Joko,

Masalahnya begini. Kalau kita hanya mengandalkan support dari media, maka
kita hanya mengandalkan security dari obscurity (ketidaktahuan) seseorang
akan isi data tadi.

Seandainya ada seseorang yang punya alat untuk membaca smart-card
bagaimana? Mungkin sekarang masih mahal, tapi bagaimana dengan
beberapa tahun lagi?

Seharusnya yang menjadi pertanyaan, kenapa dengan data nama dan norek
bisa menjadi masalah? Bukankah ini data yang mudah sekali didapatkan,
bahkan tidak perlu menggunakan kartu?
Jika keamanan bisa dijebol hanya dengan bermodalkan nama dan norek,
bukankah itu berarti sistem authentication-nya yang harus diperbaiki?

Sebetulnya kalau mau, data yang ditulis di magnetic stripe juga bisa
di-encrypt. Terserah kita mau data apa yang ditulis.

Kenapa saya bilang encryption ini mahal, karena data yang ditulis
tadi tidak bisa dibaca langsung lagi.
Ini berarti semua reader yang ingin membaca data, harus memiliki
private key untuk bisa men-decrypt data-nya. Seandainya ada perubahan
di private-key, maka semua reader harus diganti. Ini yang membuat
biaya implementasi dan operasi (capex/opex) jadi mahal.

Make sense?


KOkon.

2010/5/17 Joko Nurjadi <[email protected]>

>
>
> katakanlah ATM card berisi nama+norek (contoh aja soalnya saya juga ngga
> tau isinya), kalau data dapat dibaca dengan mudah, maka saya bisa bikin
> card palsu hanya dengan modal magnetic stripe encoder, bahkan ngga perlu
> pake alat skimmer (untuk menyadap/mengcopy isi card) yg tempo hari heboh
> itu. lagipula, apa ada rasa trust di customer bank jika data ATMnya
> mudah terbaca?
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke