dokter sekarang makin payah…gmn orang mau berobat ke RS Indonesia…lulusan 
dokter makin PAYAH!!!
 
From: hasymi hamid [mailto:[email protected]] 
 Sent: Wednesday, June 03, 2009 1:28 PM
 Subject: Kampanye email pada RS OMNI Internasional
 
Guys...udah baca, kan tentang Ibu Prita yang dipenjarakan karena menceritakan 
keluhan dia akan pelayanan RS OMNI?  
Kita dukung Ibu Prita yuuuk biar segera dibebaskan dari penjara:
Mari mulai dengan KAMPANYE EMAIL ini. Bagaimana caranya? 
 
 1. Copy-paste email di bawah 
 
 2. Bubuhkan nama Anda sebagai pengirim 
 
 3. Kirimkan ke alamat [email protected] dan [email protected] cc 
kan ke pengacaranya Risma Situmorang, Heribertus & Partners di [email protected] 
 
 4. Jika ingin lebih Anda bisa menyalurkan keluhan ini juga lewat telepon 
+622153125555 atau print dan fax +622153128666 
 
 4. Redaksional email dapat diubah, sesuai dengan keingingan Anda (jangan 
gunakan kata kasar/sara tentunya) 
 
 5. Tolong sebarkan KAMPANYE EMAIL ini melalui milis/forum atau email ke 
teman-teman Anda yang lain, ajak untuk mengirimkan email juga. 
 
 
 Semoga aksi nyata dan bentuk dukungan ini bisa efektif dan memberi dampak 
nyata pada kebebasan Prita Mulyasari secepatnya! 
 
 Ayo emailkan sekarang juga! 

 
 = = = = = = = = email untuk di copy-paste = = = = = = = = = 
 to: [email protected], [email protected] 
 cc: [email protected] 
 
 Yth. 
 Management RS OMNI International dan Pengacaranya 
 Tanggerang 
 
 Dengan hormat, 
 
 Berkenaan dengan kasus hukum Prita Mulyasari salah satu mantan pasien RS OMNI 
International tangerang dan pemberitaan yang kami baca melalui Internet dan 
media massa maka kami berpendapat bahwa tindakan dari Management RS OMNI 
International sangatlah BERLEBIHAN dan TIDAK PERLU. 
 
 Surat Pembaca dan Email Pribadi Prita Mulyasari yang dia tulis adalah ungkapan 
kekecewaan terhadap pelayanan yang RS OMNI International tangerang berikan. 
 
 Bukannya menanggapi keluhan pelanggan tersebut dengan baik dan menyelesaikan 
masalahnya, RS OMNI International tangerang malah melakukan tuntutan hukum 
PERDATA dan PIDANA dan dalam proses melakukan KRIMINALISASI pada pasien Anda 
sendiri. 
 
 Keluhan pelanggan/pasien yang mana hak-nya dijamin oleh UU No 8 Tahun 1999 
tentang Perlindungan Konsumen. 
 
 Karena sebab diatas maka kami menuntut agar RS OMNI International tangerang 
agar: 
 
 - Menghentikan segera semua upaya tuntutan hukum Perdata maupun Pidana pada 
Prita Mulyasari 
 
 - Dalam kasus Perdata, karena terlanjur diputuskan: tidak melakukan banding 
dan tidak melakukan eksekusi hukumnan 
 
 - Dalam kasus Pidana, karena sudah terlanjur masuk persidangan, memberikan 
support pada Prita Mulyasari dan memberikan kesaksian yang meringankan 
 
 - Memberikan layanan yang terbaik, sesuai hukum dan kode etik pelayanan 
kesehatan bagi para pasiennya 
 
 - Tidak lagi mengkriminalisasi pasien-pasien dan pelanggan RS Omni 
International tangerang 
 
 Ini adalah suara publik dan pelanggan yang kami yakin akan Anda dengarkan dan 
pertimbangkan dengan serius dan masak-masak. 
 
 Mohon agar kasus ini dapat diselesaikan dengan segera dan tidak 
berlarut-larut. 


Hormat saya, 
 
 
 [Puteri] 
 [Jakarta Pusat] 
 [03/06/09]
 
 
 
Fw: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang 
Posted by: "[email protected]" [email protected] 
Thu Aug 21, 2008 2:43 am (PDT) 
----- Forwarded by Eliana Eliana/SRP/APP on 08/21/2008 04:41 PM -----
 
 ----- Forwarded by Bui Hiung/SRP/APP on 08/21/2008 04:18 PM -----
 
 From: prita mulyasari [mailto:[email protected]] 
 Sent: Friday, August 15, 2008 3:51 PM
 To: [email protected]; [email protected]; 
 Hendra Goenawan; mario pasla; Lesthya theresa; Lucy Juliana Sapri; Andri 
 Nugroho; Anton Ferdiansyah; ADI ATMANTO; Adia Adithiya Pradithama; Cindy 
 Robertha; Credit Card Supervisor; Yusuf Centerix; [email protected]; 
 kakak gue; Setiawan Diana; Johan; Nadhya Budhiman; Renny Rosanna; Vanty 
 Valentina
 Subject: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang 
 Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya, 
 terutama anak-anak, lansia dan bayi. 
 Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title 
 International karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka 
 semakin sering uji coba pasien, penjualan obat dan suntikan. 
 saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya 
 mengalami kejadian ini di RS Omni International. 
 Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas 
 tinggi dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS 
 tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli 
 kedokteran dan manajemen yang bagus. 
 
 Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 
 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah 
 thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya 
 diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya 
 wajib rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample 
 darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 
 27.000. Dr. Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan saya 
 gunakan tapi saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta 
 dengan RS ini. Lalu referensi dr. Indah adalah dr. Henky. Dr. Henky 
 memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan 
 bahwa ini sudah positif demam berdarah. 
 
 Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau 
 ijin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan 
 pagi, dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab 
 semalam bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya 
 kaget tapi dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya 
 diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin 
 pasien atau keluarga pasien. Saya tanya kembali jadi saya sakit apa 
 sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena 
 demam berdarah. Saya sangat kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak 
 yang masih batita jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan 
 dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh 
 dokter profesional standard Internatonal. 
 
 Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap 
 suntik tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya 
 meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih 
 terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus 
 menerimanya. Satu box lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan 
 disertai banyak ampul. 
 
 Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan 
 suntikan dan minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang 
 sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin 
 naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga 
 tidak tahu dokter apa, setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan 
 menunggu dr. Henky saja. 
 
 Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster 
 untuk memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter 
 tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. 
 Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap 
 menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan 
 kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit 
 sekali. 
 
 Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang 
 sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun 
 hanya berkata menunggu dr. Henky saja. Jadi malam itu saya masih dalam 
 kondisi infus padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti 
 tangan kiri saya. 
 Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan 
 suntikan dan obat-obatan. 
 
 Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami 
 namun janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan 
 kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, 
 suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan 
 sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. 
 Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri 
 saya. 
 
 Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut 
 malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan 
 kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat 
 mengenai kondisi saya dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai ini 
 dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. 
 Dr. Henky menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang 
 memuaskan. 
 
 Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai 
 membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau 
 dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi saya membutuhkan 
 data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan 
 data medis yang fiktif. 
 
 Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal 
 itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya 
 samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya 
 yang 181.000 bukan 27.000. 
 
 Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat 
 dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak 
 adalah 181.000, kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya 
 complaint dan marah-marah, dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil 
 lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni maka saya desak untuk bertemu 
 langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut. 
 
 Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Ogi 
 (customer service coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda 
 terima tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar 
 dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada service 
 nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya 
 meminta tanda terima pengajuan complaint tertulis. 
 
 Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas 
 nama Ogi (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service 
 manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang 
 terjadi dengan saya. 
 Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan 
 dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000 
 makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 
 181.000 saya masih bisa rawat jalan. 
 
 Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint 
 saya ini tidak profesional samasekali. Tidak menanggapi complaint dengan 
 baik, dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. 
 Mimi informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen 
 dan dr. Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan 
 ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 
 sore. 
 
 Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya 
 dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut 
 analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah 
 parah karena sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki 
 bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Saya lemas 
 mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi 
 saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan 
 macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. 
 Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang 
 saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas. 
 
 Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000 
 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan 
 meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan 
 paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang 
 yang datang dari Omni memberikan surat tersebut. Saya telepon dr. Grace 
 sebagai penanggung jawab compaint dan diberikan keterangan bahwa kurirnya 
 baru mau jalan ke rumah saya namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan 
 ternyata belum ada juga yang datang kerumah saya. Kembali saya telepon 
 dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas 
 nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali, 
 dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta disebutkan alamat jelas 
 saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. 
 Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya 
 kemana kan ? makanya saya sebut Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. 
 Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang. 
 Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai 
 pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini 
 cantum. 
 
 Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat 
 tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke 
 resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati 
 kami, pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan 
 kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 
 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang 
 mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS 
 Omni. 
 
 Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya ingin 
 tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja 
 supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Dan setelah beberapa kali 
 kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 
 adalah FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak 
 perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah 
 karena bisa langsung tertangani dengan baik. 
 
 Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan 
 asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal 
 mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini. 
 
 Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr. 
 Bina) namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan 
 kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain. 
 
 Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang 
 selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak 
 jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu 
 yang cukup untuk menyembuhkan. 
 
 Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing, 
 benar.... tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang 
 dpercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, 
 semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya 
 diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang 
 tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak 
 terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini. 
 
 Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan 
 atau dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr. Grace, dr. 
 Henky, dr. Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia 
 hanya demi perusahaan Anda. 
 
 Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak 
 mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari 
 dokter ini. 
 
 salam, 
 
 Prita Mulyasari 
Best Regards, 
 Ayu SM. Fabian
 Corporate Marketing
 Golden Rama Kelapa Gading Office
 Jl. Bulevar Raya Blok WB 2/14
 Komplek Kelapa Gading Permai 
 Jakarta Utara 14240 - Indonesia
 Telp    :    (021) 451 3300 (Hunting)
 Fax     :    (021) 453 1859
 Mobile:    9350 5253
 email   :    [email protected]
 YM     :     [email protected]
 SMS Only for Complaints  at : 021-9352 7000
 (Office Hours Only Monday to Friday at 09.00am to 04.00pm) 
 
 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke