http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/04/02565741/raja.yang.meredam.kekacauan.dunia
KOMPAS/RENE L PATTIRADJAWANE
LEGENDA MACANRaja yang Meredam Kekacauan DuniaKamis, 4 Februari 2010 | 02:56 WIB
Kita sering terheran dengan simbol-simbol mitologi China karena di mana pun di
dunia, raja dari segala binatang adalah singa, bukan macan. Konon, menurut
legenda China pada zaman dahulu kala, singa termasuk salah satu shio dari 12
binatang dalam kepercayaan masyarakat China. Tidak ada macan.
Karena singa itu terlalu kejam, Dewa Utama mau menyingkirkan singa dari
struktur shio. Tetapi Dewa Utama tidak bisa begitu saja melakukannya karena
singa adalah raja dari segala raja binatang. Kalau singa mau disingkirkan,
perlu binatang baru untuk mengontrol binatang-binatang yang ada. Dia teringat
sama macan.
Macan sendiri adalah makhluk yang tidak penting di dunia manusia, lanjut
legenda yang ada. Namun, ketika macan belajar keahlian bertarung dari kucing,
sang macan menjadi ksatria gagah berani. Semua binatang yang menantang dia akan
mati atau luka parah sekali. Macan yang selalu menang dalam perkelahian menjadi
terkenal karena keahliannya.
Karena macan menjadi sangat terkenal, Dewa Utama memanggilnya ke kahyangan.
Setibanya di sana, macan pun berhasil mengalahkan semua ksatria Dewa Utama.
Setelah memenangkan semua pertempuran, macan pun menjadi salah satu ksatria
penting Dewa Utama.
Aksara raja
Namun, setelah macan menjadi salah satu ksatria penting Dewa Utama,
binatang-binatang di dunia mulai menyerang manusia karena kurangnya pengawasan.
Berbagai kejadian telah menarik perhatian Dewa Utama, dan kemudian
memerintahkan turun ke bumi untuk melindungi umat manusia.
Macan kemudian meminta persyaratan untuk setiap perkelahian yang dimenangkan,
ia ingin mendapat penghargaan. Permintaannya dikabulkan oleh Dewa Utama.
Setelah tiba di bumi, macan mempelajari kalau singa, beruang, dan kuda adalah
binatang paling kuat. Macan menantang semua dan menang.
Ketika berbagai makhluk jahat mendengar kemenangan macan, semua bersembunyi di
hutan yang tidak berpenghuni dan tidak pernah terlihat lagi. Seluruh umat
manusia berterima kasih kepada macan karena mengalahkan makhluk-makhluk jahat.
Macan pun kembali ke kahyangan. Karena macan telah menang tiga kali, Dewa Utama
menempatkan tiga garis utama di kening sang macan. Lewat beberapa waktu, dunia
kembali dikacaukan oleh seekor kura-kura yang memiliki kekuatan magis jahat.
Bumi dibanjiri air bah oleh kura-kura tersebut.
Macan kembali dikirim ke bumi dan membunuh kura-kura jahat tersebut. Dewa Utama
kemudian memberikan penghargaan dengan menambah garis horizontal di tengah tiga
garis yang dihadiahkan di kening macan.
Penambahan garis ini membentuk aksara China ”wang” yang berarti raja. Aksara
kanji ”wang” ini sampai sekarang masih terlihat di kening macan.
Ketika Dewa Utama mendengar kebrutalan singa di dunia, diputuskan status shio
singa dicopot dan macan dipilih untuk menggantikan singa dalam strata shio
kepercayaan China. Selain memiliki status shio, macan pun dinobatkan sebagai
raja dari segala binatang. Macan dalam legenda China disimbolkan sebagai
peredam kekacauan yang terjadi di bumi.
[Non-text portions of this message have been removed]