HABITUS ORANG KAYA
http://www.info-lukas.blogspot.com/
Manusia membangun habitus secara perlahan.
Dan kemudian habitus itu membentuk nasibnya.
~ Pandir Karya
”Apakah habitus orang kaya yang paling umum?” tanya saya kepada sejumlah kawan.
”Mereka super pelit,” kata Iin.
”Orang kaya yang saya kenal banyak yang sombong,” jawab Toni.
”Selalu memperhitungkan segala sesuatunya dengan cermat,” kata Herlina.
”Tidak suka berhutang,” ujar Didi.
”Suka menawar harga barang yang ingin dibelinya,” jelas Diah.
”Mereka suka memamerkan kekayaannya,” kata Rudy.
”Cenderung serakah dan asosial,” gagas Yuyun.
”Hanya membeli barang-barang bermerek terkenal,” ujar Lilik.
”Hidup hemat, cenderung pelit, dan tidak suka menunjukkan kemampuan mereka yang
sebenarnya,” papar Dewi.
”Suka bangun siang dan tidur dini hari,” kata Indra.
***
”Habitus (Latin) bisa berarti kebiasaan, tata pembawaan, atau penampilan diri,
yang telah menjadi insting perilaku yang mendarah daging, semacam pembadanan
dari kebiasaan kita dalam rasa-merasa, memandang, mendekati, bertindak, atau
berinteraksi dalam kondisi suatu masyarakat… bersifat spontan, tidak disadari
pelakunya apakah itu terpuji atau tercela, seperti orang tak sadar akan bau
mulutnya. Ia bisa menunjuk seseorang, tapi juga kelompok sosial,” demikian
antara lain penjelasan B. Herry-Priyono (Kompas, 31 Desember 2005).
Perhatikan bahwa habitus ”...telah menjadi insting perilaku yang mendarah
daging”, ”bersifat spontan”, ”tidak disadari pelakunya”, dan bisa menunjuk
kepada ”kelompok sosial” tertentu. Nah, dengan pemahaman ini, mari kita coba
pikirkan, apa sajakah habitus kelompok sosial ekonomi atas (baca: orang-orang
kaya dan super kaya) yang telah menjadi insting perilaku yang mendarah daging,
bersifat spontan, dan tidak disadari pelakunya (baca: bersifat reflek)?
Dari studi literatur tentang kecenderungan perilaku orang-orang kaya di Amerika
dan Asia, serta dari pengamatan pribadi mengenai perilaku sejumlah kawan yang
kaya di Indonesia, sekurang-kurangnya bisa disebutkan beberapa habitus yang
saling kait mengait satu sama lain sebegai berikut.
Habitus pertama, dan boleh jadi ini yang terpenting, mereka menikmati hidup
dengan standar jauh dibawah kemampuan mereka yang sebenarnya. Artinya, secara
keuangan mereka lebih kuat dari apa yang nampak oleh mata lingkungannya. Mereka
lebih kaya dari apa yang mungkin dipikirkan orang lain di sekitar mereka
(tetangganya). Bila mereka sesungguhnya mampu membeli rumah seharga Rp 10
miliar, maka mereka senang memilih rumah seharga Rp 1 miliar. Jika mereka mampu
membeli mobil seharga Rp 2 miliar, mereka senang memilih mobil seharga Rp 600
juta saja. Sekalipun mereka lebih dari mampu membeli barang-barang yang
dipajang di butik-butik eksklusif atau pertokoan mewah macam Sogo Departemen
Store, mereka tidak sungkan untuk berbelanja di pusat belanja grosir seperti di
ITC Mangga Dua.
Seorang kawan yang saya duga memiliki harta kekayaan bersih lebih dari Rp 20
miliar dan tinggal di kawasan Karawaci, Tangerang, pernah mengatakan kepada
saja bahwa, ”Saya menganut pandangan bahwa apa pun yang kita gunakan dan nampak
oleh orang lain seharusnya tidak lebih dari sepertiga kekuatan kita yang
sesungguhnya. Dan kalau saya bisa menggunakan sepertigapuluh atau bahkan
sepertigaratus dari kemampuan finansial saya untuk hidup nyaman, itu sudah
cukup. Saya tidak suka dikenal terutama sebagai orang kaya. Saya lebih suka
dikenal sebagai orang yang berkarya”. Pernyataan ini dengan tegas menunjukkan
bahwa ia menikmati hidup dibawah kemampuan yang sesungguhnya.
Karena terbiasa hidup dibawah kemampuan yang sesungguhnya, maka
mereka—orang-orang kaya tersebut—selalu memastikan bahwa biaya konsumsi mereka
jauh dibawah penghasilan rutin yang mereka peroleh. Itulah habitus kedua. Jika
mereka memperoleh penghasilan rutin (katakan saja) Rp 30-40 juta per bulan,
maka mereka telah membiasakan diri untuk hanya menggunakan sekitar Rp 10-15
juta per bulan untuk memenuhi kebutuhan bulanan keluarganya. Dan ketika
penghasilan mereka meningkat menjadi Rp 60-70 juta per bulan pun, mereka tidak
merasa perlu untuk mengubah pola konsumsi mereka. Dalam hal ini yang meningkat
secara langsung adalah jumlah tabungan untuk investasi, karena biaya konsumsi
relatif tetap.
Habitus yang ketiga adalah kebiasaan menyisihkan dana untuk tabungan dan
investasi dulu, dan menyisakan yang lainnya untuk konsumsi rutin setiap
bulannya. Jadi bukannya menggunakan penghasilannya untuk konsumsi dan kalau
akhir bulan masih tersisa baru ditabung dan diinvestasikan. Dengan kata lain,
mereka terbiasa untuk mencurahkan cukup banyak waktu untuk memikirkan soal
kemana dan bagaimana uang mereka ditabung dan diinvestasikan agar berkembang
lebih maksimal. Mereka tidak memberikan banyak waktu untuk memikirkan cara-cara
menggunakan uang secara konsumtif, untuk berbelanja berlama-lama di pusat-pusat
pembelanjaan. Sebaliknya, mereka memberikan banyak waktu untuk memikirkan
hal-hal yang membuat harta mereka menjadi makin produktif, tumbuh dan
berkembang, sehingga mereka menjadi mapan secara keuangan.
Setiap kali saya mengingat sejumlah perbincangan ketika berkesempatan
mewawancarai atau sekadar mendengarkan nasihat orang-orang seperti Mochtar
Ryadi, Ir. Ciputra, Bob Sadino, Jonathan L. Parapak, dan Soen Siregar, saya
merasakan bagaimana ketiga habitus yang disebut di atas telah terpatri menjadi
bagian dari tarikan nafas orang-orang tersebut. Tentu saja masih banyak lagi
habitus orang-orang yang mapan secara finansial itu. Namun tiga yang telah
dipaparkan di atas adalah habitus yang paling umum.
Karena itu saya bisa memastikan bahwa kawan-kawan saya yang lebih suka
menampilkan gaya hidup seperti orang kaya, membiasakan diri untuk berbelanja
lebih dulu dan menabung belakangan, serta senang menghabiskan banyak waktu
untuk memikirkan barang-barang konsumsi (gonta-ganti mobil baru tiap 1-2 tahun
sekali, mengenakan pakaian-pakaian bermerek yang dibeli secara kredit, makan
minum di tempat-tempat mahal, dan sebagainya), pastilah tidak akan pernah
menjadi orang yang mapan secara keuangan. Orang muda yang suka foya-foya,
hampir pasti akan hidup susah di usia senja. Sepasti matahari tenggelam di ufuk
barat.
Kalau tak percaya, silahkan mencoba dan rasakan akibatnya!
Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]