(Sharing)

Mari Memimpin Perubahan

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)


  Sesungguhnya, tatkala visi perusahaan dicanangkan maka sejak itulah 
manajemen-perubahan jadi pola kerja harian. Maka manajemen adalah senantiasa 
manajemen-perubahan, sebab tiap hari merupakan gerak perubahan kontinyu menuju 
sasaran antara yang ujungnya bakal mengantar organisasi mewujudkan idealnya.

  Dalam memimpin perubahan, pahamilah bahwa manusia resisten terhadap perubahan 
justru karena mereka adalah manusia. Dari penelitian neuroscience menggunakan 
teknologi canggih pada aktivitas otak ditemukan adanya fenomena resistensi 
perubahan. Salah satu bagian otak manusia yang disebut basal-ganglia atau 
“pusat-kebiasaan” sangat dipengaruhi oleh rutinitas, hal-hal yang dikenal sejak 
lama. Menggunakan basal-ganglia demi mengerjakan hal rutin membuat perasaan 
sangatlah nyaman dan enak. Belajar hal baru memaksa orang keluar dari zona 
kenyamanannya. 

  Prof. Jeffrey Liker & Michael Hoseus dalam bukunya: Toyota Culture, The Heart 
and Soul of the Toyota Way (McGrawHill, 2008) menyebutkan dua tendensi alamiah 
penyebab konflik besar dalam mengelola perubahan.

  Tendensi pertama, kita biasanya sangat excited (menggebu) tentang sesuatu dan 
menginginkan agar orang lain juga sama excited-nya dan berubah seperti yang 
kita 
mau. Tendensi lainnya, hampir tidak mungkin orang lain akan mau melakukan apa 
yang kita katakan. Bisa kita klasifikasikan ini sebagai resistensi tinggi jika: 
a) orang harus merubah kebiasaan lama di
 mana mereka sudah merasa nyaman, dan b) 
mereka tidak melihat ada keuntungan pribadi (personal benefit) di dalamnya!

  Jadi bagaimana hasil riset ini bisa kita manfaatkan? Kesimpulan penelitian 
adalah: focus is power. Perhatian yang intensif mampu mengubah pola otak 
manusia. Ekspektasi manusia yang direpresentasi oleh peta-mental (mental-maps) 
sangatlah menentukan bagaimana kita menafsirkan situasi dan bereaksi 
terhadapnya. Peta-mental dapat diubah dengan mengolah momen-momen pemahaman 
(moments of insight).

  Tadi kita sudah tahu bahwa orang tidak berubah lantaran mendengar apa yang 
kita bilang (telling). Maka bagaimana menghindari mengatakan (telling) pada 
orang lain? Jawabannya, dengan terus melibatkan mereka dan senantiasa 
menyemangati mereka dalam proses menemu-kenali secara mandiri (self-discovery).

  Dalam perjalanannya, kerap perubahan yang harus dilewati sangat tidak menentu 
(high uncertainty). Persoalannya bagaimana menanggulangi rasa tidak-menentu 
yang 
tinggi ini? Di sini, sang pemimpin harus siap memberi dukungan setiap hari! 

  Penelitan yang dikerjakan Alan Deutschman (bukunya Change or Die: The Three 
Keys to Change in Work and in Life, 2007) menceritakan dokter yang merawat 
pasien. Mayoritas dengan potensi penyakit yang fatal. Tatkala mereka diberi 
pilihan agar mengubah asupan makanan termasuk perilaku hariannya atau kalau 
tidak ia akan mati, tetap saja gagal berubah. Kenyataannya 90% orang gagal 
berubah. Bahkan ancaman mati pun dirasa tak cukup seram.

  Akhirnya Deutschman menemukan cara meningkatkan success-rate dari cuma 10% 
menjadi hampir 80%. Bagaimana bisa? Dulu kita mengira bahwa jika orang diberi 
tahu tentang 3 hal (3F): facts (faktanya), fear (ancaman ketakutan), dan force 
(paksaan) maka perubahan pasti berhasil, malah terbukti banyak gagalnya 
(success-rate cuma kurang dari 10% saja!).

  Ada 3 hal lain yang lebih ampuh memastikan perubahan bisa tahan jangka 
panjang, sebutannya 3R : Relate, Repeat, dan Reframe.

1. Relate, bangunlah suatu relasi-emosional baru dengan orang atau komunitas. 
Kualitas hubungan ini mesti bisa menginspirasi dan mempertahankan harapan. 
Andalah modelnya.

2. Repeat, relasi yang baru ini bisa menolong Anda belajar, mempraktekan dan 
akhirnya jadi ahli dalam keterampilan dan kebiasaan baru. Konsistensi.

3. Reframe, akhirnya relasi baru ini bakal menolong Anda belajar cara berpikir 
baru tentang situasi dan bahkan tentang hidup Anda. Paradigma baru.

  Tugas Anda pemimpin bisnis adalah kontinyu memberi bahkan menjadi inspirasi 
perubahan. Bersiaplah untuk sukses!



(twitter: @andrewenas)
----------------------------------------------------
artikel dari Tabloid Bisnis KONTAN


STRATEGIC MANAGEMENT
 SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke