--- In [email protected], "rezaervani" <rezaerv...@...> wrote:





Januari 2010, China "Serbu" Indonesia


Oleh : Aris Yunanto (Pengajar FEUI dan Peneliti pada PSIE Institute)


KOMPAS, Jumat, 11 Desember 2009 | 05:05 WIB
 
Mulai 1 Januari 2010, Indonesia akan "diserbu" China. Pernyataan ini bukan 
rumor, tetapi benar-benar akan terjadi jika Indonesia tidak mempersiapkan diri.
 
Serbuan China ke Indonesia bukan berbentuk invasi militer, tetapi berwujud 
barang dan jasa kebutuhan masyarakat Indonesia sehari-hari. Asalnya, sejak 
Indonesia ikut program ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) antara negara-negara 
ASEAN dan China.
 
Siapkah Indonesia?
 
Menghadapi "invasi" China itu, apakah Indonesia sudah siap? Dilihat dari 
indikator perekonomian Indonesia beberapa waktu terakhir, memang terlihat ada 
kecenderungan meningkat dibanding awal dekade lalu. Namun, itu belum cukup 
sebagai perisai. Bahkan, krisis
 finansial global tahun 2008 masih juga menyisakan kelesuan ekonomi dunia yang 
juga berpengaruh terhadap perekonomian dalam negeri.
 
Sektor industri manufaktur di Indonesia yang pernah menjadi tumpuan pembangunan 
perekonomian, selain sebagai penyerap tenaga kerja terbesar dan penyumbang 
devisa lewat kinerja ekspornya, kini terbilang menurun. Sebagaimana dicatat 
Biro Pusat Statistik (BPS),
 hingga Agustus 2009 ekspor manufaktur Indonesia merosot hampir 25 persen dari 
total 60,831 miliar dollar AS menjadi 45,632 miliar dollar AS.
 
Penurunan ini juga menurunkan total ekspor nonmigas sebesar 18,31 persen. 
Bahkan, dalam perhitungannya, Depperin juga memperkirakan penurunan nilai 
ekspor 12 industri manufaktur unggulan, seperti industri pengolahan kelapa 
sawit mentah (CPO), besi baja,
 otomotif, elektronika, pengolahan karet, pulp dan kertas, serta industri 
peralatan listrik sebesar 7,33 persen sepanjang tahun 2009.
 
Sementara realisasi impor Indonesia dari China selama semester pertama 2009 
angkanya tidak kalah menakjubkan. Impor elektronika dari China sudah mencapai 
30 persen atau senilai 300 juta dollar AS, 37 persen dari 57 juta dollar AS 
tekstil dan produk tekstil
 (TPT), 60 persen mainan anak-anak dari total 17 juta dollar AS, 14 juta dollar 
AS atau 50 persen produk alas kaki, belum lagi dalam bentuk produk makanan dan 
minuman.
 
Selama ini, penetrasi perdagangan China ke negara-negara lain tidak lepas dari 
kemampuan produksi domestik, selain adanya penerapan subsidi ekspor (tax 
rebate) 13 persen-17 persen oleh Pemerintah China sendiri.
 
Pada sisi lain, Indonesia masih dihadapkan pada lemahnya penguasaan teknologi, 
masih rendahnya kualitas SDM, tingginya tingkat suku bunga perbankan, dan 
disorganisasi struktur yang kian menyebabkan daya saing produk Indonesia, 
khususnya manufaktur, kian
 menurun.
 
Dalam World Competitiveness Yearbook 2006-2008, daya saing Indonesia turun ke 
peringkat 51 dari 55 negara. Sementara dari World Economic Forum, daya saing 
Indonesia menduduki peringkat ke-54, di bawah negara-negara lain dalam kawasan 
Asia Tenggara seperti
 Singapura, Malaysia, dan Thailand.
 
Mengantisipasi "invasi"
 
"Invasi" China tentu tidak akan membuat Indonesia kiamat. Untuk mengurangi 
dampaknya, pola industrialisasi dan perdagangan produk industri atau manufaktur 
harus didasarkan pemenuhan kebutuhan domestik. Harus ada upaya nyata pemerintah 
membendung produk China
 dengan menambah investasi dari dalam dan luar negeri. Efisiensi produksi juga 
harus digenjot agar harga jual dapat berkompetisi dengan produk China yang akan 
masuk Indonesia tanpa bea mulai Januari 2010.
 
Pada hakikatnya, FTA akan bermanfaat bagi suatu negara karena memberi efisiensi 
biaya perpindahan barang melalui proses integrasi jalur ekonomi negara dalam 
suatu kawasan. Namun, FTA mempunyai prasyarat tersedianya infrastruktur cukup. 
Berbagai upaya pemerintah
 sejak Infrastructure Summit I dan II sampai Invesment Summit awal Desember 
2009 belum memberi hasil memuaskan. Infrastruktur masih menjadi wacana. Krisis 
listrik menjadi salah satu cermin belum menariknya Indonesia sebagai tempat 
menanamkan investasi di bidang
 infrastruktur. Juga biaya tinggi dalam tata niaga produk industri manufaktur 
Indonesia karena infrastruktur nasional yang buruk belum bisa dikurangi.
 
Pemenang Nobel 2008 Joseph Stiglitz mengatakan, acuan utama pembukaan 
perdagangan bebas adalah kesiapan industri domestik. Dengan daya saing 
Indonesia yang masih rendah, bahkan di bawah negara-negara tetangga di ASEAN, 
tentu akan menjadi bumerang jika Indonesia
 ikut ACFTA yang segera diberlakukan. Akan amat bijaksana jika dalam kondisi 
sulit bersaing seperti ini, Indonesia membatasi masuknya produk asing dengan 
berusaha memenuhi kebutuhan sendiri lebih dulu.
 
Kemandirian ekonomi suatu negara tidak lepas dari perencanaan yang baik 
terhadap kemampuan produksi domestik guna pemenuhan pasar domestik selain 
produksi keperluan ekspor berbahan baku lokal. Jika ini terjadi, pemanfaatan 
potensi lokal untuk domestik dan
 ekspor dapat optimal dan memberi manfaat perekonomian maksimal.





--- End forwarded message ---


 



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke