http://groups.yahoo.com/group/Forum_LingkarPena/message/66524
http://eramuslim.com/oase-iman/iblis-pun-minta-pensiun-dini.htm

Iblis Pun Minta Pensiun Dini

Bila anda adalah seorang sarjana, master, doktor atau bahkan profesor, suatu
saat sedang menikmati liburan sendiri di atas sebuah perahu kecil di tengah
sebuah sungai besar yang deras dan hanya ditemani si pemilik perahu yang tak
bisa baca tulis. Bila anda tidak bisa berenang, lalu apa sikap anda terhadap si
pemilik perahu bila saat itu perahu anda rusak dan akan segera tenggelam?
Masihkah anda membanggakan pada si buta huruf ilmu geografi yang anda ketahui
tentang pegunungan, ilmu botani anda tentang pepohonan sepanjang sungai, atau
ilmu fluid dynamic yang begitu menarik terefleksi pada aliran sungai, kepada si
buta huruf tapi pandai berenang? Tentu saja, anda tahu jawabannya agar diri anda
beserta segenap kebesaran ilmu yang anda miliki selamat pada saat itu. Ya, Anda
harus minta si buta huruf yang bisa berenang menolong anda hingga akhirnya
mencapai tepi sungai.

Inilah salah satu hikmah yang bisa aku tangkap dari sholat idul fitri di aula
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin, 1 Syawal 1430 H lalu. Idul
fitri yang spesial, fikirku. Jamaah membludak tidak seperti biasanya, maklum
hari ini hari minggu, hari libur. Seluruh ruangan di dua lantai yang disediakan
tidak mampu menampung jamaah yang akhirnya berdempetan dan rela melebar ke
lorong-lorong KBRI Berlin. Diperkirakan, lebih dari 600 muslim Indonesia di
Berlin dan sekitaranya hadir merayakan hari suci ini.

Lalu kelanjutan dari hikmah itu adalah, apakah kita semua mampu mengikuti
derasnya gelombang zaman, melepas ego pribadi kita, atau terjebak dalam arus
bawah yang mematikan karena terbuai kehebatan pribadi kita yang sebenarnya tidak
seberapa? Dan apakah kita semua memiliki perangkat untuk berenang di sungai
kehidupan yang berubah secara drastis ini? Padahal secara hukum alam, dunia
begitu cepat berubah. Sesuatu yang dulu memerlukan waktu beberapa dekade untuk
berubah, sekarang dapat berubah hanya dalam waktu beberapa bulan. Dulu, riset
dan pembuatan pita kaset untuk merekam perlu waktu 50 tahun. Datang kemudian era
MP-player yang akhirnya membuat teknologi pita kaset menjadi barang kuno dalam
waktu beberapa tahun saja.

Anda kenal Bill Gates (Microsoft) yang DO dari kuliah? Tentu, karena dari
sejarahnya kita bisa belajar bahwa walalaupun kualifikasi akademik itu penting,
namun tidak mencukupi bagi Anda jika Anda ingin berhasil di zaman yang bergolak
ini. Orang-orang sukses saat ini ternyata bukan hanya yang ber-IQ tinggi dengan
gelar berderet di depan atau di belakang nama mereka.
Atau kenalkah Anda Mark Zuckerberg, anak muda 24 tahun yang telah menjadi
miliuner dengan mendirikan Facebook yang menghubungkan 300 juta pengguna aktif
di seluruh belahan dunia? Tentu, karena dari kisahnya kita bisa belajar, bahwa
untuk menjadi miliuner saat ini, anda tidak perlu harus menjadi tua terlebih
dahulu seperti yang terjadi pada beberapa dekade sebelumnya. Keuletan dan kerja
keras, itu kuncinya.

Oleh karena itu, di zaman yang serba cepat berubah ini, pak ustadz kemudian
menekankan akan pentingnya memiliki keahlian melengkapi diri kita dengan pola
fikir, keahlian dan pola perilaku yang pada satu sisi bisa menundukkan bahaya
yang mengancam kehidupan kita, mengancam iman kita dan mengancam fitrah suci
kita sebagai manusia, dan pada sisi lainnya mampu mencuatkan potensi-potensi
keunggulan pribadi kita. Dan ternyata, banyak dari kita tidak sadar bahwa
potensi kita banyak yang tertimbun dengan kedhoifan kita, tidak terpakai dengan
optimal, atau sia-sia tidak membuat kita menjadi muslim-muslim yang unggul di
tengah masyarakat kita.

Kemudian Pak Ustadz membacakan ayat:
"Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam dan Kami telah benarkan
mereka menggunakan berbagai kenderaan di darat dan di lautan dan Kami telah
memberi rezeki kepada mereka dari yang baik-baik serta Kami telah lebihkan
mereka dengan selebih-lebihnya atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan"
[Al-Isra' (17):70]

Dalam ayat itu, Allah berfirman bahwa Allah menciptakan manusia dalam kemuliaan
(wa laqod karramnaa banii aadam/ sungguh aku muliakan anak keturunan Nabi Adam).
Tapi harus diingat, kemuliaan pada manusia sifatnya adalah pemberiaan Allah, Al
karimah bittakrim, mulia karena dihadiahi kemuliaan oleh Allah, bukan mulia
karena built-in, bukan karena melekat otomatis pada diri manusia.

Dengan kemuliaan ini Allah memberikan kemampuan manusia kemampuan menundukkan
alam. Lalu pada rangkain berikut Allah berfirman"wa fadhdholnaahum", Kami
berikan manusia keutamaan (tafdhil). Manusia diberikan "tafdhil", diberikan
keutamaan yang berbeda dengan makhluk lainnya, yakni memiliki akal, memiliki
tubuh yang sempurna dan dikaruniai pula hawa nafsu. Dengan semua karunia
tersebut manusia mampu menguasai berbagai macam teknologi untuk misi penundukkan
universe.

Lihatlah bukti penundukan universe oleh manusia. Zaman sekarang tua muda di
seluruh pelosok dunia sudah bisa dijangkau oleh teknologi informasi, bisa
chatting, buka email dan online lewat blakcberry, dan lain-lain. Itulah makna
"wa sakkharnaa", yang maknanya adalah semua yang di langit dan di bumi
ditundukkan oleh Allah untuk manusia. Lalu diikuti "wa hamalnaahum fil barri wal
bahri", sebagai simbol kemampuan manusia merekayasa alam semensta untuk
keperluan hidupnya.

Bahkan segala yang ditundukkan manusia dalam bentuk teknologi itu sering pula
menjadi simbol prestise. Manusia bisa mengendarai mobil lalu menundukkan jarak
yang terbentang luas, sebagai salah satu tanda penundukkan manusia pada alam
raya. Dan sering upaya penundukan alam ini diembel-embeli prestise. Beda merek,
maka beda kenyamanan dan kecepatan, dan akan beda prestise pula.

Sementara makhluk lain kalau naik kendaraan, misal gajah atau kera naik motor,
itu sifatnya artifisial, hanya ada di dunia sirkus. Silahkan anda buktikan.
Kalau berani, cobalah kera yang sudah dilatih naik kendaraan di sirkus lalu
disuruh mengendarai bus way di Jakarta, lalu naiklah anda beserta kera yang
sudah terlatih tadi. Secara statistik, di kendarai orang saja sering nabrak,
sering remnya blong, banyak sepeda motor tidak disiplin, apalagi dikendarai oleh
makhluk yang secara fitrah memang tidak dipilih oleh Allah untuk menundukkan
alam ini.

Namun, bila manusia tidak mengoptimalkan "takrim dan tafdhil" atau kemuliaan dan
keutamaan dari Allah, bahkan dengan memperturutkan hawa nafsunya, maka ia akan
meluncur jauh ke bawah ke derajat lebih hina dari kera yang mampu mengendarai
kendaraan tadi. Allah berfirman: "Ulaaika kal an'am, bal hum adhol". Manusia
yang lupa kemulian dan keutamaan dari Allah itu, ibarat binatang peliharaan,
bahkan lebih buruk dari itu. Oleh karena itu, kita tidak mungkin memperoleh
"takrim dan tafdhil" dari Allah tanpa memiliki dan memaknai akhlaqul karimah
yang harusnya menjadi merek,brand image dan perilaku kita.

Kemudian ustadz melanjutkan ceramah Iednya yang menarik...
"Saya sempat menerima email dari sahabat saya. Sekali lagi ini hanya sekedar
email dan sebenarnya TIDAK BENAR dan tidak perlu kita percayai. Tapi, terus
terang, isinya membuat saya terenyeuh, dan oleh karena itu ada baiknya kita
renungi".

"Karena email ini boleh jadi adalah cermin dari akhlak masyarakat kita saat
ini".
" Karena apabila orang itu pejabat, yang seharunya jadi tokoh panutan, dan bila
ia tidak memiliki akhlaqul karimah, maka keburukannya berpotensi menggurita dan
berpotensi berbahaya menggerogoti sendi-sendi kehidupan bermasyarakat".

"Akhlaq yang fitrah, moral yang suci, yang melahirkan sifat-sifat terpuji, jauh
dari sikap hina dan tercela, menghadirkan kejujuran dan membuang jauh kedustaan,
menghadirkan amanah, menjauhkan penghianatan, menghadirkan kesejahteraan,
kesantunan dan menjauhkan kesewenang-wenangan. Dan kita digembleng saat
ramadhan. Ia harusnya menghadirkan ketenangan, bukan hanya untuk si pelaku, tapi
juga bagi orang-orang di sekeitarnya. "Wa innaka la'ala khuluqin 'azhiiim....",
sesungguhnya misi rasul adalah mengajarkan kita akhlak yang mulia.

Kemudian ustadz mulai mendongeng tentang email sahabatnya...

"Begini....Email dari sahabat saya itu bercerita, bahwa konon iblis meghadap
Allah, lalu menyerahkan surat berisikan pengajuan pensiun dini."

Kami tentu tersenyum mendengar awal cerita dari pak Ustadz. Di sebuah sholat ied
yang sakral ada cerita lain dari biasanya.

Ustadz lalu meneruskan....Lalu iblis mengatakan: "Hamba sudah tak sanggup lagi
menggoda manusia, duh Gusti Yang Mulia ..."

Allah kemudian bertanya...
"Hai iblis kenapa engkau lakukan ini?Apa alasanmu sadar untuk pensiun dini?"

Iblis menahan nafas panjang....sebelum akhirnya menjawab...
"Hamba sudah tidak tahan Yang Mulia"...
Iblis mengatur nafasnya yang tidak karuan, seperti frustasi ingin meledakkan
kedongkolan yang akut ribuan tahun lamanya. Lalu iblis melanjutkan...
"..perasaan hamba sudah tidak karuan, fisik dan mental terkuras habis dengan
ulah manusia-manusia zaman sekarang, Padukaku...."

Iblis kemudian terlihat mulai menenangkan dirinya...

"Bagaimana hamba tidak habis fikir Padukaku Yang Mulia..." kali ini mimiknya
serius.
" Ada jaksa yang harusnya menegakkan hukum, eee ...malah terlibat korupsi
miliaran"
" Ada menteri yang aji mumpung menghabiskan uang rakyat, mantan menteri
foya-foya duit korupsi..."
"Pejabat yang bawa lari istri orang..."
" Anggota Mahkamah Agung disuap kasus korupsi"
" Kalo anggota DPR, nggak usah ditanya Paduka... sebagian mereka masih hobi
korupsi, juga hobi plesir keluar negeri pakai uang rakyat dengan dalih studi
banding. Sebagian mereka kok masih hobi selingkuh dan sebagian lain hobi memeras
pengusaha ..."
" Ada lagi oknum tokoh, sebagian mereka juga dikenal seorang ustadz, yang
semestinya jadi panutan, lah kok malah melakukan pelanggaran...."
Iblis menggeretukkan geliginya, geleng-geleng kepala pertanda memendam muak luar
biasa.
"Hamba khawatir Padukaku Yang Mulia.... "
" Hamba kapok...khawatir justru hamba yang tergoda oleh manusia..."

Berlin, 1 Syawal 1430 H
(untuk sobatku: aku hanya bisa mengatakan: keep moving, uhibbuk fillah)



Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke