*From:* paulus BW <[email protected]>
***Subject:* Re: [APWarnet] USINDO bisa cegah.. angka dari mana ? BSA
potensi kerugian $900 juta ??

Kalau Pemerintah mau menghilangkan issue software banjakan di Indonesia
gampagn saja. Keluarkan peraturan, bahwa semua perusahaan dan instansi
dilarang menggunakan software propietary di Indonesia. Yang juga dan
yang pakai ditangkap diperlakukan seperti narkoba.

Ini baru seru dan langsung tidak ada lagi di PWL.

---

[rr] pak paulus,

sudah ada upaya kearah kesana oleh Menpan...coba bikin Permen mengenai
himbauang gunakan Free software FOSS di pemerintahan... tapi langsung di
protes oleh IIPA sekitar awal tahun 2010  dan gara gara permen ini
pemerintah dianggap usaha monopoli dan direkomendasi masuk Priority
Watch list khan tahun ini... sehingga menimbulkan protes teman teman di
FOSS baik di dalam negeri maupun di luar negeri khan ?

hebat dan realist khan kelakuan mereka  :-)

salam, rr - apw/ mastel ukm

---

salam,
pb

2010/6/30 Naswil Idris <nas...@yahoo. com <mailto:[email protected]>>


    Pak Ardi, Brur RR :
    Saya sarankan agar USINDO bisa cegah laporan buruk BSA itu dpt
    memperngaruhi  nama baik NKRI di dunia Internasional dan hubungan
    baik INDON dan USA, dalam kerja sama proyek NEOLIBS baik dgn  IMF,
    Microsoft ( Bill Gates),Soros, Camdesus,World Bank, G 8,G 20 ,WALL
    Street, USTR, Copy Right, Copy Left amd Copy Wrong, dstnya.

    ------------------------------------------------------------------------
    *From:* "Ardi Sutedja K., CISA, CSIRM/NSA-IAC" <asuted...@yahoo. com
    <mailto:[email protected]>>


    Bayangkan kalau data dari badan2 seperti BSA ini bisa mempengaruhi
    kebijakan pemerintah.



    Lantas apa bedannya kelakuan2 mereka ini dengan para markus atau
    spion2 yang ditangkapi di Amerika?



    Salam,

    ardi




    Behalf Of *rrusd...@yahoo. com




    rekan milis:
    Angkanya laporan BSA dibawah ini memang  indah $ 411 juta(207), $
    566 juta (2008), $866juta (2009) ,sekarang $ 900 juta (2010)
    dari mana gerangan... angka ini bisa diperoleh... apa iya...hanya
    dengan estimasi berdasarkan jumlah PC yang dijual... dan estimasi
    jumlah software yg digunakan oleh PC tersebut  membandingkan dengan
    software yg terjual kah ??

    Selama angka BSA diperoleh melalui IDC , melalui model  estimasi
    seperti diatas,  bukan dari sensus dan melakukan survey menanyakan
    populasi pemakai komputer di tanah air satu persatu ... maka data
    dan angkanya akan sangat diragukan mengenai ketepatannya ?
    catatan: makin besar populasinya, makin tinggi accuracy...menurut
    buku Statistic for dummy and how to lie with statistics :-)

    kenapa.?.. karena:
    1. sekarang banyak sekali pemakai linux, open source, free software
    dan sulit menentukan jumlah nya karena mereka bisa mengunduh
    langsung tanpa hrs melalui distributor atau beli majalah dan bisa
    install ubuntu misalnya... bagaimana mengitungnya. .. apakah dengan
    melihat oplah majalah Linux :-)
    karena setiap majalah linux biasanya ada distronya... Jadi populasi
    linux, open source dna free software sangat besar di Indoensia...
    namun tidak mudah untuk mengetahuinya kecuali dengan survey langsung...
    angka angka BSA ini jika diperoleh tanpa mempertimbangkan populasi
    Linux akan terdistorsi dan sangat kurang accuracynya ?
    dan pemakai linux biasanya tidak perlu Anti virus...tidak perlu MS
    Office cukup pakai Open Office atau software legal... lainnya.
    cmliiw

    2. laporan IDC mengatakan bahwa sekitar 40% populasi di Indonesia
    adalah branded...dan majoritas branded tidak membajak dan branded
    luar negeri biasanya membeli softwarenya diluar negeri...misalnya
    Toshiba , Sony jika datang dari Jepang maka software bundlenya
    dihitung pembelian dari Jepang atau dari Cina kalau di ekspor dari
    Cina...demikian dengan Lenovo, Acer, Dell, HP, IBM semua pakai
    software legal O/S
    Jadi jika benar maka 40% O/S dari PC yang masuk ke Indonesia adalah
    legal... dan ini pasti luput dari pengamatan IDC...karena dihitung
    dari penjualan software ditanah air... padahal softwarenya dibeli
    bundling bersama hardwarenya. ..

    sehingga conclusionnya. .. laporan BSA dan angka angka BSA ini perlu
    dipertanyakan accuracynya. .. semestinya pemerintah menanyakan sama
    BSA... gimana mendapatkan angka angka ini dan menjelaskan dengan
    transparan.. . sesuai dengan UU Statistik ?... agar masyarakat clear
    dan jelas.

    artikel dibawah ini dari Bisnis Indonesia... silahkan dibaca:

    *Teknologi Informasi*

    Rabu, 30/06/2010



    *Potensi kerugian capai US$900 juta
    **Tren pembajakan software di Indonesia belum turun*



    JAKARTA: Potensi kerugian yang diderita pemasok peranti lunak akibat
    pembajakan software di Indonesia pada tahun ini diperkirakan
    menembus US$900 juta di tengah meningkatnya kebutuhan peranti lunak.

    Donny Sheyoputra, Perwakilan Business Software Alliance (BSA)
    Indonesia memproyeksikan angka kerugian akibat pembajakan software
    tahun ini cenderung naik hingga mencapai US$900 juta. "Kerugian
    pasti naik karena sifatnya yang umum di tengah pertambahan kebutuhan
    software yang porsinya lebih besar lagi," ujarnya kemarin.

    BSA merupakan organisasi yang sebagian besar berasal dari industri
    peranti lunak komersial global di antaranya Microsoft, Autodesk,
    Apple, Adobe, Corel, Symantec dan lainnya.

    Donny memperkirakan naik turunnya tingkat pembajakan software di
    Indonesia tidak terlalu jauh dibandingkan dengan tahun-tahun
    sebelumnya yaitu naik turun pada kisaran 1%-2%.

    Dia menegaskan persentase tingkat pembajakan hanya mengacu pada end
    user, bukan ritel atau pengganda. Adapun patokan tingkat pembajakan
    itu dihitung lembaga riset International Data Corporation (IDC) yang
    menghitung dari setiap 100 software komputer yang terinstalasi,
    lebih dari 80% di antaranya tanpa lisensi baik dari sistem operasi,
    aplikasi perkantoran, maupun aplikasi lainnya.

    Lima jenis software yang diklaim paling banyak dibajak di Indonesia
    adalah Microsoft Office, Microsoft Windows, aplikasi Autodesk,
    antivirus, aplikasi penyunting foto. Polanya dapat berupa satu
    lisensi digunakan beramai-ramai atau pengodean hard disk (hard disk
    coding).

    *Open Source*

    Menanggapi hal itu, Ketua Bidang Usaha Kecil Menengah Masyarakat
    Telematika Indonesia (Mastel) Rudi Rusdiah berpendapat estimasi IDC
    untuk menghitung tingkat pembajakan di Indonesia tidak tepat
    dijadikan acuan. "Kerugian dibuat dari perkiraan PC yang terjual
    dikali software yang diperkirakan dipakai tanpa melakukan survei
    sudah pasti terdistorsi dan seharusnya validitasnya dapat
    dipertanyakan oleh pemerintah," ujarnya kemarin.

    Menurut dia, estimasi IDC tidak memperhitungkan penggunaan software
    sumber terbuka (open source software/OSS) yang dinilai sulit dihitung.

    Rudi memberikan contoh data importasi komputer ke Indonesia. Jika
    40% dari total PC merupakan branded PC yang sistem operasinya
    dipaket artinya 40% sudah pasti legal. Belum lagi kenyataan
    penggunaan OSS yang terus meningkat.

    *Tingkat pembajakan software Indonesia*

    Tahun



    Tingkat (%)



    Kerugian (juta US$)

    2009



    86



    866

    2008



    85



    544

    2007



    84



    411

    2006



    85



    350

    2005



    87



    280

    *Ket* *) proyeksi
    *Sumber:* BSA

    *Pasar software dan jasa software Indonesia (Rp triliun)*

    Indikator



    2009



    2010

    Lisensi



    2,6



    2,7

    Jasa



    4,2



    5,3

    Total



    6,8



    8,0

    *Sumber:* Aspiluki, IDC November 2009, diolah

    Terkait dengan software legal, PT Microsoft Indonesia memutuskan
    untuk meningkatkan edukasi kepada pengguna mengenai keuntungan
    menggunakan produk software berlisensi, seiring dengan meningkatnya
    angka pembajakan peranti lunak di Indonesia.

    Haswar Hafi, Office Marketing Manager Microsoft Indonesia,
    mengatakan data terakhir dari hasil riset BSA mencatat tingkat
    pembajakan software di Indonesia sepanjang tahun lalu naik 1%
    menjadi 86% dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 85%. (fita
    Indah Maulani) /(roni.yunianto@ bisnis.co <http://bisnis.co>. id) /

    Oleh *Roni Yunianto*
    Bisnis Indonesia



    © /Copyright 2001 /*Bisnis Indonesia*. /All rights reserved./


    dari:
    http://www.bisnis. com/pls/bisnis/ bisnis.cetak? inw_id=740801
    <http://www.bisnis.com/pls/bisnis/bisnis.cetak?inw_id=740801>



    *Teknologi Informasi*

    Rabu, 30/06/2010



    *Potensi kerugian capai US$900 juta
    **Tren pembajakan software di Indonesia belum turun*



    JAKARTA: Potensi kerugian yang diderita pemasok peranti lunak akibat
    pembajakan software di Indonesia pada tahun ini diperkirakan
    menembus US$900 juta di tengah meningkatnya kebutuhan peranti lunak.

    Donny Sheyoputra, Perwakilan Business Software Alliance (BSA)
    Indonesia memproyeksikan angka kerugian akibat pembajakan software
    tahun ini cenderung naik hingga mencapai US$900 juta. "Kerugian
    pasti naik karena sifatnya yang umum di tengah pertambahan kebutuhan
    software yang porsinya lebih besar lagi," ujarnya kemarin.

    BSA merupakan organisasi yang sebagian besar berasal dari industri
    peranti lunak komersial global di antaranya Microsoft, Autodesk,
    Apple, Adobe, Corel, Symantec dan lainnya.

    Donny memperkirakan naik turunnya tingkat pembajakan software di
    Indonesia tidak terlalu jauh dibandingkan dengan tahun-tahun
    sebelumnya yaitu naik turun pada kisaran 1%-2%.

    Dia menegaskan persentase tingkat pembajakan hanya mengacu pada end
    user, bukan ritel atau pengganda. Adapun patokan tingkat pembajakan
    itu dihitung lembaga riset International Data Corporation (IDC) yang
    menghitung dari setiap 100 software komputer yang terinstalasi,
    lebih dari 80% di antaranya tanpa lisensi baik dari sistem operasi,
    aplikasi perkantoran, maupun aplikasi lainnya.

    Lima jenis software yang diklaim paling banyak dibajak di Indonesia
    adalah Microsoft Office, Microsoft Windows, aplikasi Autodesk,
    antivirus, aplikasi penyunting foto. Polanya dapat berupa satu
    lisensi digunakan beramai-ramai atau pengodean hard disk (hard disk
    coding).

    *Open Source*

    Menanggapi hal itu, Ketua Bidang Usaha Kecil Menengah Masyarakat
    Telematika Indonesia (Mastel) Rudi Rusdiah berpendapat estimasi IDC
    untuk menghitung tingkat pembajakan di Indonesia tidak tepat
    dijadikan acuan. "Kerugian dibuat dari perkiraan PC yang terjual
    dikali software yang diperkirakan dipakai tanpa melakukan survei
    sudah pasti terdistorsi dan seharusnya validitasnya dapat
    dipertanyakan oleh pemerintah," ujarnya kemarin.

    Menurut dia, estimasi IDC tidak memperhitungkan penggunaan software
    sumber terbuka (open source software/OSS) yang dinilai sulit dihitung.

    Rudi memberikan contoh data importasi komputer ke Indonesia. Jika
    40% dari total PC merupakan branded PC yang sistem operasinya
    dipaket artinya 40% sudah pasti legal. Belum lagi kenyataan
    penggunaan OSS yang terus meningkat.

    *Tingkat pembajakan software Indonesia*

    Tahun



    Tingkat (%)



    Kerugian (juta US$)

    2009



    86



    866

    2008



    85



    544

    2007



    84



    411

    2006



    85



    350

    2005



    87



    280

    *Ket* *) proyeksi
    *Sumber:* BSA

    *Pasar software dan jasa software Indonesia (Rp triliun)*

    Indikator



    2009



    2010

    Lisensi



    2,6



    2,7

    Jasa



    4,2



    5,3

    Total



    6,8



    8,0

    *Sumber:* Aspiluki, IDC November 2009, diolah

    Terkait dengan software legal, PT Microsoft Indonesia memutuskan
    untuk meningkatkan edukasi kepada pengguna mengenai keuntungan
    menggunakan produk software berlisensi, seiring dengan meningkatnya
    angka pembajakan peranti lunak di Indonesia.

    Haswar Hafi, Office Marketing Manager Microsoft Indonesia,
    mengatakan data terakhir dari hasil riset BSA mencatat tingkat
    pembajakan software di Indonesia sepanjang tahun lalu naik 1%
    menjadi 86% dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 85%. (fita
    Indah Maulani) /(roni.yunianto@ bisnis.co <http://bisnis.co>. id) /

    Oleh *Roni Yunianto*
    Bisnis Indonesia



    © /Copyright 2001 /*Bisnis Indonesia*. /All rights reserved./




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke