(Sharing)
Marilah Kita Muntah-muntah! Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA. (twitter@andrewenas) “Max Havelaar mencium bau busuk di seluruh daerah Bantam, tetapi tidak merasa sanggup membuktikan ada mayat. Dia mendengar jerit dari anak yang disiksa, tetapi tidak bisa membuktikan adanya algojo. Waktu malam dia dikunjungi orang kecil yang mohon supaya diselamatkan, tetapi penindas tidak dapat ditunjuk. Akhirnya dia mengambil pena dan dengan pena itu dia menusuk Gubernur Jenderal Duimer van Twist, dan Havelaar (Eduard Douwes Dekker) kalah dan di-ontslag.” – M.A.W. Brouwer, 1972. *** Tebaran bau busuk dari dua lokasi hotel mewah, simbol kejayaan gerak pemasaran-global dan globalisasi gaya hidup dari barat ke timur. Lantaran brand JW Marriott & Ritz Carlton mewakili makna (ideologi) tertentu yang dibenci kalangan tertentu penganut ideologi lain lagi, maka tidak peduli siapapun manusia yang ada di situ pada saat itu – karena mereka hanyalah sekedar jadi bumbu penguat-rasa pengejawantahan narasi busuk para actor intellectuales – diumbarlah nafsu kuasa lewat manusia robot “teroris-bom-bunuh-diri”. Rentetannya, ikon pemasaran global sport-entertainment Manchaster United pun akhirnya urung menggelar aksinya di Senayan. Beberapa kawan coba menghibur diri, "Yeah, akhirnya timnas kita bisa mengalahkan MU...dengan walk-out!". Panitia hanya bisa gigit jari, calon penonton kecewa, sang jenderal terbang menemui juragan MU demi unjuk keseriusan dan meredam kejengkelan publik. Namun negeri jiran justru tersenyum lebar, bahkan mereka mengundang timnas bertanding di ranah negeri "truly Asia" itu. Seketika Indonesia terposisikan sebagai ranah kebiadaban, "the fake Asia" yang patut dianugerahi travel warning. *** Gegap gempita kampanye pilpres. Tuan Obama sudah ucapkan selamat, walau akhirnya "dikoreksi" bahwa greetings-nya adalah atas keberhasilan menyelenggarakan pemilu damai. Publik masih dibisingkan dengan quick-count yang berlomba menghipnotis massa dan mengarahkan opini publik - sejak sebelum pemilu bahkan sampai setelah hari H lewat. Kebisingan kini lanjut dengan tema lain: apakah teroris bom bunuh diri itu terkait hasil pilpres? sampai-sampai cenayang Mama Lauren pun urun rembug meramaikan pasar opini bersama pengamat politik dan kriminolog. *** Kita kerap diingatkan, sesungguhnya globalisasi juga sebuah rejim yang mengarahkan kita, om-tante, kakak-adik serta anak kita untuk mengonsumsi hal-hal yang seragam. Coba lihat, begitu rejim globalisasi mengarahkan "tongkat-komandonya" dan berkata, "...yang cantik adalah yang putih kulitnya!" Maka berlombalah massa membalur whitening di sekujur tubuhnya. Jika rejim itu mengatakan, "...ingin tampil beda? Pakailah anu, anu dan anu!" Maka berbondong-bondonglah orang menggesek kartu kredit, maju tak gentar berhutang demi tampil beda, bersama-sama dengan ribuan orang yang lain! Hmm...paradoks, bahkan kontradiktif! Tampil beda dengan mengonsumsi barang atau tanda yang sama bersama ribuan, bahkan jutaan orang lain. Lha, dimana bedanya? "Untuk tampil gaul dan tidak ketinggalan jaman, di sinilah tempat sekolahnya!," begitu kira-kira rayuan sebuah lembaga pendidikan yang tampaknya telah bermetamorfosa menjadi "lembaga penampilan" global. Orang seakan berbaris dalam keseragaman budaya konsumsi massa yang dijual lewat "strategi/taktik" differensiasi, demi differensiasi itu sendiri. Yang penting tampil beda, bersama ribuan/jutaan orang lain di dunia yang berdandan identik! Orang "dipaksa" mengonsumsi banyak hal, bukan karena kebutuhannya sesuai nilai-guna. Namun, orang lebih digiring untuk mengonsumsi demi konsumsi itu sendiri, bahkan nilai-tanda jadi prioritas. Bukan soal baju yang bisa menjaga tata nilai kesopanan serta tidak masuk angin, tapi merek apa dulu. Saat ini orang mengonsumsi tanda. Dan demi simbol itu, orang rela membayar dengan pola-gadai-masa-depannya alias kartu kredit. Tanda-tanda itu malah telah jadi jati dirinya. Maka, demi menunjukkan jati diri, perlulah simbol itu ditempelkan. Dan, Anda bisa meraih simbol-simbol itu dengan cepat (instan), jangan buang waktu! Ini jaman serba cepat, time is money! Budaya instan merasuk dan keserbacepatan menjadi paradigma. Ingin cepat masuk surga? Gampang...ini ideologinya, "Ini ranselnya (penuh dengan bom), kemudian ledakkan diri Anda di lobi hotel. Niscaya one-way-ticket ke nirwana ada di tangan Anda. Tidak perlu bersusahpayah belajar, bekerja, berdoa, berani hidup dan bertanggungjawab dengan kehidupan! Cukup berani mati saja!". Ingin dipandang sukses? kenakan saja simbolnya. Juga cari buku dan seminar jadi kaya dengan cepat (karena fulus dan kecepatan adalah paradigma kesuksesan). Tidak ada yang salah dengan jadi kaya, namun kalau cuma fulus dan keserbacepatan yang jadi barometer keberhasilan hidup, betapa kurus-kering dan gersangnya makna hidup. *** Agustus terasosiasi dengan fenomena kemerdekaan. Semoga kita juga terbebas dari penjajahan ekonomi dan ideologis (fundamentalisme, konsumerisme, instanisme, dan lain-lain) yang mereduksi hakekat manusia universal. Yang bakal ikut upacara bendera, jangan lupa jaga kondisi fit agar tidak masuk angin. Bisa muntah-muntah nanti. Merdeka bung! (twitter@andrewenas) ------------------------------------------------------------------ Artikel terlampir, dari Majalah MARKETING edisi Agustus 2009 STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES Email: [email protected]
