Ini ada artikel suara pembaca yang menarik kemaren.  

Kan udah biasa kalau kita buang duit keluar negeri
tarik tarik investor asing, padahal di dalam negeri
investor lagi gencar di usir usirin (Freeport, Exxon,
newmont, etc). 

Kita siap menampung dana buat MRT, tapi kok investor
nya ngak mau invest yachh...  apa takut kalau udah
operasional nanti ... :D
Kalau gitu kapan Indonesia ada MRT yach ???
Juga internet murah ???

Sekarang ajah menurut penelitian ikan ikan nelayan
selalu segerrrr, tahu juga awettt terusss lagi..
Makanya gue kasih resep ilangin formalin dari ikan
seger / tahu. Cuma rasa ikannya jadi aneh kali yach.. 

Kereta juga udah biasa lagi kalau liat di perlintasan
pada naik di atap kereta dan lokomotif masinis. :D
Juga biasa lah liat merokok di mal mal dan kendaraan
umum. :D

=======
h**p://www.suarapembaruan.co.id/News/2006/03/27/index.html
SUARA PEMBACA

Penjarah di Bandara
SAYA pulang dari luar negeri melalaui Bandara
Soekarno-Hatta, setelah menyelesaikan pendidikan di
sana. Tidak terpikir bahwa hari itu saya akan mendapat
musibah disebabkan oleh orang-orang yang bertanggung
jawab. 

Saya membawa uang dan sejumlah barang yang memang
milik saya sewaktu berada di luar negeri selama
beberapa tahun. Barang-barang tersebut adalah parfum
dan kosmetik. Saya benar-benar tidak mengira barang
yang saya bawa diincar oleh orang Bea Cukai Indonesia,
dengan cara diberikan tanda warna biru pada bagasi
saya.

Sesampainya di bagian scanning saya tidak menyangka
bahwa saya harus berhadapan dengan orang-orang yang
mau mencari keuntungan dari orang-orang yang baru
pulang dari luar negeri. Keadaan saya waktu itu sangat
letih dan lelah oleh karena panjangnya perjalanan. 

Setelah barang-barang saya dibuka dan diperiksa, saya
dibawa mereka ke dalam satu ruangan dekat scanning
security. Ruangan itu ternyata tempat Bea Cukai.
Disitu saya harus menunjukkan barang saya kepada
mereka yang jumlahnya 10 orang. Saya yakin mereka itu
bekerja sama untuk mencari untung dari orang yang baru
pulang dari luar negeri. 

Sewaktu saya berbicara, ada beberapa dari mereka yang
secara sengaja mengobrak-abrik barang dalam koper saya
tanpa seizin saya. Di ruangan itu saya dimintai uang
senilai Rp 9 juta, saya telah menginformasikan bahwa
barang-barang tersebut bukanlah barang yang baru saya
beli, melainkan sudah dipakai selama bertahun-tahun
dan saya sudah menjelaskan bahwa saya pulang untuk
tinggal selamanya di Indonesia.

Kejam sekali mereka memperlakukan saya, dengan meminta
uang dan mereka pun meminta barang saya. Mereka
berkata pada saya bahwa mereka meminta uang tersebut
karena saya membawa barang lewat dari ketetapan,
barang yang dibawa dari luar yaitu melaui dari 250
dolar AS. Tapi saya katakan barang bawaan tersebut
bukan barang baru lagi. 

Saat itu saya tidak membawa rupiah, dan mereka
mengatakan mau bayar atau barang-barang saya ditahan.
Lalu saya memberikan 50 dolar dan petugas yang
bertanggung jawab di sana bernama DR mengatakan tidak.
Saya menambah lagi 50 dolar sehingga menjadi 100
dolar. Dia kemudian meminta beberapa barang saya
berupa parfum. Saya menunjukkan supaya dia bisa
memilihnya, tidak disangka beberapa dari mereka
berdatangan dari belakang saya. Penjarahan di depan
mata saya tidak akan pernah saya lupakan. Mereka
berkata "Buat saya mana" bersahutan dan mengambilnya.

Saya benar-benar marah saat itu dan saya berkata
"Tolong jangan diambil itu barang saya". Walaupun
Bapak DR salah satu dari mereka, tapi dia masih
berusaha baik kepada saya dengan mengingatkan mereka
agar barang yang tidak saya beri, mereka tidak boleh
mengambil seenaknya. Setelah parfum dan uang saya
diambilnya, saya diperbolehkan pergi. 

Di situ saya merasa, buat setiap orang yang baru saja
datang ke Indonesia dari luar negeri, mereka sama
sekali tidak diberikan sambutan yang welcome dari
orang Indonesia. Saya orang Indonesia sendiri merasa
tidak nyaman pulang ke negara sendiri. Hal ini membuat
saya marah, sedih, dan trauma. 

Boleh dikatakan saya tidak menyukai berada disini,
tidak heran banyak dari mereka merasa nyaman berada di
negeri orang. Karena ternyata di sini mereka merasa
ditekan dengan banyak hal. Saya berharap pengalaman
saya ini bisa menjadikan contoh buat kita semua, apa
yang terjadi itu patut kita perbaiki bersama. 


Monica

Jakarta 


h**p://www.suarapembaruan.co.id/News/2006/03/24/index.html


SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------

Air Garam Bisa Kurangi Kadar Formalin
SURABAYA - Makanan, khususnya ikan kering yang
mengandung bah an pengawet formalin, dapat dinirmalkan
kembali (deformalinisasi) dengan cara merendam ikan
kering tersebut dalam tiga macam larutan. 

Pertama, ikan kering itu direndam dengan air biasa,
lalu kedua dengan air garam dan terakhir dengan air
leri (air bekas cucian beras-Red.). 

Hal itu dikemukakan Dosen Jurusan Kimia Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITS, Dra Sukesi
Msi kepada Pembaruan di Surabaya, Kamis (23/3).

Dikatakan, Perendaman dalam air selama 60 menit mampu
menurunkan kadar formalin sampai 61,25 persen, dengan
air leri mencapai 66,03 persen, sedang pada air garam
hingga 89,53 persen.

Sekalipun kadar formalin tidak sampai hilang 100
persen, tetapi makin berkurang kadar formalin relatif
aman sehingga mengurangi kadar formalin dalam bahan
makanan yang mengandung formalin menjadi penting untuk
diketahui dan dipahami. 

Sedikitnya ada tiga cara penanganan untuk mengurangi
kadar formalin di dalam tahu , mulai direndam dalam
air biasa, dalam air panas, direbus dalam air
mendidih, dikukus kemudian direbus dalam air mendidih
dan diikuti dengan proses penggorengan.

Sedang untuk mi proses deformalinisasi dengan cara
merendam dalam air panas selama 30 menit yang dapat
menghilangkan kadar formalin sampai 100 persen.
Sementara pada ikan segar, dapat dilakukan dengan
merendam dalam larutan cuka 5 persen selama 15 menit.

Sukesi akan mencoba menyebarkan resep deformalinisasi
dalam bentuk brosur praktis agar masyarakat mudah
melakukannya agar masyarakat makin tentang dengan
isu-isu formalin, karena secara mandiri dapat
mengurangi kadar formalin. 

Sukesi bersama timnya, sebelumnya melakukan penelitian
menurunkan kadar formalin dalam ikan asin.
Keberhasilan ini mendorong Sukesi mencari alternatif
pada makanan lainnya, karena banyak orang yang sangat
bergantung pada hasil produksi makanan tadi. (029)





__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 




BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar


Stop or Unsubscribe: send blank email to [EMAIL PROTECTED]
Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED]

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--==-=--==-=-=--=-=-=-=-=-=
Bina Nusantara mempersembahkan
25 Tahun Bersama Binus untuk Indonesia
1981 - 2006

Venue: Plenary Hall, Jakarta Convention Center
Date : 25 February 2006
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--==-=--==-=-=--=-=-=-=-=-=
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke