Baca dan renungkan artikel
> dibawah ini...
> Semoga membuat iman kita
> semakin bertumbuh dari hari ke hari...
> Gbu....!
> 
> 
>  Renungan indah tentang jalan Tuhan yg tak pernah kita
> duga...dan selalu indah pada waktunya. : 
> CARA TUHAN (ANDY F NOYA) 
> Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya
> bekerja ekstra keras. Dari
> > mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai
> jam tiga dini hari otak
> > saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya
> hadapi. Tadi sore saya
> 
> > mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya
> berobat. Menurut dokter,
> > jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker
> payudara yang menyerang
> > kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya.
> Untuk itu, selain
> 
> > dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah
> biaya untuk proses
> > operasi tersebut. Soal persetujuan, relatif mudah.
> Sejak awal saya sudah
> > menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk
> itu. Sejak awal dokter
> 
> > sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara
> tersebut. Risiko
> > tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah
> mempersiapkan diri
> > menghadapi kondisi terburuk itu. Namun yang membuat
> saya
>  tidak bisa tidur
> > semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar
> untuk ukuran saya
> > waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak
> akan mampu menutupi biaya
> > sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat
> dibandingkan pendapatan saya.
> 
> > Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga
> anak. Sudah beberapa
> > tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus
> berjuang membesarkan
> > kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan
> yang terbatas, saya
> 
> > berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi
> kehidupan yang
> > berat.
> > Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara
> moril. Dalam kehidupan
> > sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari
> anak-anak kakak
> 
> > saya.
> > Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita
> kanker stadium
> > empat.
> > Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba
> menyembunyikan penyakit
> >
>  tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya
> dengan
> > mengabaikan
> > gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama
> ini. Kalau memikirkan
> > hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya
> kakak saya lebih jujur
> 
> > dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada
> tanda-tanda awal kanker
> > payudara, keadaannya mungkin menjadi lain. Tapi, nasi
> sudah menjadi bubur.
> > Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri
> ke dokter, kanker
> 
> > ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak
> tertolong lagi. Saya
> > menyesali  tindakan kakak saya yang
> "menyembunyikan" penyakitnya itu dari saya,
> > tetapi belakangan -- setelah kakak saya tiada -- saya
> bisa memaklumi
> 
> > keputusannya.
> > Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari
> pemeriksaan dokter.
> > Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan,
> kakak saya juga tidak
> > ingin menyusahkan saya yang selama ini
>  sudah banyak membantunya. Namun
> > ketika keadaan yang terbutruk terjadi, saya toh harus
> siap menghadapinya.
> > Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari
> uang dalam jumlah yang
> > disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya
> benar-benar buntu. Sampai
> 
> > jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar.
> Dari mana
> > mendapatkan uang sebanyak itu? Kadang, dalam
> keputus-asaan, terngiang-ngiang ucapan
> > kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi.
> "Sudahlah, tidak usah
> 
> > dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus
> hidup," ujarnya. Tetapi,
> > di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih
> merisaukan beban biaya yang
> > harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu
> menanggung biaya sebesar
> 
> > itu. Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu
> menemukan jalan
> > keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah
> kesunyian pagi, saya
> > mendengar begitu jelas doa yang
>  saya panjatkan. "Tuhan, sebagai manusia,
> > akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah
> ini. Karena itu, pada
> > pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu.
> Kiranya Tuhan, Engkau
> > membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar
> dari persoalan ini."
> 
> > Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan
> mental. Pagi hari,
> > dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan
> menuju kantor otak saya
> > kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi.
> Dari mana saya
> 
> > mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya?
> Pikiran dan hati
> > saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan
> yakin Tuhan akan membuka
> > jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak
> cukup kuat sehingga
> 
> > masih saja gundah. Di tengah situasi seperti itu,
> handphone saya berdering. Di
> > ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang
> bekerja di sebuah
> > perusahaan public relations.
>  Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi
> > pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank
> pemerintah. Dia mengatakan
> > terpaksa menelepon saya karena "keadaan
> darurat". Pembicara yang
> 
> > seharusnya  tampil besok, mendadak berhalangan. Dia
> memohon saya dapat
> > menggantikannya.
> > Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi
> permintaan sahabat saya
> > itu.
> > Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop
> itu sukses. Sahabat
> 
> > saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih.
> Apalagi, katanya, para
> > peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa
> menjadi pembicara
> > lagi untuk acara-acara mereka yang lain. Sebelum
> meninggalkan tempat
> 
> > workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor
> sebagai pembicara.
> > Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini.
> Saya betul-betul hanya
> > berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat
> saya memohon
>  agar
> > saya mau menerimanya. Di tengah perjalanan pulang hati
> saya masih tetap risau.
> > Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri
> untuk pertolongan
> > yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan
> sebagai sahabat. Tapi
> 
> > akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba
> memahami jalan pikiran
> > sahabat saya itu. Malam hari baru saya berani membuka
> amplop tersebut.
> > Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang
> tercantum di selembar
> 
> > cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan
> biaya operasi kakak
> > saya!
> > Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama
> persis! Mata saya
> > berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa. Engkau
> Maha Besar. Dengan
> 
> > cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan
> dengan cara yang tidak
> > terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib. Esoknya
> cek tersebut saya
> > serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi,
> saya
>  ceritakan kejadian
> > tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis
> dan memuji kebesaran
> > Tuhan. Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih
> ingin menunjukkan
> > kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Surya
> Paloh, pemilik
> 
> > harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu
> malam datang menengok kakak
> > saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak
> pernah bercerita soal kakak
> > saya. Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita
> kakak saya esok
> 
> > harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu,
> Surya Paloh juga
> > memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa
> pun dan sampai kapan
> > pun, akan dia tanggung. Tuhan Maha
> Besar.
> 
> 
> 


      Apa dia selingkuh? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. 
http://id.answers.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke