<*>[Attachment(s) from Strategic Management Services included below]

(Sharing)


Global Resources: Medan Perang Masa Depan?

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)


“Food, water, energy, and metals: Keep up the supply of those four essentials, 
throw in some clean air and a peaceful disposition, and – short of a 
Hollywood-style ‘2012’ cataclysm – the world will run smoothly forever. That’s 
the theory, anyway, for the twenty-first century optimists. The reality is that 
a secure supply of the first four essentials is far from assured.” – Geoff 
Hiscock, Earth Wars: The Battle for Global Resources, 2012.

***

    Gonjang-ganjing soal kedele, bahkan ada yang sampai bilang, “Masa sih 
negeri tempe masih mengimpor kedele?” Namun begitulah kenyataannya. Dalam 
pertimbangan strategis, pertanyaannya jadi: apakah saat ini Indonesia bisa 
menghentikan impor kedele? Dan dalam jangka panjang apakah Indonesia perlu 
swasembada kedele? Begini latar belakangnya: tahun ini konsumsi (demand) kedele 
kita sekitar 2,5 juta ton, sedangkan produksi kedele lokal (supply) hanya 
sekitar 700 – 800 ribu ton saja. Jadi ada defisit pasokan sebesar 1,7 – 1,8 
juta ton per tahunnya. Jadi Indonesia memang perlu mengimpor kedele demi 
memenuhi kebutuhan konsumsi lokalnya. Lalu apakah kita bisa menghentikan impor 
kedele, jawabnya tentu bisa saja, asal seketika kita juga mau mengubah pola 
konsumsi dengan mengurangi secara drastis asupan yang mengandung kedele (tempe, 
tahu, dll). Lalu pemerintah memang mengunci impornya.

     Konsekuensinya, dalam masa transisi ini harga kedele lokal akan sangat 
mahal akibat kecilnya supply dibanding demand-nya. Apakah solusi ini realistis 
dan workable? Mengingat produk-produk turunan kedele (misalnya ampas kedele) 
juga dibutuhkan untuk pakan ternak yang daging dan susunya sangat dibutuhkan 
dalam rangka meningkatkan asupan protein bagi rakyat. Kalau produk turunan ini 
jadi mahal, maka secara overall, ongkos asupan protein bagi bangsa juga naik 
tinggi sekali. Dampak inflatoir bakal melambung lepas kendali.

     Soal swasembada kedele. Dengan produktivitas lahan di Indonesia yang 
ditanami kedele cuma  sekitar 800 kg sampai 1 ton per hektarnya tentu tidak 
bakal bisa melawan efisiensi akibat produktivitas kedele yang ditanam di USA 
yang bisa mencapai 5 ton per hektar! Sehingga di titik ini seyogianya kita 
segera berpikir ulang menyusun blue-print ketahanan pangan bangsa. Bijaksana 
memilih komoditas-komoditas pangan utama yang memang memiliki nilai keekonomian 
tinggi untuk menang bersaing dalam konteks global. Pelaku usaha (swasta maupun 
BUMN) mesti didukung penuh ekstensifikasi maupun intensifikasinya.

***

     Di bidang energi PR kita juga berjibun. Ketahanan bangsa di bidang energi 
masihlah sangat lemah. Keprihatinan ini sudah dibahas di pelbagai forum, media 
dan jurnal ilmiah.

     Dalam ulasan kritisnya,  Geoff Hiscock (Earth Wars: The Battle for Global 
Resources, 2012) menjelaskan, lantaran kemajuan pembangunan di India dan China 
yang jumlah kombinasi penduduknya mencapai 2,5 miliar orang, juga dengan 
kecepatan pertumbuhan ekonomi di kisaran 7% - 10% telah dan bakal terus makin 
menyedot sumber-sumber daya energi, pangan, metal, dan air bersih. Ini demi 
menjamin kelangsungan pertumbuhan tinggi (ekonomi berbasis industri dan 
agrikultur) mengejar kesetaraan posisi dengan negara-negara di Amerika Utara, 
Jepang dan Eropa (barat). Perlombaan untuk mengamankan pasokan mineral langka 
(rare-earth) misalnya, telah merambah ke kancah mondial. Perusahaan tambang dan 
mineral mereka telah menancapkan kukunya bahkan sampai ke Amerika.

     Faktor lain yang memicu India dan China meningkat agresivitasnya di kancah 
perebutan sumber daya global adalah pertumbuhan kelas menengahnya. Ini 
menciptakan demand yang tinggi untuk kendaraan bermotor, ditambah lagi 
pertumbuhan cepat di negera-negara berkembang tier kedua seperti:  Mexico, 
Brazil, Russia, Indonesia, Turki, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Thailand.

     Ada ratusan juta orang juga yang telah berhasil dientaskan dari kemiskinan 
di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Pengentasan ini telah memampukan mereka 
bukan hanya membeli makanan primer (pokok), tapi juga makanan sekunder 
(tambahannya). Peningkatan taraf hidup di pelbagai negara ini juga berarti 
peningkatan konsumsi makanan dan air bersih. Akibatnya penggunaan pupuk juga 
naik, dan ini menambah kekhawatiran bahwa pangan dan air bakal semakin menjadi 
langka (scarcity).

     Ditengarai bahwa konflik perbatasan dan ambisi teritorial di beberapa 
negara telah ditunggangi oleh kekuatan-kekuatan besar yang bermaksud menguasai 
cadangan-cadangan minyak. Negara pengguna sumber energi terbesar seperti China, 
USA, India, Russia dan Jepang sangatlah concern dengan keamanan jalur laut yang 
dilewati kapal-kapal penyuplai sumber energi mereka. Ada sekitar 70 persen 
perdagangan dunia melintas di samudera Hindia di antara Timur Tengah dan Asia 
Pasifik. Seperempat perdagangan minyak mentah dunia melewati Selat Malaka yang 
panjangnya 800 kilometer diantara Sumatera dan semenanjung Malaysia. Jalur ini 
lalu menyempit di Selat Singapura yang cuma berjarak 2,4 kilometer lebarnya, 
dan selat ini merupakan pintu masuk ke laut China Selatan.

      Semua concern tentang keamanan jalur-jalur pasokan ini ikut mendorong 
upaya-upaya diversifikasi tempat dimana sumber daya ini diperoleh. Maka 
Indonesia, Afsel, negara-negara Asia Tengah seperti Kazakhstan, Tajikistan, 
Kyrgystan, Uzbekistan, Turkmenistan, sampai perairan Arctic merupakan sasaran 
kepentingan investasi perusahaan minyak dan pertambangan dunia.

***

     Di tengah perlombaan pengamanan pasokan energi, pangan, metal dan air 
bersih global, kita berharap Indonesia Incorporated bisa segera mengentaskan 
dirinya dari urusan non (bahkan kontra) produktif seperti soal SARA, 
fundamentalisme agama, dan kesibukan di kantor KPK. Sehingga para perencana 
pembangunan, state apparatus, strategists dan eksekutif di korporasi swasta 
maupun BUMN bisa mengerahkan usahanya demi juga mengamankan sumber-sumber daya 
energi, pangan, metal dan air bersih di segala penjuru bumi. Ini yang bakal 
menjamin survival kita di medan perang masa depan.




(twitter@andrewenas)
---------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING edisi September 2012



STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: strategicmanagementservices

<*>Attachment(s) from Strategic Management Services:


<*> 1 of 1 File(s) 
http://groups.yahoo.com/group/biznett/attachments/folder/704307194/item/list 
  <*> Global

------------------------------------

Mari bertukar informasi soal bisnis ! Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/biznett/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/biznett/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke