http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/30859
FYI.. 
Sorry kalau re-post.. :-)

-- 
Wassalam,

Irwan.K
"Better team works could lead us to better results"
http://irwank.blogspot.com
fb/twitter/skype: irwank2k2

---------- Pesan terusan ----------
Dari: Ananda Setiyo Ivannanto <ivanna...@...>
Tanggal: 27 Juli 2010 09:33
Subjek: [DIKBUD] Pak Yusril Yusuf, Alumni Kyushu University di Jepang Mewakili 
Indonesia di Lindau Nobel Laureta (Kompas)
Ke: [email protected]


 Dear rekan2, 
Assalaamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Alumni Kyushu University di Jepang, bapak Yusril Yusuf, yang sempat aktif di 
PPI Jepang dan NU Jepang, menjadi wakil Indonesia di Lindau Nobel Laureta ke-60 
di Lindau, Jerman, 27 Juni-2 Juli lalu. Berikut artikelnya saya kutip dari 
Kompas: 
http://cetak.kompas.com/read/2010/07/26/03363629/yusril.yusuf.dan.penelitian.tentang.otot
Yusril Yusuf dan Penelitian tentang OtotSenin, 26 Juli 2010 | 03:36 
WIBKOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM Irene SarwindaningrumPeneliti Yusril Yusuf 
menolak terperangkap keterbatasan. Di tengah minimnya sarana penelitian di 
Indonesia, dosen Fisika Fakultas Matematika dan IPA Universitas Gadjah Mada, 
Yogyakarta, itu tidak putus berusaha mengembangkan penelitiannya. Berkat 
keuletannya tersebut, Yusril terpilih sebagai satu-satunya wakil Indonesia 
dalam pertemuan ilmiah internasional Lindau Nobel Laureta ke-60 di Lindau, 
Jerman, 27 Juni–2 Juli lalu.Selama ini, di sebuah laboratorium kecil dengan 
atap bertambal plastik karena bocor, Yusril menekuni penelitiannya. 
Laboratorium Fisika Materi Fakultas Matematika dan IPA UGM yang didirikannya 
pada 2007 itu menjadi saksi keuletan lelaki kelahiran Pekanbaru, Riau, 
ini.”Saya membangunnya dari nol, sekarang sudah menghasilkan seorang sarjana 
dan 12 master dari para mahasiswa yang meneliti di sini,” kata Yusril di
 laboratorium kecil itu di Yogyakarta.Tidak banyak yang bisa dilihat di 
laboratorium tersebut, selain meja laboratorium dengan dua mikroskop. Satu 
mikroskop adalah hadiah dari dosen pembimbingnya di Jepang.Terdapat pula dua 
perangkat komputer dan sejumlah perangkat penelitian. Di salah satu pojok 
ruangan ada lemari penyimpan Liquid Crystal Elastomers (LCEs) yang didapat 
cuma-cuma dari penemunya sendiri, profesor asal Jerman.Dengan semua ini, Yusril 
mengembangkan penelitian mengenai otot berbahan LCEs untuk membuat otot buatan 
semirip mungkin dengan otot asli. Bahannya lentur dan kenyal mirip otot manusia 
serta mampu berkontraksi saat dialiri tegangan listrik.Penelitian yang relatif 
baru dan belum banyak digeluti di Indonesia ini membuka celah terciptanya organ 
tubuh buatan yang lebih manusiawi dan mirip aslinya. Penelitian juga berpotensi 
dikembangkan menjadi robot elastis yang dapat digunakan untuk mencari korban di 
reruntuhan akibat gempa.”Selama ini
 orang selalu kesulitan mencari korban gempa di bawah reruntuhan. Dengan robot 
yang lentur dan fleksibel, pencarian korban bisa jauh lebih mudah dan cepat 
sehingga jatuhnya korban jiwa bisa dicegah,” ujarnya.Empat negaraYusril 
mengatakan, penelitian yang dia lakukan merupakan penelitian lintas negara. 
Lima peneliti dari empat negara terlibat di sini, yaitu Jepang, Jerman, Amerika 
Serikat, dan Indonesia. Penelitian total di Indonesia sendiri tak memungkinkan 
karena adanya keterbatasan sarana dan ahli.”Kami berlima masih terus melakukan 
eksperimen di tempat masing-masing. Apa yang tidak bisa dilakukan di sini, ya, 
dilakukan di Jepang, misalnya. Atau sebaliknya, data eksperimen yang kami 
lakukan di sini juga bisa dipakai peneliti di Jepang atau di Jerman. Tetapi, 
sering kali hasil penelitian di sini tidak bisa menghasilkan pengembangan baru 
karena alat yang tersedia sangat terbatas,” kata Yusril.Bidang penelitian 
tersebut menumbuhkan minat keilmuan
 Yusril selama kuliah di Kyushu, Jepang, pada 2000-2008. Pada 2006 di Colorado, 
Amerika Serikat, bapak tiga putri itu meraih penghargaan Glenn H Brown Prize 
dari International Liquid Crystal Society (ILCS) atas penelitian yang 
dilakukannya.Yusril tercatat sebagai peneliti pertama asal Indonesia yang 
berhasil meraih penghargaan tersebut. Penghargaan Glenn H Brown Prize telah 
diberikan kepada 32 peneliti yang sebagian besar berasal dari Eropa, Amerika, 
dan Jepang.Pulang ke Indonesia, Yusril, dengan dukungan universitas dan 
fakultasnya, langsung mendirikan laboratorium fisika materi. Alat-alatnya 
sebagian pemberian dari kolega dan rekannya di luar negeri. Dia juga membimbing 
para mahasiswa yang tertarik dalam bidang penelitian tersebut.Penelitian itu 
pula yang mengantar Yusril bertemu dengan 61 pemenang nobel dan 650 peneliti 
muda bidang fisika, kimia, dan fisiologis medis sedunia di Lindau, Jerman.Dalam 
pertemuan tersebut, Yusril berharap dapat menemukan
 ilmuwan-ilmuwan lain yang dapat dia ajak berdiskusi untuk mengembangkan 
penelitiannya. Di Indonesia, Yusril kesulitan menemukan rekan diskusi karena 
masih terbatasnya peneliti di bidang ini.Keberangkatan Yusril ke Lindau bisa 
dikatakan sebagai sebuah prestasi karena dia terpilih dari belasan peneliti 
muda dari sejumlah negara lain. Dari 10 orang yang terpilih dilingkup ASEAN, 
Yusril memperoleh poin tertinggi dan menjadi guest editor dalam pertemuan 
tahunan tersebut.Lebih dari itu, keberangkatannya ke Lindau, Jerman, merupakan 
pintu untuk mengangkat dunia penelitian Indonesia di tingkat internasional. Hal 
ini diharapkannya dapat membuka keran kerja sama internasional yang akan 
memajukan penelitian di Indonesia.Tradisi keluargaKetekunan Yusril pada bidang 
penelitian dan mengajar bisa ditelusuri dari tradisi keluarga yang mengutamakan 
keilmuan. Ayahnya adalah seorang guru yang kemudian bekerja pada dinas 
pendidikan. Sang ayah berharap, kesembilan anaknya
 mau melanjutkan tradisi keilmuan itu dengan menjadi guru atau dosen.”Dan, 
ternyata (harapan sang ayah) berhasil, saat ini keluarga saya terdiri dari 
dosen, guru, dan ada satu orang yang bekerja di bidang medis,” kata Yusril, 
sang bungsu.Semangat keilmuan telah tecermin dalam keluarga besar itu sejak 
Yusril masih kecil. Meski hidup dalam kesederhanaan, keluarga tersebut selalu 
memprioritaskan kebutuhan sekolah dan pendidikan.Yusril mendalami bidang fisika 
karena sejak SMA telah berminat pada berbagai gejala tak lazim di alam, seperti 
gelombang soliton atau gelombang di permukaan air yang konstan dan tidak 
berhenti.Semula Yusril mengaku lebih banyak berkutat dengan pengembangan teori. 
Namun, hasrat keilmuwanannya tergoda lebih jauh untuk merasakan secara nyata 
teori-teori dalam fisika.”Saya ini pelarian, dari orang teoretis menjadi 
eksperimen,” katanya menambahkan.Nyatanya, hasrat penelitian Yusril tersebut 
tidak hanya membawa dia menjadi seorang
 pelarian. Yusril telah membawa nama Indonesia ke kancah penelitian 
internasional dan berharap bisa berlari lebih kencang untuk penelitiannya.

Dr Yusril Yusuf, M Eng, D Eng 

• Lahir: Pekanbaru, Riau, 20 September 1971 

• Istri: Khusnul Solikhah 

• Anak: 
- Aulia (11) 
- Tsaniya (8) 
- Agisya (5) 

• Pendidikan: 
- SD Teladan Pekanbaru 
- SMP Negeri 4 Pekanbaru 
- SMA Muhammadiyah Dua Yogyakarta 
- Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan IPA Universitas Gadjah Mada, 
Yogyakarta 
- Master di Fakultas Matematika dan IPA Institut Teknologi Bandung 
- Dua kali mengambil Master di Applied Physics, Engineering, Kyushu University, 
Jepang

Salam,
-- 
Ananda Setiyo Ivannanto

A Wing International
Media and Public Relations Executive
Global Business Development Department
http://www.awing-i.com

Master of Science in International Cooperation Policy
Bachelor of Business Administration in Asia Pacific Management
Ritsumeikan Asia Pacific University
http://www.apu.ac.jp

"I help, therefore I exist"
"I serve, therefore I exist"


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke