Menyerahkan Kesuksesan Kita Kepada Orang Lain

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Anda mungkin pernah mendengar orang mengatakan; "gue yang susah-susah 
membangun semuanya ini, tapi yang menikmatinya malah orang-orang 
sesudah gue."  Sounds familiar ya? Benar. Karena memang banyak orang 
yang merasa berat untuk merelakan orang lain menikmati sukses itu. 
Jadi, tidak mengherankan jika ada orang yang merasa bahwa semua jerih 
payah yang sudah dilakukannya belum tertebus. Sehingga, dia merasa 
pantas untuk mendapatkan semua imbalannya. Lantas berebut mendapatkan 
kedudukan. Dan berusaha mati-matian untuk mempertahankannya selama 
mungkin. 

Dalam salah satu sesi radio talkshow, seorang pendengar menelepon 
kami. Ketika itu kami sedang membahas tentang pelajaran yang 
disampaikan seekor kupu-kupu kepada manusia. Kita belajar bagaimana 
sang ulat yang buruk rupa berupaya keras membangun dirinya, hingga 
kemudian berhasil bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah. Kata 
sang penelepon;"Tapi, setelah sang ulat sukses menjadi kupu-kupu 
indah malah cepat menjadi mati. Mengapa mesti begitu?" 

Saya beruntung mendapatkan pertanyaan serupa itu. Karena pertanyaan 
itu membawa kita kepada sebuah kesadaran akan banyak hal. Bagi saya, 
perilaku yang ditunjukkan oleh sang kupu-kupu mengisyaratkan tiga hal 
penting. Pertama, kesadaran tentang betapa kita bertanggung jawab 
untuk mempersiapkan generasi penerus, atau yang biasa kita sebut 
sebagai talent management. Kedua, kesadaran atas betapa indahnya 
membebaskan diri dari sifat monopoli dan keserakahan. Dan ketiga, 
kesadaran tentang hadiah terindah yang disediakan bagi orang-orang 
yang berhasil membuat hidupnya bermakna.  

Apa yang diajarkan sang kupu-kupu tentang talent management? Katanya, 
kita semua bertugas untuk menjadi orang yang memiliki keunggulan. 
Keunggulan itu bisa membawa kita kepada pencapaian yang tinggi. Dan, 
sesaat setelah kita meraih pencapain tinggi itu, kita mesti mulai 
mewujudkan tanggungjawab untuk mempersiapkan generasi penerus. Dengan 
begitu kita bisa membantu orang lain menapaki pencapaian yang tinggi 
pula. 

Seekor kupu-kupu membawa sebuah misi yang sangat agung. Yaitu; 
menghasilkan telur. Dan, telur-telur itu menetas menjadi ulat, untuk 
kemudian bermetamorfosis menjadi  kupu-kupu lainnya. Ulat sendirian 
tidak bisa bertelur untuk menjaga kelangsungan hidup spesiesnya. 
Sehingga, menjadi kupu-kupu tiada lain adalah menjadi penghubung 
antara generasi masa kini dan masa depan. Artinya, ketika memilih 
kita untuk menjadi manusia sukses dihari ini; sesungguh  alam tengah 
menurunkan mandat kepada kita untuk menjadi jembatan antara sukses 
masa kini dan masa depan melalui generasi-generasi baru yang kita 
persiapkan untuk menggantikan kita. 

Pemahaman ini juga mengantarkan kita terhadap kesadaran atas betapa 
indahnya membebaskan diri dari sifat monopoli dan keserakahan itu. 
Seperti yang dikatakan sang penelepon tadi; sang kupu-kupu rela mati 
tak lama setelah itu. Berkebalikan dengan kupu-kupu; kita para 
manusia sering menginginkan kesuksesan itu menjadi milik kita selama-
lamanya. Kita takut jika kedudukan yang kita sandang ini berpindah 
tangan, atau dikembalikan kepada sang pemilik mandat. Makanya, tidak 
heran jika kita selalu sibuk dengan usaha-usaha untuk mempertahankan 
posisi bagus itu untuk diri kita. Kita lupa bahwa masa kita sudah 
tiba. Dan kini giliran orang lain untuk menikmati sukses itu. 

Padahal, seperti sang kupu-kupu seharusnya kita tidak terjebak pada 
keindahan diri. Sebab, sesaat setelah menjadi indah; kita mempunyai 
tanggungjawab untuk menyerahkan keindahan itu kepada orang yang 
berhak untuk menerimanya dari kita. Meniru sang kupu-kupu bisa 
membantu kita terbebas dari sifat tamak. Sehingga, ketika tiba saat 
untuk menyerahkan kursi itu kepada orang lain, tidak terasa berat.  

Saya mengerti bahwa sikap seperti ini agak sulit untuk diterima akal. 
Tak lazim. Terutama dijaman ketika orang saling berlomba untuk 
memperebutkan kedudukan dan jabatan. Tapi, saya mengenal seseorang 
yang berjibaku ketika keadaan serba sulit. Berusaha mati-matian untuk 
membangun sesuatu pada saat segalanya masih belum berbentuk. Namun, 
ketika berhasil membenahi segala sesuatunya; dia malah melepaskan 
kesempatan untuk mereguk nikmat hasilnya. Baginya, tugas itu sudah 
selesai. Lalu, secara perlahan namun pasti dia menarik diri dan 
menyerahkan sepenuhnya pencapaian itu kepada orang lain.

Lantas, apa yang didapatkan sang kupu-kupu setelah semua susah dan 
jerih itu? Mengapa dia memilih untuk bergegas mati? Bukankah tidak 
sebaiknya dia menikmati semua itu sedikit lebih lama lagi? Menggapa 
setelah seseorang bersusah payah membangun sesuatu harus menyerahkan 
hasil kerja kerasnya kepada orang lain? Rangkaian pertanyaan ini 
mengantar kita kepada kesadaran yang ketiga. 

Sang kupu-kupu mengingatkan kita tentang hadiah terindah yang 
disediakan bagi orang-orang yang berhasil membuat hidupnya 
bermakna.  "Hey, ketahuilah..." begitu sang kupu-kupu berkata. "Tuhan 
telah menyediakan hadiah yang lebih indah dialam keabadian yang 
menanti kita....." lanjutnya.  Oh, rupanya kebahagiaan hakiki itu 
adanya tidak dialam material. Manusia-manusia yang tak henti berbuat 
kebajikan dihibur oleh kabar bahwa; semua perbuatan baiknya untuk 
orang lain pasti berbalas kebaikan. Dan Tuhan sudah menyediakan 
hadiah untuk setiap kebajikan yang diperbuatnya. Apakah anda meyakini 
hal itu? 

Apakah anda juga yakin bahwa hadiah dari Tuhan lebih indah dibanding 
apapun yang bisa disediakan manusia? Saya meyakini itu. Dan sekarang 
kita mengerti; mengapa sang kupu-kupu mengajari kita untuk berlapang 
dada ketika menyerahkan kesuksesan yang kita bangun itu kepada orang 
lain. Karena, rupanya, ada imbalan lain yang jauh lebih bernilai 
dimata Tuhan. Sang kupu-kupu mengajarkan bahwa yang terpenting bagi 
kita adalah membaktikan diri bagi apapun yang kita tekuni. Lalu, 
mengijinkan orang lain menikmatinya. Karena, bagi kita. Sudah 
disediakan. Hadiah. Yang lebih. Indah.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki: 
Ada banyak kenikmatan yang bisa kita dapat. Tetapi, tak ada yang 
melebihi nikmat saat kita melihat orang lain ikut menikmatinya. 

Talkshow berikutnya hari senin tanggal 24 November 2008 Jam 6.30 – 
8.00 pagi di 103.4 MHz Radio Day FM Jakarta. 


Kirim email ke