http://groups.yahoo.com/group/tarbawi_community/message/9355
"seismic_yuni" <seismic_y...@...>
seismic_yuni
S3 Siapa takut ?
ternyata inspirasi bukan lah sebuah hal yang sulit dicari, bahkan seorang dosen
pun dapat membuat cerita yang begitu menginspirasi kami...
Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang dosen,
dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata, "Pak, beasiswa
Program Magister dan Doktor saya lolos". Dan hanya itu saja kata2 yang keluar
dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari wajahnya... mengingat di luar
sana berjuta - juta orang memimpikan pencapaian ini. Dan sang dosen tertegun,
kemudia dia berkata, "Bagus donk dek, kamu bisa bikin bangga banyak orang, dan
itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa yang membuat kamu terlihat
bimbang dek."
Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. "Pak, sekolah hingga S2 dan
S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, tidak
terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa ini....
Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan ini..
Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan hal
baru, tidak lebih.. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan suami
saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga.. Lalu, dengan semua keadaan
ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua menjadi mubazir, karena
mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya jalani."
Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan yang
sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya... Dosen itu
pun berfikir, memejamkan mata, menunggu Allah SWT membuka hatinya, memasukkan
jawaban dari pertanyaan indah ini...
Dan jawaban itu datang kepadanya, masuk ke dalah ide nya.... Pak dosen berkata
seperti ini kepada mahasiswinya.. "Dek, sekarang bertanyalah kepada hati kecil
mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan pendidikan ini hingga
puncak nanti.." .. Sang mahasiswi bingung, dia menunduk , air mata turun dari
kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat besar ... yang
saling ingin meniadakan.. Dosen itu melanjutkan nasehatnya.. "Dek, saya ingin
bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan seorang S3 dan
mendapat ilmu darinya?" "Sejak saya kuliah di ITB , Pak." Jawab sang gadis.
Kemudian dosen itu melanjutkan ,"Ya dek, betul, saya pun demikian, saya baru
diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di kampus ini.. Tapi dek,
coba adek fikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang pertama yang
akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan S3. Orang yang pertama
mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca,
dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu
nanti, apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang
akan kau lahirkan nanti." Dan itulah jawaban Allah SWT melalui pak dosen....
Mahasiswi itu tersadar dari konflik panjangnya, dan ia tersenyum bahagia, sangat
bahagia, air matanya menjadi air mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima
kasih nya kepada sang dosen, dan berkata , "Pak, terima kasih, akan saya
lanjutkan pendidikan ini hingga tidak satupun puncak lagi yang menghalangi
saya."
Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna.. Bukan uang yang nanti
akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi kebahagiaan
yang hakiki,.
Based on Dr. Hermawan Dipojono story... Lecture from Physics Engineering, ITB .
This article was originally published in forum thread: kisah inspiratif
(terlebih lagi untuk akhwat) started by jalu_naradi View original post
[Non-text portions of this message have been removed]