<*>[Attachment(s) from Strategic Management Services included below]

(Sharing)


Alegori Gua

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)


“Imagine the condition of men living in a sort of cavernous chamber 
underground, with an entrance open to the light and long passage all down the 
cave. Here they have
been from childhood…”– Plato, dalam Republic/Politeia, buku VII.

***

     Orang yang sepanjang hayatnya tinggal dalam “kungkungan” paradigma atau 
“semacam kondisi gua” (yang melingkupi seumur hidupnya: seperti kebudayaan, 
adat-istiadat, tata-krama tertentu, ajaran-ajaran tentang kebenaran tertentu, 
konsep keindahan dan kecantikan tertentu, dan lain sebagainya) tentu meyakini 
bahwa kondisi keberadaannya yang sebegitulah yang ia ketahui/yakini sebagai 
kebenaran. Tentang dahsyatnya “belenggu” itu, Plato melanjutkan, “…chained by 
the leg and also by the neck, so that they cannot move and see only what is in 
front of them, because the chains will not let them turn their heads.” Lewat 
paradigma sebegitulah ia mengungkap atau menangkap realitas dunia.  Padahal 
menurut Plato, apa yang tampak ada di dunia ini hanyalah bayang-bayang 
(shadows) atau representasi dari realitas yang sesungguhnya di atas sana. Yang 
tampil hanyalah bayangan seperti di dalam pertunjukan wayang kulit, “…At some 
distance higher up
 is the light of a fire burning behind them; and between the prisoners and the 
fire is a track with a parapet built along it, like the screen at a 
puppet-show, which hides the performers while they show their puppets over the 
top.” Untuk mengenal realitas yang sesungguhnya kita mesti memampukan diri 
untuk melihat (berpikir) menembus bayang-bayang (tanda-tanda, signs, simbol) 
dari yang tampak di permukaan.

***

      Dikabarkan jumlah orang kaya Indonesia telah bertambah 23,8%. Definisi 
orang kaya ini adalah nilai kekayaan bersihnya (net-worth), yaitu asset diluar 
rumah tinggal utama, barang koleksi, barang konsumsi dan barang-barang habis 
pakai. Pendeknya asset yang dapat diinvestasikan di atas US$ 1 juta. Jumlah 
high-net-worth-individual (HNWI) terbanyak masih dipegang Amerika Utara (3,4 
juta orang), disusul Asia Pasifik (3,3 juta orang), Eropa (3,1 juta orang), dan 
paling bontot Amerika Latin dengan 500 ribu orang. Riset tahunan yang dilakukan 
Merill Lynch bersama Capgemini yang tertuang dalam laporannya 2011 World Wealth 
Report menggambarkan kondisi yang terjadi di tahun 2010 lalu.

     Lalu apa sih yang dilakukan oleh HNWI global ini dengan kekayaan 
bersihnya? …jawaban paling gampang tentu untuk belanja konsumsi atau 
diinvestasikan kembali. Namun ada tren baru yang menarik. Koran Kontan (25 Juni 
2011) melaporkan, lantaran jenuh dengan bentuk investasi yang itu-itu saja, 
orang kaya dunia mencari bentuk investasi yang tidak biasa. Kini muncul tren 
berinvestasi di barang-barang mewah seperti jam tangan, benda seni, anggur 
(wine) yang langka dan mobil vintage. Benda-benda ini diyakininya punya nilai 
estetika dan emosional yang memiliki potensi pengembalian (return) besar, 
terutama jika dikomparasi dengan suku bunga rendah dan pasar saham yang 
fluktuatif. 

     Katanya, investasi alternatif ini memungkinkan para investor 
mendiversivikasi asset tanpa terpengaruh kondisi labilitas pasar finansial 
global. Laporan Merill Lynch dan Capgemini itu juga menyebutkan bahwa sepertiga 
dari total investasi 2010 menggelontor ke barang mewah seri koleksi seperti 
mobil, kapal dan jet. Di China, demand untuk Mercedes Benz dan Ferrari 
meningkat pesat. Enaknya investasi di luxurious-collectible-items seperti ini 
adalah juga bisa sekaligus dikonsumsi langsung, walau memang yang dikonsumsi 
adalah bentuknya simbolik (tanda-tanda, signs, brands) dan pekat bernuansa 
emosional, prestise, dan gengsi.

     Pemujaan global terhadap idola-idola abad-21 (brands, merek, ikon-ikon 
selebritis, simbol, tanda-tanda, signs, dan yang sejenisnya) juga telah ikut 
mendefinisikan konsep nilai (atau yang lebih disederhanakan: konsep harga, 
price), dan pada gilirannya nanti justru konsep harga inilah yang bakal  
menentukan apakah sesuatu itu bernilai. Simplifikasi bahwa realitas yang 
bernilai adalah sesuatu yang bisa diukur dengan price (harganya bakal naik atau 
bakal turun) telah menjadi kriteria utama masyarakat dunia abad-21.  Banal 
memang, tetapi begitulah sosialita abad-21 mendeskripsikan dirinya. Paradigma 
masyarakat pasar global abad-21 nampaknya sedang berarak pada satu idola (idol 
= berhala, ideologi) yaitu harga (uang). Proses monetisasi atau finansialisasi 
telah menjadi semacam gua yang melingkupi (mengungkungi) para penghuninya. 

***

     Dulu kekayaan diukur dengan banyaknya ternak yang dimiliki, luasnya tanah 
yang dikuasai. Sekarang bentuk kekayaan telah disimbolisasi dengan mata uang, 
yang juga semakin abstrak. Dari koin dan lembar-lembar kertas (bank notes), 
menjadi kartu-plastik (debit-card, credit-card) dan akhirnya cuma dengan 
sederet kode PIN (lewat telebanking) yang merepresentasi jumlah uang 
(informasi, angka) tertentu di lokasi server bank tertentu. 

     Di titik ini, sejenak kita  rehat untuk mengambil jarak terhadap 
hiruk-pikuk dinamika proses globalisasi untuk menerawang lebih jernih persoalan 
kefanaan dan kesejatian. Donny Gahral Adian (Matinya Realitas: Sebuah Obituari 
Politis atau Filosofis? 2004) menulis renungannya, “Manusia yang menyejarah 
adalah satu-satunya sosok yang sangat terganggu dengan kefanaan itu. Sebuah 
ironi menarik. Sosok yang sadar akan kefanaan sekaligus adalah ia yang gandrung 
akan kesejatian. Di tengah semesta yang fana dan asing, terlontarlah pertanyaan 
primal tersebut: apa itu realitas sejati? Dari situ, seluruh kerja kognitif 
manusia diarahkan untuk membongkar kefanaan dan memunculkan kesejatian. Sebuah 
proyek panjang dan melelahkan…”

     Melelahkan memang, namun selama kita masih jadi manusia (dan bukan cyborg, 
robot pintar tanpa hati) perjalanan panjang ini patut dikerjakan.  




(twitter: @andrewenas)
------------------------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Juli 2011


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

<*>Attachment(s) from Strategic Management Services:


<*> 1 of 1 File(s) 
http://groups.yahoo.com/group/biznett/attachments/folder/868940297/item/list 
  <*> Alegori

------------------------------------

Mari bertukar informasi soal bisnis ! Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/biznett/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/biznett/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke