HINDARI PRASANGKA NEGATIF

 

Oleh Eko Jalu Santoso, Weblog: www.EkoJaluSantoso.com
<http://www.ekojalusantoso.com/> 

 

 

Setaip individu memiliki kemerdekaan hati untuk memilih respon terhadap
situasi, keadaan, masukan dan masalah yang datang. Inilah yang membedakan
manusia yang dibekali akal pikiran dan hati nurani dengan makhluk ciptaan
Allah lainnya. Manusia memiliki kebebasan hati untuk memilih apakah bersikap
positif atau memilih respon negatif, dari setiap situasi, keadaan,
tulisan,semuanya ditentukan dari hati masing-masing.

 

Ketika kita membaca sebuah tulisan dari milis misalnya, itu adalah situasi
atau masukan yang datang dan dapat disikapi melalui kebebasan hati kita.
Sebagai manusia yang dibekali kecerdasan hati nurani, sebaiknya selalu
memilih sikap yang berlandaskan hati nurani terdalam. Hindarilah prasangka
negatif dalam setiap tindakan, tidak terkecuali dalam menulis email ataupun
menangapi sebuah tulisan dalam milis. Karena adanya prasangka akan dapat
menutupi kejernihan suara hati nurani seseorang.

 

Dalam sebuah hadits secara tegas disampaikan bahwa, " Takutlah kalian
berprasangka, karena itu merupakan sedusta-dusta perkataan." Memiliki
prasangka negatif tidak sedikitpun mendatangkan kebaikan, baik buat diri
sendiri maupun buat orang lain. Yang ada hanyalah mendatangkan kerugian dan
kekecewaan bagi semua pihak. Karena suara hati nurani yang bersumber dari
percikan sifat-sifat "Illahiah" dari Allah Tuhan Yang Memiliki Kehidupan
akan tertutupi. Dampaknya adalah memandang kehidupan dengan tidak memiliki
kejernihan hati, sehingga merugikan diri sendiri, orang lain, organisasi
maupun lingkungan kehidupan.

 

Apa sesungguhnya prasangka itu ? Kalau kita mengelaborasi pengertian
prasangka ini dari Imam Sufyan Ats-Tsauri  seorang ulama muslim,
sesungguhnya prasangka itu ada dua jenis:

*       Pertama, prasangka yang dilakukan oleh orang dengan menampakkannya
melalui ucapan atau tulisan.
*       Kedua, prasangka yang dilakukan oleh orang yang hanya berprasangka
dalam hati dan tidak diungkapkan dalam ucapan maupun tulisan.

 

Meskipun keduanya memiliki kadar yang berbeda, namun keduanya dapat
berimplikasi buruk dan kerugian bagi kehidupan, bagi organisasi dan bagi
orang lain. Karena meskipun seseorang hanya memiliki prasangka dalam hati
yang nampaknya ringan sekalipun, hal ini dapat menjadi pembuka jalan
terjadinya prasangka yang dinampakkan melalui ucapan, tulisan dan bahkan
tindakan. Artinya, pada dasarnya prasangka negatif yang tertumpahkan melalui
ucapan atau bahkan melalui tindakan itu terjadi karena bermula dari
prasangka negatif dari dalam hati manusia.

 

Dalam banyak riwayat disampaikan bahwa, "Allah SWT justru melihat apa yang
ada di kedalaman hati hamba-Nya." Itu artinya, prasangka negatif dalam hati
sekecil apapun tidak akan pernah luput dari pantauan Allah SWT. Karena itu,
marilah kita dalam berkomunikasi, menulis email, berusaha menghindari
prasangka negatif dan prasangka buruk dari dalam hati, karena hal ini hanya
akan menutup potensi kejernihan suara hati nurani yang merupakan percikan
sifat-sifat mulia yang bersumber dari Allah SWT. Lebih baik selalu berusaha
mengarahkan hati pada pikiran positif, sehingga tulisan, tindakan dan ucapan
tetap terjaga kejernihannya.

 

Kita adalah raja dari hati dan pikiran kita sendiri. Maka lebih baik
mengendalikan hati dan pikiran untuk selalu kearah positif. Hati yang
positif akan menentukan sikap hidup yang positif, sikap hidup positif akan
mempengaruhi kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan yang
positif akan menghasilan hal-hal positif dan kemudahan dalam hidup ini.

 

Salam Revolusi Nurani.

 

Eko Jalu Santoso adalah seorang professional di dunia usaha, penulis buku
"The Art Of Life Revolution" yang diterbitkan Elex Media Komputindo, Founder
Motivasi Nurani Indonesia.

 

 

Kirim email ke