(Sharing)

Sweet Dream…

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)


     Kita mulai dengan contoh kasus di industri gula. Dalam kurun waktu 
seperempat abad terakhir ini  produksi gula nasional tidak mencukupi kebutuhan 
domestik. Saat ini kita impor 58% dari total kebutuhan gula nasional sebesar 
5,1 
juta ton. Dan, dalam kurun 3 tahun terakhir produksi gula nasional malah 
cenderung menurun, padahal kebutuhan terus meningkat seirama dengan naiknya 
populasi dan tingkat kesejahteraan penduduk. Sekarang kita net-importer gula 
dunia. Tapi, tahukah bahwa dulu (th 1930-an) Indonesia justru pernah menjadi 
salah satu pemasok gula terbesar di dunia? 

     Selintas latar belakang tanaman tebu (saccharum officinarum L) yang 
ternyata memiliki sejarah panjang sebagai komoditi pertanian. Tanaman ini 
diperkirakan berasal dari Papua dan mulai dibudidayakan semenjak 8000 tahun SM! 
Tanaman ini menyebar ke pelbagai pelosok dunia seiring gerak migrasi 
menyeberang 
laut. Konon tebu dari Papua menyebar ke kepulauan Solomon, New Hebride sampai 
ke 
Kaledonia Baru. Penyebarannya terus ke Indonesia tengah, Filipina dan India 
barat, lalu dari situ ke Cina. Tahun 710 M tebu masuk ke Mesir lalu menyebar ke 
Maroko, Suriah, Mediterania, Madeira dan Pulau Canary. Dari Maroko tebu masuk 
ke 
Spanyol dan ke Sisilia di tahun 950 M. Lalu di abad ke-15 Columbus membawa tebu 
dari Pulau Canary ke Republik Dominika yang merupakan awal penyebaran di benua 
Amerika. Kurun di abad ke-16 sampai ke-18M tebu menyebar di Meksiko, Brazil dan 
Peru, lalu ke Mauritius, Reunion dan Hawaii. Baru di abad 19 tebu mulai dikenal 
di Australia, Fiji dan Afrika Selatan.

     Di Indonesia (khususnya Pulau Jawa), tebu sudah dibudidayakan sejak jaman 
Aji Saka (sekitar th 75 M). Bahkan menurut catatan perjalanan I-Tsing bahwa 
pada 
th 895 M, di Nusantara sudah diperdagangkan gula yang berasal dari tebu dan 
nira 
kelapa. Walau, menurut Marcopolo, sampai di abad ke-12 di Jawa belumlah 
berkembang suatu industri gula seperti yang sudah terjadi di Cina dan India 
yang 
lebih maju saat itu. Baru pada waktu orang Eropa (Belanda) datang di abad ke-17 
membawa perubahan dalam industri gula di Jawa. Industri gula di Jawa berkembang 
terus, di th 1710 sudah ada 130 pabrik gula dengan produksi 2,47 juta ton per 
tahun (bandingkan dengan kinerja 300 tahun kemudian, yakni di th 2010, dengan 
tinggal 62 pabrik gula yang memproduksi 2,10 juta ton per tahun). Prestasi 
tertinggi industri gula di Jawa dicapai  pada tahun 1930-an tatkala mencapai 
produksi sebesar 2,97 juta ton (dimana sejumlah 2,66 juta ton diantaranya 
diekspor ke Eropa). Itulah saat Nusantara menjadi salah satu pemasok gula 
dunia! 
Walaupun patut dicatat juga bahwa saat itu pemerintah Hindia Belanda 
memproduksi 
gula utamanya memang demi memenuhi kebutuhan ekspor ke Eropa, Amerika, Cina, 
Jepang, Australia, dll. Pada jaman itu, perusahaan gula Belanda – dengan kebun 
dan pabriknya di Nusantara – mendominasi pasar gula dunia.

***

   Lalu bagaimana perjalanan sejarah ekonomi itu bisa menikung? William J. 
Bernstein adalah seorang neurolog peminat filsafat dan sejarah ekonomi 
(bukunya: 
The Birth of Plenty, How the Prosperity of the Modern World was Created, 
McGraw-Hill, 2004) memetakan 4 faktor yang merupakan unsur-unsur esensial 
pemicu 
pertumbuhan ekonomi yang juga sekaligus merupakan faktor yang mempertahankan 
pertumbuhan serta kemajuan umat manusia.  Keempat faktor itu adalah: property 
rights, scientific rationalism, capital markets, dan improvements in transport 
and communication.

     Hak kepemilikan (property rights) perlu dijamin, bukan hanya kepemilikan 
fisik namun juga intellectual-property dan kebebasan sipil (civil liberties).  
Para innovator dan pedagang mesti yakin bahwa buah hasil kerjanya tidak bakal 
dirampas secara semena-mena, baik oleh negara, oleh para kriminal, atau bahkan 
oleh penguasa pasar (monopolist). Dalam istilah Bernstein, “The assurance that 
a 
person can keep most of his just reward is the right that guarantees all other 
rights.”

     Sebuah prosedur sistematis untuk menguji dan menginterpretasikan dunia, 
singkatnya perlu sebuah metode yang ilmiah (scientific method). Rasionalisme 
ilmiah diperlukan lantaran kemajuan ekonomi bertopang pada pengembangan dan 
komersialisasi ide-ide. The inventive process requires a supportive 
intellectual 
framework – an infrastructure of rational thought, if  you will, with a 
reliance 
on empirical observation and on the mathematical tools that support technologic 
advance. Sayangnya, di jaman sekarang ini – terutama di kawasan Afrika, Asia 
dan 
Timur Tengah – masih banyak terjadi di mana…honest intellectual inquiry places 
life and property at grave risk from the forces of state and religious tyranny.

     Ketersediaan dana dan aksesnya adalah imperatif demi membiayai penemuan 
baru dan untuk memproduksinya. Diperlukan pasar modal yang modern.  Sebelum 
abad 
ke-19, para individu brilian yang paling ambisius sekalipun mengalami kesulitan 
menembus sumber-sumber pendanaan demi merealisasikan mimpi-mimpinya untuk jadi 
kenyataan.

     Kemajuan dalam sejarah ekonomi juga mensyaratkan kemampuan 
mengkomunikasikan pelbagai informasi vital, serta kelancaran (dan kecepatan) 
gerak transportasi orang dan barang. The final step in the creation of gadgets 
is their advertisement and distribution to buyers hundreds or thousands of 
miles 
away. Ketiga faktor sebelumnya tadi akan gagal mencapai tingkat pertumbuhan 
ekonomi yang maju jika tidak mampu menyalurkan produk-produknya dengan cepat 
dan 
murah ke tangan konsumen.

***

     Dalam catatan sejarah ekonomi Nusantara kita pernah punya rekaman 
kejayaan, 
puncak prestasi (kinerja) produksi dan pemasaran kelas dunia yang membanggakan. 
Bung Karno dulu pernah bilang Jasmerah (jangan sekali-kali meninggalkan 
sejarah). Kita belajar dari sejarah untuk menggali inspirasi dan semangat maju 
ke depan. Merealisasikan mimpi-mimpi manis… semanis gula tebu Nusantara.
.
.
.
(twitter: @andrewenas)
----------------------------------------------------------------------------
(artikel dari Majalah MARKETING, edisi Maret 2011)
.
.
STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke