutu-nutupi skandal Century. 

Dengan kata lain, ada Centurygate yang mirip Watergate. Di Amerika kasus 
pencurian di markas Partai Republik Watergate tahun 70an gagal menutupi 
permainan curang partai tsb untuk memenangkan Richard Nixon, sehingga Presiden 
Nixon akhirnya harus turun. 

Tetapi harus dicatat, dalam kasus Indonesia, Presiden SBY baru mulai memimpin 
dengan legitimasi kemenangan besar dalam pilpres yang baru saja berlalu. Selain 
itu, gelombang protes seputar perang Cicak-Buaya sama sekali bukanlah seperti 
People Power yang membuat Soeharto mundur tahun 98. 

Walhasil, mirip pertandingan tinju, kubu Cicak baru menang angka. Apakah sang 
Buaya akan knock out atau tidak, tergantung pada Presiden SBY, Jakgung dan 
polisi. Jangan jangan buaya itu hanya akan masuk kandang saja.


---------------------------------------------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.radionetherlands.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[email protected]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep. 
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke