Harga BBM turun lagi, diberita ini cuma ditulis
premium jadi 4.500 kalo Pertamax, P+ gimana ? semalem
gua isi masih normal. Ada yg monitor Shell gak ya ?
super n super xtra berapa ? Thks.

-----------

Jakarta - Bila selama 15 Januari identik dengan Malari
alias Malapetaka 15 Januari 1974, khusus untuk hari
ini, Kamis (15/1/2009), identik dengan penurunan harga
BBM.

Peristiwa Malari adalah bagian gelap dalam sejarah
Orde Baru. Unjuk rasa mahasiswa anti-Jepang yang
digelar bertepatan dengan kedatangan PM Tanaka,
meledak dalam bentuk aksi massal pembakaran kendaraan
bermotor dan pertokoan di Jakarta.

Puluhan orang aktivis, cendekiawan, mahasiswa dan
pimpinan lembaga kemahasiswaan ditangkap. Belasan
penerbitan pers dibredel pemerintah. Dua pejabat
tinggi negara dipecat.

Tanpa melupakan sejarah kelam di atas, khusus 15
Januari 2009 kita bisa sejenak bergembira. Per tanggal
itu pemerintah memberlakukan harga baru BBM dan tarif
dasar listrik (TDL) yang lebih rendah dari dua pekan
lalu.

Harga per liter BBM jenis premium dan solar menjadi Rp
4.500 dari Rp 5.000 dan Rp 4.800 masing-masing
sebelumnya. Khusus bagi industri, ada pengurangan
tarif dasar listrik pada saat beban puncak.

Di samping itu, ditetapkan pula suatu kebijakan batas
atas harga BBM sebesar Rp 6.000 per liter. Tidak ada
batas bawah. Artinya harga BBM dan TDL masih bisa
turun lagi, dan kalau pun akhirnya harus kembali naik
tidak akan melebihi batas atas.

Apa pun motivasinya -- memberikan stimulus bagi
perekonomian nasional atau 'kampanye' Pilpres 2009 --
tentu kebijakan populis ini patut disyukuri. Paling
tidak lumayan kurangi beban pengeluaran di saat harga
berbagai rupa barang kebutuhan pokok naik, harga BBM
turun.

Tinggal sekarang menanti sikap fair dari pihak
produsen dan pengusaha transportasi untuk ikut
menurunkan harga produk dan tarif jasanya. Bila dulu
ngotot memberlakukan kenaikan sepihak dengan dalih
mengikuti harga BBM, maka kini mereka harus kembali
ngotot menurunkannya.

Memang krisis gobal bisa dijadikan alasan
mempertahankan harga lama bahkan malah terus
menaikkannya. Tentu rakyat bisa menilai produsen dan
pengusaha macam apa mereka lalu tentukan sendiri
sanksi sosial yang pantas dijatuhkan.

Jangan sampai sanksi itu tidak berupa Malari baru.

sumber : detik.com
http://www.detiknews.com/read/2009/01/15/101701/1068725/10/harga-baru-bbm-dan-malari


      

Kirim email ke