menyentuh hati...
http://groups.yahoo.com/group/Tauziyah/message/21741
"seismic_yuni" <seismic_y...@...>seismic_yuni
Offline
Send Email
Pengantin Baru Seumur Hidup
Sejak masih gadis, gangguan lambung (maag) sering aku alami. Perut kembung,
perih, sebah, tidak nyaman, bahkan nyeri sudah lama aku akrabi. Tanpa merasa
perlu ke dokter, kalau rasa nyeri atau tidak nyaman itu muncul, aku langsung
mengkonsumsi obat maag yang banyak dijual di pasaran. Beres.
Tapi suatu ketika aku terpaksa pergi ke puskesmas dekat rumah. Waktu itu masih
dalam suasana pengantin baru, baru sebulan sebelumnya aku menikah dengan Mas
Dargo, pujaan hatiku. Seminggu lebih aku terkena flu berat. Obat flu yang aku
beli di toko tak mampu meredakan flu yang kuderita. Sudah tentu hal ini sangat
mengganggu pekerjaanku sebagai guru SMP di pelosok kecamatan. Maka aku
memutuskan untuk ke dokter.
Dokter di puskesmas memeriksaku dengan teliti, termasuk memeriksa isi dada dan
perutku dengan stetoskop, juga meraba dan mengetuk-ngetuk perutku dengan jari.
Dan dokter itu menemukan keanehan. Beliau meraba sesuatu yang tidak normal di
dalam perutku. Maka ketika pulang aku mendapat obat flu dan sehelai surat
rujukan untuk pemeriksaan lanjutan di RSUD Trenggalek, sebuah kota kecil di
pantai selatan Jawa Timur.
Pemeriksaan USG di RSUD Trenggalek menemukan ketidaknormalan di ovarium kanan.
Seperti tumor atau entah apa. Keterbatasan sarana membuat dokter tidak berani
menetapkan diagnosa yang pasti. Kemudian aku dirujuk ke RSUD Tulungagung. Di
sana aku kembali menjalani serangkaian pemeriksaan dengan kesimpulan: ada
semacam bisul yang menyebabkan abses di ovarium kananku. Aku pulang dengan
perasaan lega, bahwa penyakitku ternyata cuma bisul –hanya tempatnya yang agak
aneh. Dokter memberi obat untuk mengempiskan abses pada ovariumku.
Yang aku rasakan, sejak mengkonsumsi obat itu perutku malah terasa sakit.
Tegang, nyeri, dan sering cenut-cenut. Tetapi pada saat yang sama, ayah mertuaku
jatuh sakit hingga dirawat di rumah sakit, dan akhirnya meninggal dunia. Baru
sebulan kemudian aku sempat memperhatikan rasa sakit di perutku dan kontrol
kembali ke RSUD Tulungagung.
Kali ini dokter melihat bahwa "bisul" di ovariumku ternyata membesar dan semakin
parah. Beliau menyarankan tindakan operasi untuk mengangkat ovarium kanan yang
bisulan tersebut. Aku menyetujuinya, percaya penuh bahwa dokter pasti melakukan
yang terbaik untukku.
BABAK BARU
Saat itu tanggal 2 Agustus 1999. Umurku masih 25 tahun. Setelah beberapa jam
melakukan operasi, dokter menemui suamiku dengan berita yang sangat mengejutkan.
Dari rencana semula hanya mengangkat ovarium kanan karena "bisulan", akhirnya
dokter mengangkat seluruh ovarium dan rahimku (histerektomi total) tanpa sempat
memberitahu keluarga dahulu, karena menemukan keganasan pada ovarium kananku,
bahkan telah mulai menyebar ke usus. Kanker ovarium stadium 3B, kata dokter.
Runtuhlah langit di atas kepala Mas Dargo.
Runtuhlah langit di atas kepalaku juga, ketika Mas Dargo memberi tahu hal ini.
Kami berpelukan dan menangis bersama. Belum lagi 40 hari kepergian ayah Mas
Dargo, kami ditimpa musibah begini berat. Terkena kanker dan rahimku diangkat
saat kami belum puas berbulan madu dan tengah mendambakan kehadiran seorang
anak. Antara kesedihan, ketidakpastian, dan kehampaan berkecamuk dalam
perasaanku. Akan seperti apa nasib pernikahanku kelak? Dalam sekejap duniaku
terbalik dan hancur lebur.
Untunglah, sebagai bungsu dari 10 bersaudara, embok (ibu) dan kakak-kakakku
memberikan support yang luar biasa, sehingga aku tak berlama-lama tenggelam
dalam kesedihan. Aku meyakinkan diriku bahwa ini adalah takdir yang terbaik
bagiku. Toh penyesalan dan kemarahan tak mungkin akan mengembalikan keadaanku
menjadi seperti semula.
Tiga minggu setelah operasi, aku menjalani kemoterapi di RSU Dr. Soetomo,
Surabaya, 200 Km jauhnya dari rumahku. Proses memasukkan dua macam obat
kemoterapi berjalan sehari semalam. Mualnya tak terkatakan lagi. Aku tidak bisa
berhenti muntah selama menjalani proses itu, terutama saat memasukkan obat kedua
yang berwarna merah (aku tidak tahu namanya). Tiap menit aku muntah, walau tidak
ada apa-apa lagi untuk aku muntahkan.
Dokter sempat menawarkan mengganti obat kemo dengan yang lebih baik –yang tidak
terlalu kuat efek mualnya– tetapi harga Rp 2 juta (waktu itu) bagiku terasa
sangat berat. Aku memilih tetap menggunakan obat jatah askes-ku, dengan resiko
tidak berhenti muntah selama hampir sehari semalam.
Rasa mual itu terus aku rasakan hingga seminggu kemudian. Badan menjadi lemas
tak bertenaga. Bangkit dari tempat tidur pun tak mampu lagi. Walau demikian, aku
bertekad kuat bahwa aku harus sembuh. Apapun aku mau menjalaninya demi
kesembuhanku. Aku tidak ingin Mas Dargo kehilangan istri setelah kehilangan
ayahnya.
PENGANTIN BARU SEUMUR HIDUP
Maka dalam kemualanku di antara waktu-waktu kemoterapi, aku memaksakan diri
memakan makanan bergizi sebanyak-banyaknya agar kondisiku cepat pulih. Dokter
(lupa?) tidak menyarankan diet khusus atau pantangan apapun, maka aku pun tidak
berpantang apa-apa; kecuali buah-buahan sebangsa semangka dan melon yang kata
seorang pengobat alternatif harus aku hindari. Mas Dargo dengan setia dan penuh
cinta melayani dan menghiburku seolah-olah aku ini ratunya.
Mbak Jilah, kakak perempuanku, tiap hari menyediakan tujuh gelas "minuman wajib"
untukku, dari jus wortel campur apel dan tomat, perasan kunyit dicampur madu dan
kuning telor (ramuan ini kuminum pagi dan sore, sangat cepat memulihkan
staminaku), rebusan benalu teh (kiriman Dik Titi dari Bogor) dan kunyit putih,
hingga susu. Tiap kali minum, aku muntah. Tapi tiap kali muntah, tiap kali itu
pula Mbak Jilah menyediakannya lagi untukku. Sampai aku bisa meminumnya tanpa
muntah lagi. Sepertinya kejam, ya? Tapi itulah ketegasan dan wujud kasih sayang
yang kubutuhkan untuk bisa sembuh.
Mas Karji yang bekerja di Samarinda mengirimiku kepingan-kepingan sirip hiu,
yang oleh Mbak Kesi dioven dan digiling untuk kemudian dijadikan kapsul.
Semuanya aku telan dengan keyakinan kuat bahwa aku pasti sembuh olehnya.
Doa-doa pun tak henti dipanjatkan, baik oleh seluruh keluarga besarku maupun
para tetangga yang secara berkala diundang oleh embok untuk mengaji di rumahku.
Dan tentunya oleh murid-muridku, yang satu semester penuh kutinggalkan.
Demikianlah, setelah menjalani kemoterapi enam kali, aku dinyatakan sembuh. Tak
ada lagi sel kanker dalam tubuhku. Sekalipun demikian, aku masih melanjutkan
aneka "minuman wajib"-ku hingga setahun lamanya. Setiap bulan selama setahun aku
patuh untuk selalu kontrol dan melakukan tes tumor marker. Lalu tiga bulan
sekali selama setahun. Lalu enam bulan sekali. Dan hingga kini aku masih
melakukannya setahun sekali. Alhamdulillah hasilnya selalu baik.
Syukurlah masa-masa sulit itu telah lewat. Alhamdulillah juga aku dikaruniai
suami yang sangat setia. Kuakui, jejak operasi itu membuatku tak dapat melakukan
tugasku sebagai istri dengan sempurna. Lebih-lebih, aku tak mungkin bisa
mempersembahkan seorang anak pada suamiku. Sebagai seorang laki-laki normal, Mas
Dargo tentu pernah menginginkan memiliki keturunan sendiri. Tetapi ia
marah-marah saat kuanjurkan untuk menikah lagi. Ia memilih untuk menjadi
pengantin baru seumur hidup denganku.
(Berdasarkan penuturan Suyanti pada Titah Rahayu/rumahkanker.com)
PS : pengin jadi pengantin baru untuk seumur hidup, subhanallah
[Non-text portions of this message have been removed]