Article No.: ART-003
Title: Kekeliruan Dalam Menerapkan ISO 9000
Author: Maskal Novessro
FirstPublished: 7 February 2009
LastRevision: B/02/2009
Date: 16 February 2009
Pages: 3 (with cover)
Pendahuluan
Menyambung komentar dari sebagian praktisi dan pemerhati sistem manajemen mutu
sehubungan dengan efektivitas penerapan sistem manajemen mutu ISO 9000, berikut
saya kutip laporan dari International Assessor/Auditor Conference oleh Dr. Ir.
Fatimah Z.S. Padmadinata.
84 Persen Industri di Negara Berkembang Tidak Menunjukkan Perbaikan Mutu
Pada tanggal 5-6 Nopember 2008, di Hotel Borobudur Jakarta, telah dilaksanakan
acara International Assessor/Auditor Conference dengan tema Business Continuity
and Management System Auditing. Konferensi internasional asesor/auditor ini
baru pertama kali diadakan di Indonesia, dan sebagai penyelenggaranya adalah
Badan Standardisasi Nasional (BSN). Peserta sekitar 400 orang dari dalam negeri
maupun dari luar negeri, semuanya adalah para asesor/auditor dari
lembaga-lembaga sertifikasi sistem mutu, produk maupun profesi (ref.[1]).
Konferensi Auditor Internasional tersebut ditujukan terutama untuk menyamakan
persepsi dari para asesor/auditor untuk melihat bagaimana audit/asesmen
penerapan standar ISO 9001/ISO 14001 dapat bermanfaat bagi perusahaan (ref.[1]).
Dari presentasi pembicara kunci, disampaikan bahwa bagi yang menerapkan standar
akan diperoleh manfaat dalam kelancaran perdagangan internasional melalui
proses Mutual Recognition Agreement (MRA) maupun Multi Lateral Arrangements
(MLA). Disampaikan juga bahwa masih ada permasalahan mengenai kredibilitas dari
Lembaga Sertifikasi itu sendiri (ref.[1]).
Salah satu pembicara konferensi, yaitu Girdhar Gyant, Sekjen Komite Mutu India
menengarai bahwa untuk negara berkembang sertifikasi standar Sistem Manajemen
Mutu masih belum menunjukkan peningkatan mutu yang sebenarnya. Di India di
tahun 2005, berdasarkan hasil survei AC Nielsen diperoleh data bahwa dari 778
perusahaan yang bersertifikasi ISO 9001:2000, 84 persen diantaranya tidak
menunjukkan perbaikan mutu dari produknya setelah sertifikasi. Hal itu
memberikan gambaran bahwa perusahaan yang disertifikasi maupun yang memberikan
sertifikasi ataupun lembaga yang mengakreditasi lembaga sertifikasi belum
bekerja secara benar (ref.[1]).
Dari beberapa makalah yang dipresentasikan, banyak menekankan pentingnya
kompetensi asesor/auditor dalam memberikan nilai tambah bagi perusahaan yang
diaudit/diases, bukan hanya sekedar menemukan ketidaksesuaian
(Non-Conformity/NC) dokumentasi tapi harus lebih banyak berhubungan dengan
proses bisnis perusahaannya sendiri yang terkait langsung dengan efisiensi dan
produktivitas (ref. [1]).
10 Kekeliruan Paling Umum
Terlepas dari peran dan tanggung jawab auditor/asesor dari lembaga sertifikasi
dalam meng-edukasi organisasi yang mengambil sertifikasi ISO 9000/ISO 14000
tersebut, saya kira perlu juga melihat faktor-faktor internal dalam organisasi
tersebut.
Dari beberapa pendapat rekan-rekan praktisi, secara umum terdapat 10 kekeliruan
yang menjadi akar penyebab (root-cause) kurang efektifnya penerapan ISO 9000
terutama di Negara-Negara berkembang tersebut.
Berikut adalah 10 kekeliruan yang paling sering terjadi saat menerapkan SMM ISO
9000 / SML ISO 14000 tersebut (ref. [2]):
=== (… dst.)
Artikel lengkap dapat di-download dari file [ART-003 [Kekeliruan Dalam
Menerapkan ISO 9000]_B.pdf] pada menu FILE di folder FART. Untuk men-download,
silahkan kunjungi:
http://asia.groups.yahoo.com/group/Indonesia-QMS-Forum/
Salam hangat,
Maskal
Pemerintahan yang jujur & bersih? Mungkin nggak ya? Temukan jawabannya di
Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com