(Sharing)


Attraversiamo !


Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)


   Let’s cross over, mari menyeberang (attraversiamo!). Itu adalah kata (bahasa 
Italia) yang dipilih Liz (diperankan Julia Roberts) sebagai identitasnya dalam 
‘Eat, Pray, Love’, film yang diangkat ke layar perak dari novel Elizabeth 
Gilbert. Novel ini semacam memoir pengarangnya sendiri. Untuk berhasil dalam 
hidup (yang artinya hidup penuh makna) de facto manusia menjalaninya dalam 
proses pencarian jatidiri (identitas) dalam situasi paradoksal (semacam 
tegangan) antara kepastian dan ketidakjelasan (situasi
 samar-samar). Dan modal 
utama untuk memenuhi panggilan hidup itu adalah keberanian berlayar 
menyeberang. 
Ada apa di seberang? Belum tahu persis, tapi akan kita beritahu setelah nanti 
tiba di seberang! Adventurous. 

***

   Tantangan terbesar ekonomi internasional kita tahun ini adalah defisit 
dagang 
dengan Chinayangkian lebar.  Awal 2011 ini, genap setahun pelaksanaan pasar 
bebas ASEAN-China alias ASEAN-China Free Trade Agreement (AC-FTA). Hasilnya, 
serbuan barang impor terutama dari China membanjiri pasar domestik kita.Badan 
Pusat Statistik (BPS) mencatat, periodeJan-Nov 2010, neraca perdagangan sektor 
non-migas Indonesia dengan China defisit US$ 5,32 miliar (Tahun 2009 minusUS$ 
4,29 miliar). Defisit dengan China saat ini adalahyang terbesar dibandingkan 
relasi dagang bilateral kita dengan negara-negara lain.

   Defisitnya neraca dagang dengan China membuktikan industri lokal
 belum mampu 
bersaing dipasar bebas. Walau kualitas produk Indonesia lebih baik ketimbang 
produk China, tapidi ujung kerucut yakni faktor harga yg murah telah membuat 
produk China lebih kuatmerajai lapak.China Incsanga piawai mengekspor barang 
jadi, sementara kita masih mengekspor barang mentah. Makanya, demi mengurangi 
defisit dagang dengan China, kita mesti mendongkrak daya saing produk lokal 
dengan lebih banyak mengekspor barang jadi dan setengah jadi dengan harga 
kompetitif.

   High cost economy jelas musuh nomor satu. Akarnya adalah praktek pungutan 
liar dan korupsi yang endemik, pelayanan publik buruk serta patahnya kepastian 
hukum. Ongkos logistik menggila, Indonesia mutlak butuh infrastruktur 
transportasi (barang dan orang) agar arus pergerakannya lebih efektif dan 
efisien. Ujungnya, supaya pasar Indonesia tak roboh diserbu produk China, 
pemerintah mesti turun tangan mengefektifkan
 perlindungan pasar dalam negeri, 
paling tidak untuk sementara waktu. Tak ada pilihan lain,segeralah dongkrak 
daya 
saing industri lokal agar tidak kian tergilas dalam era AC-FTA. Sebab bukan 
hanyadengan China, perdagangan Indonesia juga defisit terhadap sejumlah negara 
ASEAN. Dengan Thailand (periodeJan-Nov2010) neraca dagang kita minus 
US$ 3,12 miliar,dengan Singapura minusUS$ 460 juta.

***

   Sementara itu fenomena tekanan kenaikan harga pangan di dalam negeri telah 
membuat ketar-ketir segenap apparatus negara (yang masih peduli). Soal perut 
(hirarki kebutuhan dasar Maslow lapis pertama) memang cukup membuat pening 
kepala. Menurut Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu(Kontan, 5 Jan 2011), 
ada 
tiga problema yang jadi pemicu lonjakan harga pangan. Pertama, tekanan kenaikan 
harga komoditi pangan internasional terhadap harga di pasar lokal. Kedua, 
anomali cuaca yang terjadi sepanjang tahun
 2010 sehingga mengganggu produksi. 
Akibatnya, pasokan ke masyarakat juga terhambat. Ketiga, distribusi bahan 
pangan 
terganggu akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Menteri Pangestu 
menambahkan, 
masalah kenaikan harga komoditi pangan adalah fenomena global yang tidak hanya 
dialami Indonesia saja.

     Yang janggal adalah dari ketiga faktor penyebab yang dilansir pemerintah 
semuanya lantaran faktor eksternal (pasar internasional, dan cuaca yang 
mengganggu produksi serta distribusi pangan). Blame it on the rain! (salahkan 
hujan/cuaca). Sayang, dari gesture ini tak terdeteksi sikap determinasi diri 
yang mature dan bertanggungjawab.

***

   Belajar dari studi yang dilakukan Ian Bremmer (bukunya: The End of The Free 
Market: Who Wins the War Between States and Corporations?, 2010) perlunya 
pemerintah negara berkembang menggenjot instrumen ekonominya (mis: BUMN) untuk 
jadi alat
 kapitalis negara (state-capitalism) yang efektif membela kepentingan 
politik suatu bangsa. Ujar Bremmer, “In this system, governments use various 
kinds of state-owned companies to manage the exploitation of resources that 
they 
consider the state’s crown jewels and to create and maintain large numbers of 
jobs. They use select privately owned companies to dominate certain economic 
sectors. They use so-called sovereign wealth funds to invest their extra cash 
in 
ways that maximize the state’s profits.” Dan dalam tiga kasus itu, “the 
ultimate 
motive is not economic (maximizing growth) but political (maximizing the 
state’s 
power and the leadership’s chances of survival)”. Ini adalah bentuk dari sistem 
kapitalisme juga, namun dimana negara justru bertindak sebagai pelaku ekonomi 
yang dominan serta memanfaatkan pasar terutama demi kepentingan politis bangsa. 

   Jalan pembenahan pelbagai
 instrumen ekonomi kita memang masih panjang dan 
berliku (dari sisi model-bisnis, profesionalisme, efektivitas dan efisiensi 
manajemen, maupun dari kemauan politik yang ada). Namun bukan berarti kita 
bakal 
diam dan berputar dalam lingkaran setan (sambil terus menyalahkan cuaca, blame 
it on the rain!). Identitas negara-bangsa (dengan perasaan bangganya) semakin 
tergerus oleh derasnya gesekan gerak globalisasi. Marilah ambil sikap berani 
menyeberang dari situasi stale-mate ini. Ada resiko memang, namun berlayarlah 
juga. Attraversiamo!



(twitter@andrewenas)
-----------------------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING edisi Feb.2011



STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke