Bung Riza Fahlevi, 

sengaja artikel anda saya forward ke milis BC,
Nilai universal, bukan dominasi dan superioritas agama tertentu, 

Pertanyaan nakalnya is: 
"bila tidak beragama namun "belaku jujur" dimana dan kemana kita ditempatkan 
Nya? 

"Sohib BC ...., Sarapan apa anda, pagi ini"
JujuR Kacang Hijau



Salute, 
Ch




|> [email protected] <YM : BroerCharlie>
|> http://www.new.facebook.com/group.php?gid=29114734425


----- Original Message ----- 
From: Riza Fahlevi 
 
Jujur Itu Langgeng "Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana." 

HAMDAN adalah sebuah anomali. Dia pergi ke kantor hanya dengan mengendarai 
sepeda motor yang sudah butut. Helmnya pun bau apak. Jaketnya kumal. Padahal 
Hamdan merupakan orang penting di sebuah perusahaan. Dialah yang menjadi 
pengatur keluar masuknya barang yang menjadi komoditas perusahaannya. Hamdan 
berkali-kali mengatakan dirinya hanya berusaha keras menjalankan pekerjaan 
dengan baik. Sehari-hari dia mencatat dengan penuh ketelitian, agar jangan 
sampai satu barang pun lenyap ataupun nyelonong ke tempat lain.

Ketelitian menjadi panglima. Kejujuran menjadi napas dalam hidupnya.

Berkali-kali dia berperang dengan sikapnya itu. Tatkala keluarganya membutuhkan 
uang berlebih untuk sebuah keperluan, dia hanya mengandalkan tabungannya yang 
tak seberapa. Begitu selalu. Hamdan pun dicap sebagai orang aneh.

Hingga pada suatu saat ketika Hamdan telah pensiun, mantan koleganya 
menghubunginya meminta bertemu. Ternyata koleganya memintanya mengelola 
pendistribusian barang-barang di perusahaannya. Tentu dengan gaji dan fasilitas 
yang menggiurkan, yang tidak didapatkan oleh Hamdan di perusahaan sebelumnya. 
Sang kolega pun berbaik hati dengan menawarkan kerjasama kepada Hamdan bila 
berminat, untuk menaruh saham di perusahaan tersebut.

Hamdan tak membuang kesempatan emas ini. Jadi Hamdan tidak hanya mengelola, 
tapi juga diberi kesempatan memiliki perusahaan yang ditanganinya sekarang.

Rupanya, inilah buah kejujuran yang dimiliki Hamdan. Sang kolega mempercayai 
penuh kejujuran yang dimiliki Hamdan, ditambah dengan kecakapannya mengelola 
pendistribusian barang.

Kejujuran, dan juga kisah Hamdan sendiri, memang menjadi sesuatu yang aneh dan 
langka. Tak usah mencari jauh-jauh contohnya. Bacalah koran, tonton tivi, atau 
dengarlah radio. Setiap hari kita jumpai kasus korupsi, perampokan, penipuan, 
pencurian, tindak kekerasan, perselingkuhan, atau kasus kriminal lainnya. 
Kesemuanya bermuara pada satu hal, bahwa komitmen mengenai kejujuran tidak 
terpenuhi.

Jujur tak hanya diartikan secara harfiah sebagai 'berkata benar, mengakui atau 
memberikan suatu informasi yang sesuai dengan kenyataan dan kebenaran'. Tapi 
juga dalam pengertian yang lebih luas, tidak berbohong, tidak menipu, tidak 
mencuri, tidak korupsi, tidak berbuat tindak kekerasan, tidak melakukan 
selingkuh, dan sejumlah `tidak' lainnya, merupakan bentuk lain dari sebuah 
kejujuran.

Oleh karena itu kejujuran membutuhkan komitmen untuk pemenuhan kejujurannya. 
Dalam jenis pekerjaan apapun, nilai sebuah kejujuran tak bisa ditawar-tawar 
lagi. Anda harus memegang teguh pada komitmen dimanapun Anda berada dan 
bekerja. Tidak boleh berbohong. Tidak boleh menipu. Tidak boleh merekayasa. 
Bagaimana Anda mau dikatakan jujur, jika hendak menjadi caleg saja harus 
menyogok. Bagaimana Anda mau dikatakan jujur, jika Anda membohongi publik 
dengan aksi menggoreng saham, yang nilai sahamnya memang tidak sebanding dengan 
nilai buku perusahaan.

Lantas, bagaimana agar nilai-nilai kejujuran dapat terus berkembang?

Kejujuran sesungguhnya dapat ditularkan. Sama seperti virus, ia dapat menyebar 
dengan cepat. Suri tauladan yang baik selalu berawal dari atas. Dalam 
psikologi, dikenal prinsip modelling. Artinya murid akan dengan mudah meniru 
perilaku tertentu melalui proses peniruan terhadap model. Siapa saja dapat 
bertindak sebagai model. Pemimpin, orangtua, guru, orang-orang yang mempunyai 
banyak penggagum, ataupun orang-orang yang mempunyai pengikut. Jadi, bila 
pemimpinnya tidak jujur, sulit mengharapkan rakyatnya juga berlaku jujur. Jika 
seorang pejabat korupsi, jangan salahkan kalau bawahannya ikut-ikutan korupsi. 
Dan, jangan juga salahkan sang anak yang malas belajar karena asik menonton 
televisi, sementara sang anak melihat ibunya asik menonton sinetron.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa kejujuran sulit diterapkan dalam dunia 
bisnis dan politik.
Pertimbangan moral dikesampingkan dan lebih mengedepankan nafsu untuk mencari 
untung atau kekuasaan semata. Benarkah demikian? Sebaliknya. Padahal, kejujuran 
akan membawa pada kelanggengan. Kepercayaan, lebih-lebih dalam dunia bisnis, 
membutuhkan prasyarat bernama karakter. Karakter dibangun dari dua hal utama; 
kejujuran dan tanggung jawab.

Kejujuran berbicara tentang moralitas dan etika. Sedangkan tanggung jawab 
berhubungan dengan kompetensi. Di negeri ini, banyak pebisnis yang sukses dan 
politisi yang dikenang hingga kini karena kejujuran yang dianutnya selama ini. 
Nilai-nilai yang mereka anut untuk: tidak ngembat sana-sini, tidak ngemplang, 
tidak sikut kanan-kiri, tidak merekayasa nilai proyek, tidak mengulur-ulur 
penjualan saham, atau tidak ngadalin mitra kerjanya.

Oleh karena itu kejujuran membutuhkan pengorbanan untuk menunda kesenangan. 
Meniti dan mencapai hasil sesuai dengan usaha tanpa harus memark-up atau 
menipu. Apa enaknya, bila kesuksesan diraih dengan begitu cepat, tetapi dengan 
mengorbankan nilai-nilai kejujuran. Hidup tak tentram, tidurpun tak nyenyak.

Kejujuran memerlukan kesadaran untuk paham akan batas kelemahan diri sendiri 
dan tidak sungkan untuk mengaku salah. Dan juga sebaliknya, bersedia memaafkan 
kelemahan orang lain.

Kejujuran juga berarti sadar bila tidak mampu dalam mengerjakan sesuatu. Jika 
kemampuan Anda mengangkat beban hanya lima kilo, jangan memaksakan Anda 
mengangkat hingga mencapai sepuluh kilo. Jika harga saham sesungguhnya hanya 
seribu perak, jangan dipaksakan dijual lima ribu perak. Kejujuran merupakan 
salah satu kunci untuk mengatasi masalah hidup berbangsa dan bermasyarakat di 
negeri ini.

Seperti pepatah lama Belanda yang mengatakan, eerlijk duurt 't langst, jujur 
itu langgeng. Percayalah. (030908)

Sumber: Jujur Itu Langgeng oleh Sonny Wibisono
-- 
Thanks and Regards,
Riza Fahlevi

 ._,___ 

Kirim email ke