Setiap orang (baca : kita) selalu memiliki kecenderungan untuk menyalah-nyalahkan orang atau sesuatu keadaan (blaming) untuk menghibur diri sendiri atau bahkan lari dari kenyataan. Juga, hal itu adalah salah satu bentuk pertahanan, ketika dihadapkan pada keadaan diluar yang diinginkan.
Dalam kata lain, kita cenderung mencari alasan-alasan pembenaran atas setiap tindakan kurang benar kita. Hampir tidak ada ruang dalam kesadaran kita untuk sebuah pengakuan atas kesalahan yang kita lakukan kecuali dalam keadaan terpaksa dan tidak menemukan `kambing hitam'. Ketika memulai usaha dan gagal. Pesaing, teknologi, kondisi makro-mikro ekonomi, sumberdaya manusia, semua itu dijadikan alasan dan disalah-salahkan. Pada saat gagal menjual produk, seketika itu kita beralasan karena kualitas produknya kurang bagus, calon konsumennya cerewet, banyak produk sejenis dipasar yang lebih murah, dan sebagainya. Manakala gagal lulus ujian, kita menyalahkan kondisi yang membuat kita enggan belajar, teman-teman selalu mengajak nongkrong, soal-soalnya sulit, tidak punya buku, plus alasan-alasan lain yang tidak masuk akal. Saat gagal menjadi juara liga sepak bola, maka stamina, lapangan, wasit, supporter, masalah rumah tangga, semua dijadikan alasan atas ketidakberdayaannya. Tapi ada alasan pilon yang sangat populer digunakan yaitu `mood'. Tidak bisa menulis karena tidak mood. Tidak bisa mengerjakan tugas dengan baik karena sedang tidak mood. Tidak bisa berlatih drama atau balet dengan baik karena lagi nggak mood. Gagal bertemu dengan calon customer karena sedang tidak mood untuk bertemu orang. Lha ini kan celaka. Kasihan lah si mood itu. Berat sekali beban yang harus dipikul oleh si mood itu. Setiap kesalahan dan ketakberdayaan selalu kita tumpahkan semua kepada si mood yang naas itu. Andaikata mood itu berwujud, bernyawa dan memiliki emosi, mungkin dia sudah berontak dan bahkan mencaci-maki kita, "enak saja ente ini, ente yang pilon, ane yang selalu jadi alasan". Betapa pilon-nya kita, kata Sariman, menyerahkan nasib dan takdir hidup kita pada yang namanya mood. Hidup kita, kemungkinan keberhasilan dan kesuksesan kita, segala apa yang seharusnya bisa kita raih, semuanya kita gantungkan pada sesuatu yang abstrak : mood. Benar-benar absurd! Apa jadinya negara kita jika para pemimpinnya mengandalkan mood dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan dan kenegaraan. Apa jadinya pers kita kalau wartawannya dalam menulis dan menginvestigasi berita bergantung pada mood. Bagaimana wajah pelayanan umum di negeri kita, jika orang-orangnya bergantung pada mood dalam memberikan pelayanan. Bagaimana wajah hukum dan peradilan kita kalau jaksanya, hakimnya, memiliki ketergantungan pada mood. Apa jadinya kalau parlemen, organisasi, perusahaan, parpol, majelis taklim, tentara, polisi, di pimpin dan dipenuhi oleh orang-orang yang tindakan dan keputusannya bergantung pada mood? Dan apa jadinya jika hubungan kita dengan Tuhan pun tergantung mood? Wah wah wahÂ… Mood, menurut dugaan saya, kata Sariman, adalah keadaan dimana kita berada di puncak kesadaran. Antara semangat, pikiran sadar dan pikiran bawah sadar, serta faktor-faktor pendukung lainnya bertemu pada satu titik, terfokus pada satu hal. Pada kondisi seperti itu kita menjadi sangat produktif. Pekerjaan yang seabreg pun selesai dengan baik. Saya setuju, mood itu hampir sama dengan motivasi, kadang naik kadang turun, kata Sariman. Bekerja tanpa semangat atau motivasi yang kuat juga akan mempengaruhi produktifitasnya. Banyak seminar atau workshop yang memberikan formula dan tip-tip tentang bagaimana menjaga untuk tetap berada pada puncak motivasi. Tapi kita harus jujur mengakui, bahwa selalu ada saat-saat dimana kita merasa kurang bersemangat. Saya yakin para pemimpin besar dan orang-orang sukses itu juga melewati saat-saat dimana semangat menjadi kendur. Hanya saja saya yakin mereka tidak menyerah kepada semangat atau mood sekalipun. Sedang dalam puncak motivasi atau tidak, sedang mood atau tidak mereka tetap action (melakukan langkah aksi) dengan kemampuan terbaiknya, begitu katanya. Itulah mengapa mereka dengan kita menjadi berbeda. Mereka tidak mau di setir oleh sesuatu yang seharsnya bisa mereka kalahkan. Sedangkan kita lebih memilih menjadi pilon dengan menyerah tanpa syarat kepada sesuatu yang seharusnya tidak menjadi halangan untuk tetap berkarya : MOOD. (Diwacanakan oleh Ray Asmoro) Catatan : Tulisan ini hanya sebuah refleks yg bersifat spontan, tidak mengaharuskan pembaca untuk bersepakat. Tujuannya adalah menstimulasi adanya transaksi ide dan pemikiran. Maka, kritik, saran, pendapat apapun, sah. dari For Better Indonesia http://www.facebook.com/group.php?gid=87494376696

