Belanda tetap menjadi negara Eropa pemberi beasiswa terbesar di Indonesia
Belanda menawarkan pilihan program studi berbahasa Inggris terbanyak di 
Eropa selain Inggris

Netherlands Education Support Office (NESO) Indonesia dan Kedutaan Belanda 
hari ini melepas lebih dari 200 profesional muda Indonesia yang berhasil 
memperoleh beasiswa untuk melanjutkan program master di Belanda tahun 
2007/2008. Mereka memperoleh beasiswa lewat beberapa program antara lain 
StuNed (study in the Netherlands). Khusus untuk StuNed, penyerahan 
beasiswa dilakukan oleh The Minister Plenipotentiary and Deputy Head of 
Mission of the Royal Netherlands Kingdom, Mr. Ad Koekkoek, didampingi oleh 
Direktur baru NESO Indonesia, Mr. Marrik Bellen di Erasmus Huis, Jakarta.

Dalam sambutannya, The Minister Plenipotentiary and Deputy Head of Mission 
of the Royal Netherlands Kingdom, Mr. Ad Koekkoek memberikan selamat atas 
keberhasilan penerima beasiswa mengikuti jejak 1100 professional muda 
Indonesia lainnya yang telah lebih dahulu menerima beasiswa dari Belanda. 
Selain itu dikatakan bahwa program ini merupakan komponen yang penting 
bagi kerja sama pembangunan antara Belanda dan Indonesia, dan melalui 
program StuNed ini juga dapat ditingkatkan pemahaman budaya dari kedua 
negara yakni Belanda dan Indonesia. 

Program beasiswa StuNed merupakan program kerja sama bilateral Pemerintah 
Belanda dan Indonesia untuk tujuan peningkatan sumber daya manusia di 
sektor-sektor yang terkait erat dengan pembangunan di Indonesia 
diantaranya air dan sanitasi, lingkungan, pendidikan dan penanggulangan 
HIV/AIDS, serta sektor lintas tema sepert gender dan good governance. 
Beasiswa StuNed ditujukan bagi profesional muda yang ingin meningkatkan 
pengetahuan akademis dan kemampuannya dengan mengikuti program gelar 
master, kursus singkat atau customized-training program di Belanda. 

“Pada tahun 2000 NESO Indonesia ditugaskan kedutaan Belanda untuk 
menyelenggarakan program beasiswa StuNed. Dan kami senang karena hingga 
saat ini StuNed masih berjalan dengan baik dan Belanda menjadi negara 
Eropa yang menyediakan jumlah beasiswa terbesar bagi Indonesia. Ini 
menunjukkan komitmen pemerintah Belanda untuk terus mendukung pembangunan 
di berbagai sektor di Indonesia, termasuk juga di bidang pendidikan 
tinggi. Ini tahun pertama saya terlibat dalam program beasiswa StuNed, 
saya berharap para penerima beasiswa StuNed dapat memberikan kontribusi 
bagi pembangunan Indonesia di masa mendatang,” ujar Marrik Bellen.

Head of Scholarship Department Monique Drenthem Soesman menambahkan, 
”Program beasiswa StuNed mengacu pada kebijakan strategis kerja sama 
pembangunan pemerintah Belanda yang bertujuan untuk mencapai Millenium 
Development Goals (MDG). Untuk program StuNed ini berarti setiap penerima 
beasiswa dapat membantu pencapaian MDG’s di Indonesia, melalui institusi 
di mana ia bekerja. Maka kami harap institusi-institusi akan mendukung 
program ini karena para stafnya akan menambah pengetahuan yang bermanfaat 
di Belanda.” 

Selain beasiswa StuNed, Pemerintah Belanda juga memberikan beasiswa 
Netherlands Fellowship Programme (NFP) kepada 14 orang untuk mengikuti 
program master dan kursus singkat, lima orang melalui program beasiswa HSP 
Huygens Scholarships Programme, dan enam orang melalui program beasiswa 
Indonesia’s Young Leaders untuk program Islamic Studies di Universitas 
Leiden.

Dari Pemerintah Indonesia sendiri juga menawarkan program beasiswa baru 
sebagai bagian dari komitmen peningkatan sumber daya manusia yaitu program 
beasiswa dari DEPKOMINFO. Sejumlah 48 (master dan PhD) dari total 76 
penerima beasiswa DEPKOMINFO memilih melanjutkan studi ke Belanda, sebagai 
salah satu negara tujuan studi yang ditetapkan oleh DEPKOMINFO. 

Sekitar 240 penerima beasiswa untuk program studi ke Belanda diundang 
untuk menghadiri acara pre-departure briefing. Acara ini akan diisi dengan 
pembekalan mengenai culture shock dan juga memberi kesempatan untuk 
bertemu dengan teman se-universitas di Belanda serta para alumni dari 
universitas yang dituju di Belanda. Acara ini merupakan bagian dari 
persiapan sebelum keberangkatan studi di Belanda pada Agustus atau 
September 2007.

Kirim email ke