Dalam beberapa kali seminar soal kewirausahaan, saya sering mendengar orang 
yang berkata bahwa modal utama usaha adalah keberanian alias kenekadan. Karena 
mendapat masukan semacam itu, otak saya pun terpacu untuk menjalankan berbagai 
usaha, dari sejak saya sekolah menengah atas (SMA), kuliah, dan bahkan ketika 
bekerja pada sebuah institusi. Usaha saya kala itu memang tergolong mikro. 
Skalanya memang tak besar. Tapi, modal yang saya keluarkan untuk beberapa usaha 
tersebut, dari jualan jam tangan, jualan aneka aksesoris, buka pengetikan 
komputer, broker cetakan, hingga event organizing (EO) tetap saja ukurannya 
cukup besar untuk kantong saya saat itu.

Asal berani dan asal ada peluang, saya pasti akan langsung maju dengan modal 
yang saya miliki. Hasilnya? Secara hitung-hitungan angka sangat tidak 
memuaskan. Tapi, secara hitung-hitungan “modal masa depan”, saya merasa tak 
rugi sama sekali. Tapi, sebagai manusia biasa, siapa sih yang tidak kecewa 
modal hilang begitu saja? Herannya, entah kenapa, suatu ketika seorang teman 
menawarkan sebuah peluang bisnis, karena di mata saya usaha itu cukup 
berprospek, tanpa memikir lagi saya invest modal saya. Dan, lagi-lagi saya 
kejeblos. Modal tak balik seperti harapan.

Tapi, anehnya, keberanian membuka usaha itu tak pernah surut. Hanya saja, kali 
ini saya lebih memakai perhitungan berdasar pengalaman. Hasilnya beberapa 
memang mulai menunjukkan grafik kenaikan. Meskipun, proses jatuh bangun it 
uterus saya alami.

Nah, berangkat dari pengalaman tersebut, saya hanya ingin berbagi. Jika setuju, 
silakan dipakai cara saya, kalaupun tidak, semua itu adalah hak Anda. Berbagai 
pengalaman tersebut membuat saya menyimpulkan beberapa hal berikut:

1. Berani butuh kekuatan mental
Jika tidak kuat mental dan tahan banting, jangan asal berani. Nekad alias 
berani kalau hasilnya tak sesuai harapan, akan sangat menyakitkan. Maka, hanya 
bagi yang kuat mental sajalah yang saya anjurkan untuk mengambil langkah berani 
ini. Tapi, bukan berarti nekad menjadi satu hal yang salah. Melainkan, nekadlah 
dengan perhitungan. Yang saya maksud penuh perhitungan di sini adalah saat 
berpikir ada peluang, jika punya kemampuan dan kemauan kuat, segera ambil 
tindakan (action). Sebab, kalau tanpa tindakan, sebagus apapun rencana, hanya 
akan tinggal harapan. Jadi, yang dihitung bukan soal kemungkinan untung rugi 
dan balik modalnya, melainkan asal punya keyakinan kuat tentang sebuah peluang, 
daripada hanya berhenti sebagai ide, kenapa tidak segera dieksekusi.
Tapi, kembali ke soal keberanian, perhitungan kita pun masih bisa meleset. 
Karena itulah, kembali ke soal mental. Hanya yang punya bekal mental tahan 
bantinglah yang akan berhasil melewati berbagai ujian di depan.

2. Berani butuh kecerdasan
Cerdas di sini adalah ketika kita sudah memutuskan terjun ke dunia 
entrepreneurship, kita harus mampu mengelola aneka sumber daya yang ada. 
Kadang, saat gagal, kita langsung patah semangat dan tak sadar hadirnya peluang 
besar di balik kegagalan itu. Padahal, dengan sedikit kejelian (baca: 
kecerdasan), pasti ada hal positif yang bisa dikerjakan dari kegagalan 
tersebut. Ini terjadi ketika sekolah penulisan yang saya dirikan bersama 
beberapa teman mengalami kekurangan murid. Dengan sedikit kejelian, ternyata 
tim kami justru berhasil meng-create sebuah program yang mendatangkan 
keuntungan lebih besar dibanding kelas regular pada umumnya.

3. Berani butuh pengorbanan
Pengorbanan di sini saya umpamakan dengan para martir di medan perang. 
Pengorbanan prajurit di barisan paling depan biasanya akan membuka jalan menuju 
kemenangan. Kalau istilah “kasar” saya, kita butuh “tumbal”. Saat hendak 
menjalankan sebuah bisnis, kadang kita perlu “mengorbankan” salah satu bisnis 
untuk menjaring bisnis yang lebih besar. Bukankah untuk menangkap ikan besar di 
laut kita tak bisa hanya menggunakan umpan cacing?

Cara berbisnis semacam ini lazim adanya. Seperti yang dilakukan oleh peritel 
besar yang memberikan harga diskon besar untuk satu dua produk yang laris di 
pasaran. Dengan memotong keuntungan dari produk tersebut, orang akan memunyai 
image bahwa retailer itu murah. Dengan begitu, meski produk lain lebih mahal, 
orang tetap merasa produk di sana lebih murah.

Sekali lagi, soal keberanian ini semata bukan hanya urusan nekad. Tapi, perlu 
juga menggunakan perhitungan yang matang. Jadi, masih nekadkah Anda?

*) Agoeng Widyatmoko, konsultan independen UKM, perencana pemasaran usaha 
keluarga, penulis buku best seller 100 Peluang Usaha. Ia bisa dihubungi melalui 
email [email protected] atau telepon 021-30316708

=====================================================
Hanung Anggo Yudanto
www.hanungsite.wordpress.com
www.isykarimacenter.com
www.akselerasibisnis.com
www.markisaslemanorganik.com
www.strawberryorganik.wordpress.com


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke