*Secuplik Tentang Pacing-Leading*

*Read More*? http://indonesianlpsociety.org

*Join the Community*? [email protected]

*Upcoming Event*? *The Art of Self Mastery (Fundamental Module), 21-22 Maret
2009*



“Bagaimana sih, ceritanya *pacing-leading* bisa menjadi jalan untuk
membangun keakraban?”

Demikian pertanyaan yang seringkali saya dengar pada beberapa kelas yang di
dalamnya saya selipkan materi tentang cara membangun *rapport* ala NLP.
Sebagaimana hobi saya memang amat gemar membagi pengetahuan apapun yang saya
miliki sekalipun baru secuil, maka saya pun teringat pengalaman saya di
kelas NLP for Teacher beberapa waktu lalu.

Bukan sulap bukan sihir, sebuah demonstrasi sederhana menggunakan prinsip *
pacing*-*leading* rupanya bekerja dengan amat baik untuk membantu salah
seorang peserta mempelajari bahasa baru yang belum pernah ia pelajari
sebelumnya.

Kok bisa? Bagaimana caranya?

Mudah saja. Kebetulan saat itu ada seorang kawan yang mampir di kelas, yang
membawa kawannya lagi yang rupanya adalah orang Bali. Maka saya pun meminta
kawannya kawan saya itu untuk maju ke depan. Sementara itu, salah seorang
peserta juga maju ke depan untuk menjadi subyek demonstrasi. Saya pun
meminta kawannya kawan saya tadi untuk menggubah sebuah kalimat dalam bahasa
Bali yang semuanya murni menggunakan kosa kata Bali. “Jangan sampai ada
kata-kata yang umum di dalam bahasa Indonesia, gunakan hanya bahasa Bali,”
tekan saya.

Maka ia pun menggubah sebuah kalimat dengan bahasa yang bagi saya
betul-betul bahasa planet. “Sudah? OK, sekarang ucapkan kembali kalimat
tersebut dengan penuh penghayatan, sehingga seluruh bahasa tubuh Anda begitu
selaras dengan isi kalimat tersebut,” lanjut instruksi saya.

Dan ia pun mengulangi kembali kalimat tersebut dengan penghayatan yang
disertai dengan gerakan tubuh yang sesuai. Setelah itu, saya pun meminta
salah seorang peserta untuk menirukan persis kalimat tersebut berikut bahasa
tubuh yang mendukungnya. “Tirukan saja, sepersis mungkin, setiap detilnya,”
jelas saya.

Setelah beberapa kali ia mengulang, saya pun bertanya pada peserta tersebut,
“Nah, jika Anda sudah merasa cukup persis melakukannya, sekarang, apa
menurut Anda makna dari kalimat tersebut?”

“Mmm…persisnya kurang tahu ya. Tapi, rasanya kok seperti, ‘Saya tuh senang
banget kalau pergi ke pantai’,” jawabnya.

Ups, lagi-lagi saya tekankan, ini bukan sulap, apalagi sihir. Karena ini
cuma *pacing-leading* kok.

Loh, kok bisa gitu? *Pacing-leading* itu kan katanya ilmu meniru-niru, agar
orang “merasa” sama untuk kemudian bisa kita arahkan?

Nah, itu dia. Saya juga baru tahu setelah menguplek-uplek pelajaran dari
para suhu NLP. Dalam salah satu bukunya, Robert Dilts bahkan pernah
menceritakan tentang penelusuran terhadap metode seseorang yang menguasai 40
lebih bahasa dunia, dan tidak pernah tertukar antara satu bahasa dengan
bahasa yang lain!

Wuih!!! Mantab!!! Bagaimana caranya ya?

Usut punya usut, rupa-rupanya tidak jauh-jauh dari konsep dasar NLP tentang
*state* alias kondisi pikiran-perasaan. Silakan membuka kembali pelajaran
dasar NLP, terutama yang ada gambarnya “Human Model of the World” atau
kadang-kadang diberi judul “NLP Communication Model”. Apa yang ada
disana?????

Yak, pinter… Jika gambar Anda sama dengan gambar saya, maka yang ada di
sebelah kiri adalah sebuah visualisasi bahwa yang namanya
*state*dipengaruhi oleh representasi internal dan fisiologi (gerakan
tubuh). Dan,
*state* itu pulalah yang akan menjadi penentu munculnya perilaku tertentu.
Lagi *state* sedih, maka perilaku pun akan melouw-melouw.Lagi
*state*gembira habis terima bonus, maka perilaku pun tebar senyum
penuh pesona.
Ketika *state* sedang PD abiez, bicara pun lancar layaknya air mengalir.
Saat *state* sedang grogi, maka menelurkan satu kata saja lidah kelu bukan
kepalang.

Demikianlah, Om Dilts pun mengemukakan bahwa setiap bahasa pun memiliki *
state*-nya masing-masing. Bukankah Anda merasakan emosi yang berbeda ketika
bicara dengan orang berbahasa Jawa Solo? Bandingkan dengan bahasa Batak?
Bagaimana dengan bahasa Minang?

Ya, mempelajari bahasa sejatinya adalah mempelajari kondisi pikiran-perasaan
yang membangun bahasa tersebut. Masuk ke dalamnya, dan Anda akan mudah untuk
memahami ruh darinya. Maka tidak heran jika mereka yang pernah tinggal di
negara tertentu selama beberapa bulan saja pastilah bisa menguasai bahasa
negara tersebut dengan mudah. Bandingkan dengan seseorang yang les bahasa
Inggris bertahun-tahun, lulus dan mendapatkan sertifikat dari lembaga
bergengsi, namun masih terbata-bata ketika ditanyai oleh bule di Jalan
Jaksa.

Eh, kok jadi ngomongi bahasa ya? Lah, memangnya tadi saya mau bicara apa ya?

Ah, saya ingat! Ya, *pacing-leading*. Kok bisa ya ia punya manfaat yang luas
begitu? Bagaimana sih cara kerjanya?

Sederhana kok. Cukup kunjungi kembali presuposisi NLP yang mengatakan bahwa
tubuh dan pikiran adalah satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Maka ketika
kita mengikuti gerakan seseorang dengan penuh penghayatan, seketika kita pun
diajak untuk merasakan kondisi pikiran-perasaan yang sedang ia alami. Tidak
mengherankan, jika kemudian *pacing-leading* merupakan prinsip dasar
membangun keakraban. Bagaimana ndak akrab? La wong kita bisa merasakan
getaran yang sama dengan rekan bicara kita. Bagaimana ndak merasakan getaran
yang sama? La wong kita betul-betul menghayati gerakan tubuh dan pola bahasa
yang ia gunakan. Begitu kita berada pada *state* yang sama, kita pun bisa
memiliki ‘gambar’ dan ‘suara’ yang selaras. Dengan sendirinya, kita pun bisa
memahami *map* yang ia gunakan. Dan omong-omong, siapa coba yang tidak
senang jika ia dipahami?

Demikianlah, *pacing-leading* yang diajarkan NLP bukanlah sebuah pepesan
kosong berasa. Ia justru merupakan pesesan isi jika diterapkan secara benar
dengan pengetahuan dan keterampilan yang benar. Nah, omong-omong lagi soal
benar ini tadi, inilah yang membedakan praktisi NLP pemula dengan
berpengalaman. Mereka yang berpengalaman sudah mengetahui ‘rahasia kecil’
ini, *the difference that makes a difference*.

Ssst…diam-diam ya. Biar kita saja yang tahu…


-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>

Kirim email ke