Kisah Anak Jalanan

Pagi ini hari minggu, perjalananku dari Bogor menuju Jakarta tidak seperti 
biasanya menggunakan kendaraan pribadi ataupun bus, perjalanan Bogor 
Jakarta dan sebaliknya, sekarang dengan kenaikan harga tol maupun harga BBM 
menjadi terasa berat sekali, salah satu alternatif yang baik adalah 
menggunakan kereta api. Kereta Api Listrik (KRL) adalah salah satu alat 
angkut yang murah, sebagai sarana transportasi masyarakat Jabotabek, pada 
saat bekerja maupun berlibur. Di dalam gerbong KRL  di sana banyak sekali 
kegiatan yang dilakukan anak manusia, ada yang diam menikmati perjalanan, 
ada yang jualan, ada yang main kartu, ada juga yang bikin acara arisan, ada 
yang ngamen bahkan ada juga yang nyopet. Apabila anda mau melihat potret 
ekonomi di Indonesia, salah satu tempat yang cocok untuk di teliti adalah KRL.

Keretaku sudah masuk kotip Depok, lamat-lamat terdengar suara musik 
pengamen menghampiriku, lagu populer yang dikumandangkan itu seakan 
bertambah meriah, ditimpuki deru kereta yang terkadang meninggi terkadang 
menurun, irama tubuh yang digoncang juga seakan menyatu dengan irama musik 
yang disajikan, duh.. senangnya. Suasana kereta hari ini tidak sepenuh 
biasanya, mungkin karena hari minggu sehingga jarang sekali orang Bogor 
yang hendak beraktifitas di Jakarta.

Kereta akhirnya berhenti di Stasiun Manggarai, aku turun dan duduk di kursi 
panjang yang ada di sana. Kulihat pengamen di gerbong kereta menghampiriku, 
dan duduk disampingku, sambil membawa alat musik ukulele, sejenis gitar 
tapi kecil bentuknya, mirip ukulele miliknya Mang Udel artis sinetron tahun 
80-an.

Sekedar untuk mengisi waktu aku berkenalan dengannya, katanya namanya "Si 
Komprang",demikianlah kerap namanya disebut oleh kawan-kawannya,  nama 
sesungguhnya adalah Zainal Ibrahim, mungkin karena tiap harinya selalu 
pakai celana komprang maka disebut Si Komprang, urainya singkat sambil 
menyetem ukulelenya.

Remaja kelahiran Bukit Duri, Jakarta  lahirnya tepat pada perayaan hari 
pahlawan tahun 1989. Anak keenam dari delapan bersaudara tersebut tiap hari 
sibuk hilir mudik dari Tebet-Bogor-Sukabumi, mungkin demikian suratan 
takdir membawanya untuk setia mengamen di gerbong-gerbong  menghibur 
penumpang kereta api sepulang dari sekolahnya di SMP YWKA, sekolah swasta 
yang dikelola oleh Ibu-ibu Dharma Wanita Kereta Api.

Zainal menjual suara merdunya untuk membantu memperoleh pendapatan tambahan 
kedua orangtuanya yang dirasa tidak mencukupi untuk hidup nyaman di 
belantara Ibu kota. Ayahnya setiap harinya bekerja sebagai tukang ojeg di 
Bukit Duri, Tebet, sementara Ibunya menjadi tukang jahit pakaian.

Disela-sela rutinitas kegiatannya Zainal masih menyempatkan diri bermain 
bola, "Seorang lelaki haruslah pandai bermain sepak bola" ungkapnya, 
sehingga ketika ditanya perihal cita-citanya, Zainal ingin menjadi artis 
penyanyi terkenal, dan sekaligus menjadi pemain sepak bola handal.Untuk 
mewujudkan cita-citanya, Zainal banyak mengikuti lomba menyanyi tingkat 
anak di wilayah Jabodetabek. Tak bisa diremehkan, Zainal pernah menyabet 
Runner Up, pada kejuaraan lomba penyanyi solo, untuk katagori anak-anak se 
Jabodetabek, pada beberapa tahun silam.

Terdengar peluit kereta dari arah seberang, Zainal hendak melanjutkan 
perburuannya mengumpulkan koin dan lembaran rupiah untuk melanjutkan 
kehidupannya.

Pada penghujung bincang-bincang dengan saya, Zainal menyampaikan 
pesan-pesan untuk kawan-kawannya katanya "Jangan putus asa apabila kita 
mengerjakan sesuatu yang tidak kita pahami, bertanyalah kepada yang lebih 
tahu. Agar lekas pintar", ungkapnya berfilsafat. Perjuangan adalah kata 
milik  manusia, dan rachmat adalah menurut Tuhan.

Berkaca dari pengalaman Zainal diatas, saya merasakan bahwa keterbelakangan 
bangsa kita dari bangsa-bangsa lain  merupakan salah satu akibat dari 
lemahnya perencanaan pendidikan nasional. Jutaan anak-anak Indonesia sejak 
usia Sekolah Dasar kini putus sekolah, anak-anak jalanan semakin lama 
justru semakin bertaburan menghiasi perempatan kota-kota besar di 
Indonesia. Sementara itu jutaan tenaga kerja usia produktif menganggur. 
Untuk keluar dari dilema keterpurukan ini tak ada jalan lain kecuali 
membuat setiap anak bangsa bisa menghasilkan karya untuk membuat hidup 
menjadi lebih baik, karena sukses individu adalah sukses bangsa dan sukses 
bangsa merupakan  akumulasi dari sukses individu.

Menurut Drs. Ahmad Zayyadi, ketua Yayasan Bina Anak Pertiwi yang biasa 
mengurusi anak-anak jalanan menjelaskan kalau kiprah yayasannya itu  adalah 
untuk membangun citra dari anak jalanan "Sebagai anak manusia yang 
bermoral, beradab serta memulihkan kebanggaan dan harga  diri yang tinggi".

Dr. Marwah Daud Ibrahim pimpinan Tim "Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa 
Depan" (MHMMD Team) ketika ditanya perihal kesuksesan anak jalanan 
menjelaskan  bahwa kesuksesan bisa diraih apabila mereka memiliki mimpi, 
punya cita-cita dan mau bekerja keras, dengan cara ini  tak ada yang bisa 
menghalang-halangi untuk sukses atau tercapai cita-citanya.

Memang betul impian itu laksana klise negatif film, maka kerja keras adalah 
mesin cetak untuk mewujudkannya. Kesuksesan adalah bukan milik orang kaya 
saja, tetapi hak kita, dan hak anak-anak jalanan.

Salam,
<http://ferrydjajaprana.multiply.com/>http://ferrydjajaprana.multiply.com


[Non-text portions of this message have been removed]






BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar


Stop or Unsubscribe: send blank email to [EMAIL PROTECTED]
Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke