http://groups.yahoo.com/group/jurnalisme/message/57758
Satrio Arismunandar <satrioarismunan...@...>satrioarismu... 
Upaya PT Dirgantara Indonesia
Bertahan di Industri Pesawat Terbang

Bangkit Lewat Ketiak Sayap
Airbus

Dalam beberapa kesempatan, Prof Dr Ing
Bacharuddin Jusuf Habibie mengaku sangat kecewa melihat nasib PT Dirgantara
Indonesia. Sebab, industri pesawat terbang yang dirintisnya itu kini jalan di
tempat. Bagaimana kondisinya sekarang?
---
" KITA
pernah mengembangkan sendiri pesawat terbang CN-235 dan N-250 untuk membuktikan
bahwa SDM Indonesia mampu menguasai dan mengembangkan teknologi secanggih apa
pun. Di mana itu semua sekarang?" tegas B.J. Habibie, mantan presiden RI, di
depan peserta kuliah umum bertema Filsafat dan Teknologi untuk Pembangunan di
Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Jumat lalu
(12/3).

Ya, PT Dirgantara Indonesia (PT DI)
memang tidak bisa dibandingkan dengan ketika perusahaan itu masih bernama
Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) dan Habibie masih menjabat presiden
direktur. Saat itu IPTN memiliki 16 ribu karyawan. Kompleks gedung IPTN di
kawasan Jalan Pajajaran, Bandung, berdiri megah, menempati lahan seluas 83
hektare.

Yang paling laris adalah pesawat
CN-235. Pesawat berkapasitas 35 sampai 40 orang itu paling banyak diorder dari
dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, ada pesawat C-212 (kapasitas 19-24
orang). Produk chopper alias helikopter juga tak mau kalah. Ada NBO-105, NAS-332
Super Puma, NBell-412, dan sebagainya. Semua produk burung besi tersebut begitu
membanggakan bangsa saat itu.

Namun, persoalan muncul saat krisis
ekonomi menggebuk Indonesia pada 1998. Ketika itu, PT DI yang bernama Industri
Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) mendapat order membuat pesawat N-250 dari luar
negeri. Pesawat terbang ini berkapasitas 50 hingga 64 orang. Sebuah kapasitas
ideal untuk penerbangan komersial domestik. Umumnya pesawat domestik di tanah
air saat ini menggunakan pesawat dari kelas yang tak jauh berbeda dari
N-250.

PT DI menerima pesanan 120 pesawat.
Ongkos proyek yang disepakati USD 1,2 milliar. PT DI langsung tancap gas. Ribuan
karyawan direkrut. Mesin-mesin pembuat komponen didatangkan. ''Kami berupaya
keras menyelesaikan proyek itu sesuai target,'' tutur Direktur Integrasi Pesawat
PT DI Budiwuraskito saat ditemui Jawa Pos di Bandung pekan
lalu.

Namun, PT DI harus menelan pil pahit.
Pemulihan krisis ekonomi bersama International Monetary Fund alias IMF
mengharuskan Indonesia menerima sejumlah kesepakatan. Salah satunya, Indonesia
tak boleh lagi berdagang pesawat. ''Itu benar-benar memukul kami,'' kata
Budiwuraskito, pria Semarang ini.

Padahal, kata Budi, PT DI telanjur
merekrut banyak karyawan. Sejumlah teknologi dan peralatan sudah didatangkan.
Semua siap produksi. Pesawat contoh bahkan sudah jadi, sudah bisa terbang, dan
siap dijual. Tinggal menunggu proses sertifikasi penerbangan. ''Nggak tahu,
mungkin ada negara yang takut tersaingi kalau Indonesia bikin pesawat,'' ujarnya
mengingat sejarah kelam PT DI itu.

Bayangan menerima duit gede USD 1,2
milliar menguap. Malah, PT DI harus memikirkan cara menghidupi karyawan yang
telanjur direkrut. Proyek memang batal, tapi orang-orang yang hidup dari PT DI
juga tetap harus dikasih makan. ''Akhirnya, mau tidak mau, kami mem-PHK karyawan
secara baik-baik,'' katanya.

Pada 2003, PT DI memutus kerja
sembilan ribu lebih karyawan. Jumlah itu terus bertambah. Dari 16 ribu pekerja,
PT DI hanya menyisakan tiga ribu pekerja. Baik di bagian produksi maupun
manajemen. Kondisi itu semakin membuat PT DI terpuruk. Apalagi, tak ada lagi
order pesawat yang datang. Roda perusahaan pun tak berjalan.

Namun, PT DI berupaya mempertahankan
diri. Semua pasar yang bisa menghasilkan duit disasar. Mulai pembuatan komponen
pesawat hingga industri rumah tangga seperti pembuatan sendok, garpu, dan
sejenisnya. Salah satunya membuat alat pencetak panci.

''Pabrik-pabrik pembuat panci itu kan perlu alat
pencetak. Biasanya mereka impor dari luar negeri. Mengapa harus impor kalau bisa
kita bikinin. Dan, itu lumayan untuk membuat roda perusahaan berjalan,'' kata
Budi. Tapi, urusan panci itu tak banyak membantu. Pada 2007, BUMN yang didirikan
pada 26 April 1976 itu dinyatakan pailit alias bangkrut.
***
PT DI
tak lantas almarhum. Pemerintah masih punya keinginan mengembangkannya meski
modal yang diberikan tak terlalu deras. Dan, kendati sudah dinyatakan pailit,
masih ada rekanan dari mancanegara yang percaya akan kualitas produk PT
DI.

Salah satunya British Aerospace (BAE).
PT DI mendapat order sebagai subkontrak sayap pesawat Airbus A380 dari pabrik
burung besi asal Inggris itu. Juga ada order dari dua negara Timur Tengah enam
pesawat jenis N-2130. Apalagi, Indonesia sudah menceraikan IMF. Artinya, PT DI
sudah leluasa berdagang pesawat.

Budi menuturkan, order enam pesawat
itulah yang bisa dibilang ''menyelamatkan'' PT DI saat itu. Laba dari pesanan
itu digunakan sebagai modal pengembangan. Selain itu, PT DI semakin fokus
menggarap pasar komponen dan bagian-bagian pesawat dengan menjadi subkontrak
atau offset program. Antara lain bagian inboard outer fixed leading edge (IOFLE)
dan drive rib alias ''ketiak'' sayap milik Airbus A380.

Airbus A380 adalah pesawat bikinan
Airbus SAS (Prancis) yang sudah kondang di jagat dirgantara. Pesawat ini
biasanya digunakan untuk penerbangan internasional lintas benua dengan muatan
500 hingga 800 penumpang. ''Kita mencoba meraih untung dengan menjadi subkontrak
dari pemain besar,'' kata Budi.

Kondisi PT DI terus membaik. Dalam
waktu dekat mereka akan memproduksi pesawat tempur dengan dana urunan bersama
pemerintah Korea Selatan (Korsel) sebesar USD 8 milliar. Indonesia menyumbang
USD 2 milliar, sedangkan pemerintah Korsel USD 6 milliar. ''Tapi, untuk
Indonesia itu akan kita konversikan dalam bentuk tenaga, teknologi, dan
pengembangan pesawat tersebut,'' katanya.

Kemampuannya tak jauh berbeda dengan
F-16 Fightning Falcon, pesawat tempur kondang buatan Amerika Serikat yang
digunakan 24 negara di dunia. Rinciannya, 200 unit untuk Korsel dan 50 untuk
Indonesia. ''Proyek ini memakan waktu sampai tujuh tahun,'' kata
Budi.

Selain itu, order dari Timur Tengah
terus berdatangan. Sejumlah negara memesan CN-235 untuk pesawat pengawas pantai,
pengangkut personel militer, dan pemantau perbatasan. Dari dalam negeri,
Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga memesan enam unit helikopter dan Badan SAR
Nasional (Basarnas) empat unit.

Budi mengakui, tren industri
dirgantara di Indonesia terus naik kendati perlahan. Paling tidak, tujuh tahun
ke depan, PT DI bisa meraup laba yang lumayan dari membuat pesawat. Sebenarnya,
kata Budi, keuntungan itu bisa didongkrak bila ada keberanian mencari pinjaman.
Tapi, itu bakal sulit. ''Tidak banyak bank yang mau. Sebab, risikonya terlalu
tinggi. Padahal, semakin tinggi risiko, janji revenue juga besar,'' kata Budi
yang lulusan Teknik Penerbangan, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan
menyelesaikan gelar MBA di Belanda itu.

Strategi pengembangan PT DI saat ini, kata Budi, tak
bisa terlalu ekspansif. PT DI memilih berjalan perlahan dengan memanfaatkan
margin keuntungan sebagai modal pengembangan. ''Begini saja, lebih aman,'' kata
Budi lantas tersenyum. (aga/c2/iro)

(JawaPos)


http://defense-studies.blogspot.com/2010/03/pt-di-akan-membuat-50-pesawat-tempur\
.html


Satrio Arismunandar
Executive ProducerNews Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 3542,  Fax: 79184558,
79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.comhttp://satrioarismunandar.multip\
ly.com   Verba volant scripta manent...(yang terucap akan lenyap, yang tertulis
akan abadi...)
.


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke