Itu betul. Kalau memang yang ada yang murah dan hasilnya bagus, kenapa
tidak?

Saya jarang menemui end-user yang betul-betul tahu apa yang mereka perlukan.
Biasanya lebih sering ketemu dengan mereka yang tahu apa yang mereka mau,
tapi belum tentu perlu.
Karena banyak faktor-faktor external tadi, maka project lebih sulit untuk
diselesaikan
tepat waktu. Apalagi vendor-nya juga kurang berpengalaman.

Seandainya vendor-nya berpengalaman dan bisa mengantisipasi
perubahan-perubahan
tadi, apakah dia mau dibayar murah?
Misal, proyek X bisa selesai dalam waktu 1 bulan dengan biaya $Y per hari.
Seandainya vendor lain bisa mengerjakan dalam waktu 2 minggu dengan biaya 1
atau 2 kali
lipat lebih besar. Apakah kita harus memilih vendor pertama atau vendor
kedua?
Tergantung kondisi.

Tapi dari pengalaman saya pribadi, selalu ada peluang untuk menerima bayaran
lebih tinggi,
dengan catatan expertise harus unik dan jarang dimiliki.
Expertise bukan berarti subject yang lebih sulit.

Misal, kebetulan ada proyek dari client untuk develop Silverlight API untuk
video tracking.
Market rate-nya rata-rata $200 per jam. Itupun sulit mencari developernya.
Dibilang sulit tidak juga. Mau sampai kapan rate-nya bisa $200 per jam? Kita
tidak tahu.
Tapi seandainya rarity dari silverlight developer tidak berkembang,
kemungkinan besar
rate $200 per jam tadi akan tetap ada.



KOkon.

2010/7/13 Johan . <[email protected]>

>
>
> Menurut saya, outsourcing yang gagal karena:
> - end user tidak tahu benar apa yang dia mau, hal ini akan menyebabkan
> banyak perubahan2 yang mengakibatkan project tidak selesai2 dan cost menjadi
> besar
>
> - vendor yang kurang reliable pada bidang nya, sebaik nya dipelajari track
> record vendor yang akan diberikan job.
>
> mungkin yang lain bisa menambahkan. tetapi menurut saya, bila ada yang
> murah dan hasil nya benar, mengapa harus bayar mahal?
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke