Diambil dari http://community.kompas.com/index.php/read/artikel/1618

Semoga membangkitkan semangat mencintai Pahlawan, dan ingin menjadi Pahlawan, 
setulus hati, tanpa pamrih.

Best Regards and Wassalam,



Nugon

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal



CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJABisakah Orang Awam Jadi 
Pahlawan?Iwan Kamah - Jakarta
*) Hampir semua pahlawan nasional kita, berasal dari kalangan militer, pejabat 
negara, kaum bangsawan atau tokoh masyarakat. Robert Wolter Mongisidi (bukan 
Monginsidi!) adalah yang terkecuali.(maaf gambar tdk bisa copy paste)
Mongisidi adalah pahlawan nasional yang paling unik. Dia bukan seorang militer. 
Tidak menyandang pangkat kemiliteran apapun. Bukan pejabat negara yang punya 
kekuasaan atau bangsawan yang punya kharisma. Dia juga bukan tokoh masyarakat 
yang punya massa dengan kaitan emosional. Mongisidi ya Mongisidi. Seorang 
patriot yang tak punya apa-apa. Satu-satunya yang dia miliki hanya kehormatan. 
Kehormatan harga diri bangsanya yang dia bawa sampai mati. 
Saya beruntung sekali, bisa mencium harumnya kepahlawanan Mongisidi dari 
pengalaman langsung orang tua saya. Kebetulan, ayah saya berkenalan serta 
berteman baik dengan Mongisidi, terutama di saat-saat akhir hayat pria Bantik 
(Minahasa) itu. 
Tembak mati
Suatu malam ayah saya makan malam bersama Dr. Chris Soumokil, pendiri Republik 
Maluku Selatan bersama keluarganya di rumah ibu pejuang terkenal Sulawesi 
Selatan, Patta Kandjene, di Pare-Pare, sebuah kota di utara Sulawesi Selatan. 
Hari itu 5 September 1949. Setelah makam malam itu, ayah saya bergegas ke rumah 
dr. Soeparto. Dia seorang dokter yang banyak membantu kaum nasionalis yang 
cedera, kala melawan pendudukan NICA di kawasan Sulawesi Selatan. 
Di rumah dr. Soeparto itu, berita kematian Mongisidi pertama kali diketahui 
umum, Ketika tengah malam, ayah saya menerima telepon dari sahabatnya, dr. 
Darjono, yang kelak menjadi perwira intelijen dalam operasi pembebasan Irian 
Barat yang dipimpin Soeharto (kemudian menjabat presiden RI). Suara dr. Darjono 
terdengar gugup dan datar, seolah ada yang sulit diungkapkan.
“Bote sudah mereka eksekusi…!”, kata dr. Darjono. Bote adalah nama akrab Wolter 
Mongisidi. Dia juga menambahkan, bahwa eksekusi dilakukan dini hari. Mendengar 
suara itu ayah saya langsung lemas dan sangat sulit untuk percaya. Lalu dia 
mendesak ayah saya untuk memberitahu kematian Mongisidi kepada Ibu Salawati dan 
Henk Rondonuwu. Keduanya tokoh pejuang Sulawesi Selatan.
Eksekusi mati Mongisidi membuat gempar kota Pare Pare, yang lama mengetahui 
sepak terjang heroiknya. Bahkan ketika kembali ke Makassar, masyarakat di sana 
sangat emosional dan eksplosif. Para tokoh kemasyarakatan dan parlemen Negara 
Indonesia Timur mendesak agara jenasah Mongisidi dipindah ke pemakaman kristen. 
Mereka marah!
Digali kembali
Melalui suatu kesepakatan dengan Belanda, kuburan Mongisidi digali kembali 
setelah 30 jam dieksekusi. Lokasi penggalian terletak di daerah Tallo. Sebuah 
tempat di luar kota Makassar. Tak sembarang orang diijinkan ikut penguasa 
Belanda. Ayah saya beruntung, bersama dr. Darjono dan seorang sahabat bernama 
Sangkala, serta beberapa orang lainnya, yang bisa ikut menyaksikan penggalian 
kembali. Tentunya tak lepas dari pengawasan beberapa perwira Koninklijke 
Landmacht, tentara kerajaan Belanda, serta seorang sersan Belanda berusia 35 
tahun. Si sersan ini seorang algojo yang kerap hadir dalam penjagalan 
lawan-lawan Belanda. Suaranya serak dan berat yang mengekspresikan bisnisnya 
dengan pencabutan nyawa manusia.
Suasana penggalian begitu mencekam dan mendebat. Tanah yang masih lembab itu 
digali perlahan dan semua mata terpaku ke liang lahat. Ada juga menyaksikan 
seorang pendeta KNIL (tentara Hindia Belanda) yang kerap menggenggam Injil 
ditangannya. Ayah saya mencoba memberi isyarat kepada Sangkala supaya mengambil 
foto. Tapi langsung digubris dan dipelototi oleh si algojo dengan nada 
mengancam untuk menghancurkan kamera kami. Namun rekan ayah saya Darjono 
berhasil mendekati si algojo sehingga melunakan hatinya. Sejak itu sang algojo 
mau diajak bicara dan mulai buka mulut,
“Anda menyaksikan Mingisidi ditembak?”, tanya ayah saya kepada si algojo. Saat 
pertanyaan itu meluncur, seketika muncul sikapnya sebagai seorang prajurit 
sejati yang jujur dan obyektif. 

Dengan ekspresi menyeramkan, si algojo mengungkapkan perasaannya.“Ik heb nooit 
in mijn leven zo’n brave kerel gezien”. “Belum pernah sepanjang hidup saya 
melihat orang sesatria dia”, si algojo mengaku. Ketika didesak mengapa dia 
berpendapat seperti itu. Dengan jujur dia menjelaskan, “Dia (Mongisidi) adalah 
seorang satria, seorang pemberani dan teguh dengan keyakinannya” Kata si 
algojo, Mongisidi tidak pernah menunjukkan ekspresi goyah atas apa yang ia 
percayai. Tak ada keraguan sedikitpun pada dirinya. Waktu matanya mau ditutup 
sehelai kain saat dieksekusi, Mongisidi menolak mentah-mentah. Bahkan dia tak 
mau tangannya diikat di tiang eksekusi seperti biasa seorang akan dieksekusi. 
Dia menatap penuh ketenangan para penembaknya. Matanya tak berkedip di 
saat-saat terakhir peluru menghancurkan tubuhnya.
Sebelum kedua belas anggota regu tembak menghentikan hidupnya, seorang pendeta 
Kristen sempat berdoa dengannya, Mongisidi mengucapkan terima kasih sambil 
memegang erat tangan sang pendeta sambil mengeluarkan beberapa kalimat ksatri. 
“Saya bersedia hadapi kenyataan ini dengan ketabahan dan keimanan”.
Si algojo bermuka bengis itu, juga mengungkapkan suatu fakta yang sulit dia 
terima. Menurut ceritanya, Mongisidi sempat mengucapkan kata-kata terakhir 
kepada regu tembak yang akan meremukkan tubuhnya. “Laksanakan tugas 
saudara-saudara. Saudara-saudara memang tidak bersalah, hanya melaksanakan 
tugas. Saya memaafkan saudara dan semoga uhan mengampuni dosa-dosa saudara!” 
Pernah seorang jaksa dari pengadilan Negara Indonesia Timur pernah datang ke 
sel tahanannya dan memberi tahu bahwa kedua orang tuanya telah meminta grasi. 
Syaratnya, Mongisidi harus menandatangai surat grasi itu. 
“Wat? Gratie? Ga naar de maan!”. Apa? Grasi? Persetan! Saya tidak 
membutuhkannya!, jawab Mongisidi dengan nada suara setengah berteriak.Mendengar 
ucapan itu, si jaksa kaget dan membalikkan badannya sambil keluar dan 
memalingkan pandangannya kepada seorang kawannya,“Dat is pas een brave karel!”
Itu baru bilang pemuda satria sejati! 
Tak ada suara mengerang keluar dari mulur Mongisidi ketika meluru mendentum 
serentak mencabut nyawanya. “Sungguh luar biasa! Saya hampir-hampir tidak 
percaya melihat orang semacam dia”, kata sersan algojo itu memuji musuhnya yang 
kuburannya sedang digali kembali. (maaf gambar tdk bisa copy paste)
*) Foto bersama di Kiskampement Makasar tanggal 20-4-1949 tempat Wolter Wobert 
Monginsidi (berdiri paling kiri) ditahan. Tampak ayahnya Petrus Monginsidi 
(duduk), Kakaknya, Joseph dan Jan Monginsidi. 
 Ayah saya melihat sendiri bagaimana kokohnya keteguhan seseorang akan 
kebenaran yang diyakininya , seperti yang dipertunjukkan saat mayat Mongisidi 
digali kembali. Wajah Mongisidi terlihat seperti tidur nyenyak dalam peti yang 
lembab. Jenazahnya tak menyebarkan bau yang tak sedap, Pakaiannya begitu 
sederhana. Kepala terbaring bukan diatas bantal, tetapi di atas Injil. Dalam 
kitab suci itu terselip secarik kertas bertuliskan. “Setia hingga terakhir 
didalam keyakinan. Tertanda 5 September 1949. RWM”. RWM adalah kependekan nama 
lengkapnya, Robert Wolter Mongisidi.
Orang awam jadi pahlawan nasional
Wolter Mongisidi membuktikan bahwa orang awam pun bisa jadi pahlawan, meskipun 
apa yang dia perbuat tak mengharapkan sesuatu pujian. Apalagi diberi gelar 
pahlawan nasional. Sebuah sebutan tertinggi untuk sebuah pengorbanan untuk 
negara. 
Sampai sekarang susah menjumpai pahlawan nasional yang berasal dari kalangan 
awam. Pahlawan lebih dilihat sebagai pekerjaan yang dijalani seorang mantan 
pejabat negara, perwira militer atau kaum bangsawan, yang secara mampu 
melakukannya, karena dia punya otoritas untuk melakukannya. 
Bung Tomo dan juga Mongisidi adalah contoh yang ingin membakukan pengertian 
pahlawan. Bahwa pahlawan adalah orang yang melakukan darma yang memang bukan 
pekerjaannya. Kalau saya membesarkan anak saya sampai berhasil, saya bukan 
pahlawan bagi keluarga. Memang seharusnya begitu. Pahlawan di Indonesia selalu 
diartikan sebagai tindakan heroik dalam arti kontak fisik dan membuat kebijakan 
politis yang menguntungkan Indonesia. Dan orang itu “harus suci” dari kesalahan 
manusiawi.  Makanya pahlawan pasti orangnya sudah mati. Takut-takut kalau masih 
hidup bisa berbuat sesuatu yang melunturkan nilai heroic yang pernah dibuatnya. 
Pahlawan jadi brand
Yang aneh sekarang adalah memori kita tentang pahlawan. Untuk mengenang 
jasa-jasa mereka, kita banyak dibantu dengan sebuah brand atau produk. Banyak 
yang tak tahu siapa Gajah Mada. Tapi siapa yang tak kenal Bak Mie Gajah Mada? 
Hampir semua tahu dan pernah makan di McDonal Sarinah Thamrin. Tapi siapa yang 
tahu perjuangan Sarinah dan siapa itu Thamrin?
Bayangkan kalau ada kalimat “McDonald Sarinah Thamrin, bukan cabang di Tendean 
sama di Halim. Letaknya antara Sudirman Tower dan Universitas Bung Hatta, 
berhadapan dengan Rasuna Imperium, di ujung Imam Bonjol, tak jauh dari ayam 
goreng Hayam Wuruk dan apotik Mongisidi” (maaf gambar tdk bisa copy paste)*) 
Bandara Wolter Monginsi di terminal baru Bandar Udara Wolter Monginsidi, 
Kendari. 

Untunglah kita masih mengenal nama pahlawan dari brand atau nama jalan. Pak 
Harto pernah melarang penggunaan pahlawan menjadi nama brand. Tapi upaya itu 
mulai luntur seiring dengan kejatuhannya. Memang ada beberapa tokoh yang 
berwasiat agar namanya tidak diabadikan untuk sebuah penamaan jalan atau 
bangunan. Namun itu tak bisa membendung keinginan masyarakat untuk mengenangnya.
_______________________________________CATATAN: FOTO-FOTO DOK HARIAN 
KOMPASMODERATOR - Penggagas KoKi : ZEVERINAPembaca "KOLOM KITA" (KoKi) entah di 
Bontang, Inggris, Bali, Belanda, New Jersey, Kuwait, Australia, atau di Kediri, 
silakan berbagi peristiwa seputar kehidupan sehari-hari. Kirimkan artikel dan 
foto melalui form "Kirim Artikel", jika mengalami kesulitan kirimkan melalui 
email: [email protected] ; [email protected]



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke