Copas dari tulisan Bung Anis Matta, mayan asyyik buat nemeneni duduk sambil ngopi sama entho cothot. Sumonggo
--------------------------------- PEMBELAJARAN DIRUMAH KITA Pada suatu pertemuan informal, kami terlibat dalam sebuah diskusi panjang tentang berbegai masalah pendidikan anak-anak kita. Baik pendidikan forml maupun informal. Pendapat umum yang berkembang saat itu mencoba membuat keseimbangan antara harapan-harapan kita, dengan kemampuan umum kita secara financial maupun sumber daya manusia dan realitas pendidikan anak-anak yang sekarang berkembang.Memang terasa ada jarak yang jauh antara haarapan-harapan kita dengan realitas pendidikan yang ada. SDIT(Sekolah Dasar Islam Terpadu) yang ada tidak sanggup menampung anak-anak kita yang grafik pertumbuhannya cukup menakjubkan. SDIT itu sendiri mengeluh kekurangan dana karena system pendidikan ideal butuh dana besar, sementara rata-rata orangtua siswa (yaitu kita sendiri) berstatus ekonomi lemah alias sulit membayar harga tinggi. Sebab yang bisa membuat sekolah ideal dengan harga murah hanya pemerintah. Segera saja terlihat tarik menarik yang kurang sedap antara harapan dan kenyataan. Dan di tengah tarik menarik itu berdirilah makhluk lain yang kita sebut: kemampuan. Sementara itu, kita juga mendengar keluhan dari ibu rumahtangga, yaitu itri-istri kita, yang merasa tidak mendapat peluang memadai untuk mengembangkan diri, baik secara formal maupun nonformal. dua hal yang segera terekam dalam benak saya dari diskusi tersebut.Pertama, pada umumnya kita sangat banyak menggantungkan proses belajar kita, baik anak-anak kita maupun istri-istri kita atau bahkan kita sendiri, pada institusi pendidikan formal atau melalui proses pembelajaran kolektif. Ini melahirkan kesan, bahwa proses belajar harus selalu kolektif dan selalu menuntut harga mahal karena terselenggara dalam institusi.Kedua, pada umumnya semangat melahirkan banyak anak yang dianjurkan Rasulullah saw serta semangat mendapatkan pendidikan ideal tidak berjalan seimbang dengan semangat berusaha dan berekonomi. Kecenderungan terhadap solusi pembiayaan pendidikan melalui mekanisme donasi, subsidi silang, atau sebaliknya menuntut biaya murah, sebenarnya semakin memperkuat asumsi lemahnya semangat berusaha di kalangan kita.Sebagaisebuah arus social yang baru, kedua kecenderungan taditidak akan membantu menampilkan wajah social Islam dengan cara yang mempesona dan menarik untuk diteladani. Sya tentu saja tidak sedang menggugat semangat takaful sebagai suatu piranti system social Islam. Tapi yang utama ingin saya soroti adalah mentalitas kita dalam proses berislam, bahwa ada ketidakseimbangan antara semangat social dengan semangat ekonomi kita; bahwa ada ketidakseimbangan antara tarbiyya rihiyyah ijtima’yyah yang mendorong kita cepat menikah dan memiliki banyak anak serta obsesi pendidikan ideal untuk melahirkan Generasi Rabbani, dengan tarbiyyah iqtishadiyyah (ekonomi) yang kita peroleh.Adanya donator dan subsidi silang sebagai bentuk takaful tentu saja baik, keterampilan entrepreneurship tentu juga jauh lebih baik daripada keterampilan mencari donator. Nikah cepat dan punya anak banyak jelas-jelas merupakan sunnah Rasulullah saw, tapi membuat kemampuan-kemampuan kita setara dengan tingkat tanggungjawab kita adalah sunnah yang jauh lebih penting. Bukankah berislam seperti yang kita peragakan atau modelkan dan secara perlahan membentuk wajah social kita, dengan cara begini, membuat Islam tampak terpenggal-penggal dan sama sekali tidak menarik? Saya kira perlu membuat pola solusi masalah dengan dua bentuk; solusi strategis dan solusi teknis. Ini mengantar kita untuk mencoba mengajukan pertanyaan ini; institusi apa saja yang sebenarnya terlibat dalam proses pendidikan?Kita akan bertemu dengan institusi, keluarga, sekolah, masyarakat, organisasi, media masa, lingkungan kerja. Pada usia pendidikan dasar dan menengah, antara usia 0 sampai 18 tahun, sebenarnya institusi keluarga dan sekolah yang sangat dominant dalam proses pendidikan anak. Ini jika dominasi itu diukur dari segi prosentase penggunaan waktu pada masing-masing institusi.Sebuah penelitian menunjukkan bahawa sebenarnya anak-anak kita hanya menghabiskan 14% waktunya disekolah dan manghabiskan 86% sisanya dirumah. Angka ini tentu saja tidak absolute. Sebab dua institusi lain, yaitu organisasi dan media massa, masing-masing terjadi dirumah dan di sekolah. Misalnya, orang bisa membaca majalah atau koran dan menonton film dibioskop. Atau seorang anak menjadi anggota club olahraga, kesenia, kelompok belajar atau geng tertentu. Sementara lingkungan kerja belum efektif dalam usia tersebut, sedang lingkungan masyarakat biasanya masih berskala kecil karena keterbatasan ruang lingkup pergaulan anak. Jadi, lingkungan keluarga masih tetap dominan dibanding institusi lainnya. Saya tidak ingin menafikan peran pendidikan formal dengan perbandingan ini. Tapi saya terutama ingin menggambarkan bahwa ada banyak yang bisa kita lakukan di tengah semua keterbatasan kita. Yaitu meningkatkan efektivitas proses pembelajaran dirumah kita. Walaupun begitu, saya tetap ingin menegaskan bahwa solusi strategis ada pada peningkatan efektivitas peran pendidikan dari semuainstitusi pendidikan yang telah saya sebutkan. Saya menamakannya jaringan pendidikan. Baiklah, kita kembali ke rumah kita dan mencoba melihat seperti apakah suasana pembelajaran ituberlangsung. Pendidikan dalan definisinya yang paling esensial dan sederhana adalah membentuk manusia. Dalam proses pembentukan manusia, pembelajaran merupakan proses menyerap kebenaran, kebaikan dan keindahan secara sadar dan terus menerus. Dalam definisi inilah maka proses pembelajaran menjadi wajib bagi seorang muslim dan muslimah sejak dari buaian sampai liang lahat. Disini sebenarnya Islam mengajarkan teori (belajar sepanjang hidup). Tidak ada kat berhenti dalam belajar dan usia manusia tidak boleh dijadikan stasiun yang memisahkan antara belajar dan tidak belajar.Jabaran lebih jauhnya adalah bahwa kita harus memindahkan suasana sekolah dan perguruan tinggi kedalam rumah kita. Di dalam rumah kita hars ada tradisi berpikir sehat, serius dan metodologis, harus ada tradisi membaca yang intens dan kontinyu, harus ada tradisi diskusi dan dialog yang terbuka dan intens, harus ada apresiasi yang terarah terhadap semua karya seni dan bentuk-bentuk keindahan. Semua anggota keluarga harus menikmati proses pembelajaran itu; dari ayah, ibu, anak, keluarga lain sampai pembantu. Tapi pada awal dan akhir dari proses pembelajaran itu haruslah selalu terbingkai dalam suasana dan makna ibadah. Tidak boleh hanya suasana spiritual yang dominan, atau hanya suasana ilmiah yang dominan. Jadi dirumah harus ada masjid dan perguruan tinggi. Anak yang tumbuh dalam suasana itu akan cinta belajar seumur hidup dan akan melihat sekolah sebagai lembaga yang berfungsi sama dengan rumahnya.Masalahnya adalah, sebagai ayah, lebih sering mana anak Anda melihat Anda: sedang makan, sedang pergi kemasjid, sedang menonton televisi, sedang membaca? Sebab ada rumah yang bersuasana restoran, atau masjid, atau pasar, atau binatu, atau perguruan tinggi? Pilih mana? http://ariefbudi.wordpress.com http://jalanku.multiply.com http://teknofood.blogspot.com FaceBook : http://id-id.new.facebook.com/people/Arief-Budi-Setyawan/1663852032 "...Bila engkau penat menempuh jalan panjang, menanjak dan berliku.. dengan perlahan ataupun berlari, berhenti dan duduklah diam.. pandanglah ke atas.. 'Dia' sedang melukis pelangi untukmu.." Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser. Dapatkan IE8 di sini! http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer [Non-text portions of this message have been removed]

