Dear All, Saya melihatnya sederhana saja, pemerintah berkeinginan memiliki nilai mata uang yang kuat bukan saja secara kurs (karena 10 tahun terakhir kurs nilai tukar rupiah stabil di kisaran 9.000/USD), tetapi juga secara nominalnya.
Secara psikologis di Indonesia saat ini kita memang mudah menyebut jutaan, puluhan juta, ratusan juta, bahkan milyar tapi nilai yang terbeli tidak begitu signifikan bila dibanding orang USA menyebut USD Dollar misalnya yang mana 1 juta US dollar itu setara dengan 9 milyar rupiah :). Di masa lalu, ada kasus serupa tapi tak sama, zamannya orde lama pernah melakukan penyesuaian nilai uang, lalu saat pak Harto naik ke tampuk kekuasaan juga melakukan hal yang sama, Rp. 1.000,- di potong (bukan disesuaikan) menjadi Rp. 1,- , yang terjadi saat itu memang agak kacau balau (hasil diskusi dengan orang2 yag mengalami era itu), harga barang membumbung tinggi, inflasi meroket, dan administrasi keuangan menyebabkan kepanikan di mana2, karena masyarakat saat itu tidak yakin dengan nilai baru yang nolnya lebih sedikit. Pertanyaannya: Kenapa hal itu terjadi saat itu (orde lama) Jawab: Karena kondisi ekonomi dan politik tidak kuat, negara baru berganti rezim dengan cara yang frontal, kondisi belum stabil, ekonomi terpuruk, nilai mata uang sudah jatuh total, sehingga wajar kebijakan penyesuaian yang bernama sanering saat itu agak membuat orang2 tua jaman dulu shock dan traumatik. Kalau saat ini bagaimana? Kondisi sangat jauh berbeda, pergantian rezim melalui mekanisme pemilu yang demokratis, kondisi sosial politik relatif aman, perekonomian apalagi, melaju pesat, nilai mata uang relatif stabil. Kondisi Indonesia saat ini dipandang Bank Indonesia sudah memenuhi 3 kriteria ideal untuk melakukan redenominasi: 1) perekonomian yang stabil, 2) inflasi rendah dan stabil, 3) serta adanya jaminan stabilitas harga. Bank Indonesia dan Pemerintah saat ini pasti akan mempelajari histori kebijakan serupa tapi tak sama di masa lalu, dan sekarang teknologi dan komunikasi lebih canggih di banding masa lalu, jika dibaca secara details, program redenominasi ini juga akan dilakukan secara komprehensif dan terukur. Aliran dana investasi asing terus masuk ke Indonesia, baik yang bersifat hot money di pasar uang dan saham, serta long terms investment PMA, lalu beberapa pelaku ekspor, mulai banyak yang mewujudkan rasa cinta tanah air ini dengan menyatakan pada para buyernya di luar negeri: "please pay us in Rupiah!", sama seperti orang Malaysia yang berkata pada buyernya: "we only accept payment in Malaysian Ringgit only", dan hasilnya apa?, lihat kurs Rupiah selalu stabil dalam 10 tahun terakhir, betapa indahnya nasionalisme, Malaysia sudah membuktikannya, kita?, ayo rekan2 jadilah orang Indonesia sesungguhnya. Tanda apa ini?, ini tanda2 positif bahwa Indonesia akan menjadi bangsa terkemuka di dunia, 5 - 10 tahun ke depan, menyusul 3 negara tetangga kita yang sudah melangkah duluan (Singapura, Malaysia, Thailand) Kita dukung saja niat baik pemerintah ini, dengan tidak bersifat spekulatif, khawatir berlebihan, dan memberikan analisa yang tidak pada tempatnya, kita serahkan saja sama ahlinya di Bank Indonesia. Dan yang paling penting kita tunggu adalah sosialisasi yang seterang benderangnya dari pemerintah kepada seluruh lapisan masyarakat, jika kebijakan ini jadi dilaksanakan. Yuk, berpikir jernih dan possitive thinking terhadap segala rencana baik pemerintah, kita berpikir jauh ke depan tentang kemajuan, kemandirian, dan masa depan bangsa, sehingga kita bisa bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Saya yakin anda semua mencintai negeri ini, ya ga...? salam, Deni Danasenjaya --- In [email protected], Adri Febrianto <adrique1...@...> wrote: iya nich, sebenarnya kenapa ngga dari dulu aja ya kayak gini, jaman masih Presiden Soeharto dan USD masih Rp. 1600 ...... waktu itu saya masih kecil dan lugu, terkesan banget dengan mata uang negeri jiran ( yg dibawa ortu saya yg pulang dari business trip di sana ) yg nominasinya kecil .... akhirnya saya bilang ke ayah saya kenapa Rupiah ngga seperti itu , kan keren ...... hehe .....

