<*>[Attachment(s) from Strategic Management Services included below]

(Sharing)



Ideologi Pertumbuhan Global?

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.

(Twitter: @andrewenas)



"It is necessary that at least once in your life you doubt, as far as possible, 
all things." - Rene Descartes


*** 


     Beberapa kejadian di mancanegara akhir-akhir ini. Jerry Yang pendiri 
Yahoo! Mengundurkan diri dari posisinya di jajaran direksi Yahoo, Alibaba,  dan 
Yahoo Japan. Sebelumnya Carol Bartz yang tidak rukun dengan Jack Ma (bos besar 
Alibaba Group) juga mundur dari jabatannya sebaga CEO  Yahoo! Inc. Musabab 
mundurnya Jerry Yang adalah lantaran ia dianggap gagal menjual saham Yahoo 
Asia. Dengan mundurnya Jerry maka Scott Thompson, CEO baru Yahoo, dianggap oleh 
Clayton Moran (analis Benchmark Co.), bakal bisa membuat formulasi strategi 
bisnis global yang ampuh demi mengungguli Google Inc dan Facebook Inc di sektor 
periklanan online. Caranya, dengan memuluskan rencana penjualanYahoo di Asia 
senilai US$10 miliar, dan sekaligus melepaskan kemitraannya dengan Alibaba 
Group Holding Ltd dan Yahoo Japan Corp. Begitulah fenomena mutakhir di sektor 
bisnis arus informasi dunia.


     Di sektor perbankan global (sektor bisnis arus uang), JP Morgan membukukan 
laba tahun 2011 dengan anjlok 23% dibanding tahun sebelumnya (dari net-profit 
sebesar US$4,83 miliar jadi 'cuma' US$3,72 miliar). Ini karena pendapatan JP 
Morgan tergerus 18% jadi US$21,5 miliar. Nasib Citigroup mirip, dengan laba 
terpangkas 11% (jadi 'cuma' US$1,17 miliar) karena pendapatannya tererosi 
sebesar 7% menjadi US$17,2 miliar. Goldman Sachs pun diduga juga bakal 
menderita penurunan pendapatan. Gejala penurunan ini disinyalir akibat krisis 
utang Eropa yang telah mempengaruhi perdagangan dan aksi korporasi dunia. Yang 
menarik, di tengah gerusan income yang dialami bank-bank raksasa itu, Wells 
Fargo, yang juga mengalami penurunan pendapatan dari US$21,5 miliar menjadi 
US$20,6 miliar, namun toh ia tetap berhasil menumbuhkan net-profit-nya sebesar 
30% (dari sebelumnya US$11,6 miliar menjadi sebesar US$15 miliar!). Menurut 
pengakuan John Stumpf, CEO Wells Fargo,
 perusahaannya telah menguras begitu banyak energi demi mempertahankan 
pendapatan sembari terus menjaga prinsip kehati-hatian dunia perbankan, dan ia 
pun,  "...tetap puas dengan kinerja 2011," pungkasnya.


     Satu lagi fenomena bisnis global yang menarik. Menyikapi persaingan 
ketatnya dengan Boeing yang berbasis di Illinois, Amerika Serikat, maka Airbus 
SAS yang asal Eropa telah memproyeksikan bakal menurunnya permintaan pesawat 
produksinya sebanyak 50% di tahun 2012 ini. Ironisnya, prediksi pesimistik ini 
dilansir justru setelah tahun lalu Airbus SAS menjuarai pasar produksi pesawat 
dengan1.419 order. Tahun ini Airbus SAS cuma meramal sekitar 600 - 650 order 
pesawat.


***


     Di Indonesia, diskursus tentang pertumbuhan ekonomi makro-mikro juga 
centang-perenang, sulit dibaca arahnya mau kemana, bahkan cenderung cuma 
sekedar hiruk-pikuk pasar pagi yang penuh tawar menawar dagang sapi, memekakkan 
telinga. Yang menonjol misalnya soal paradoks perekonomian nasional seperti 
yang diungkap lugas oleh Prof. Ahmad Erani Yustika (Kompas, 18 Jan 2012), 
dimana ekonomi Indonesia kerap memperoleh pujian dari luar negeri dan lembaga 
internasional sehingga membuat pengelola ekonomi kabinet SBY jadi bangga 
sendiri, tapi ironisnya 'prestasi' ini tidak mendapat tepuk tangan dari publik 
dalam negeri. Apa pasal? Ternyata berkait dengan pelbagai indikator yang 
dipakai untuk mendefinisikan kemakmuran dan keberhasilan kinerja ekonomi. Di 
satu sisi rakyat mengukurnya dari harga pangan pokok, kesempatan pendidikan, 
keterjangkauan kesehatan, akses transportasi, lapangan kerja, jaminan keamanan 
hidup, dll. Sementara di sisi lain, pemerintah
 malah membanggakan: pertumbuhan ekonomi sektor jasa, gemuruh investasi asing, 
kepercayaan asing atas SUN (surat utang negara), rasio utang terhadap PDB 
(meski APBN sendiri kelimpungan!), dll. Jadi inti soalnya, kebanggaan 
pemerintah tidak ada tali relevansinya dengan aspirasi rakyat. Lantaran bagi 
rakyat, yang de facto dirasakan adalah: selama periode 2005 - 2010 kenaikan 
harga beras sudah mencapai 120%, kedelai naik 85%, telur naik 100%, daging naik 
90%. Inilah yang menyesakkan dada kalangan bawah. Sementara kalangan menengah 
atas tentu enjoy saja karena bisa memiliki kekayaan sekitar Rp.750 triliun, 
atau berkisar 10,3% dari PDB. Dan percepatan penambahan kekayaan kelas ini 
sekitar 20% setahun. Sehingga pertanyaan eksistensialnya menjadi, mau kemana 
perekonomian Indonesia?


***


     Di persimpangan ini sejenak kita berhenti untuk merenung dan bertanya 
dengan penuh keraguan, jangan-jangan yang namanya pertumbuhan itu sendiri telah 
menjadi sesuatu yang ideologis. Artinya, yang jadi penting adalah pertumbuhan 
demi pertumbuhan itu sendiri  (atau pembangunan demi pembangunan itu sendiri). 
Pokoknya jadi lebih besar dibanding kemarin, lebih banyak, lebih tinggi, dan 
seterusnya. Apakah betul pembangunan (ekonomi-bisnis) itu sekedar pertumbuhan 
yang dicerminkan lewat pelbagai indikator angka-angka yang semakin membesar?


     Perspektif pemberantasan kemiskinan, sebagai tujuan pembangunan, 
seyogianya adalah dalam kerangka perluasan lingkup kebebasan (freedom). Karena 
seperti dikatakan Anthony Giddens, kemiskinan telah menimbulkan semacam 
mekanisme peminggiran. Dipinggirkan untuk kemudian jatuh dalam jurang 
keterbelengguan. Maka, daya kritis demi mempersoalkan asumsi-asumsi ideologis 
tetaplah imperatif. 



(Twitter: @andrewenas)
-----------------------------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Februari 2012




STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

<*>Attachment(s) from Strategic Management Services:


<*> 1 of 1 File(s) 
http://groups.yahoo.com/group/biznett/attachments/folder/1223670730/item/list 
  <*> Ideologi Pertumbuhan Global (Majalah MARKETING, edisi Februari 2012).pdf

------------------------------------

Mari bertukar informasi soal bisnis ! Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/biznett/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/biznett/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke