<*>[Attachment(s) from Strategic Management Services included below] (Sharing)
Tatapan Dewa Janus Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA. (twitter@andrewenas) Konon orang Romawi kuno melakukan pemujaan pada Dewa Janus demi memohon bantuannya supaya masa depan mereka jadi lebih baik dibanding masa lalu. Dewa berkepala dua ini memandang ke dua arah, depan dan belakang sekaligus. Kepala yang satu berjanggut lebat (seperti Fidel Castro) dan melongok ke belakang, memeriksa cermat dan obyektif ke masa lalu. Kepala satunya lagi klimis (laksana model iklan Gillette Goal) dan memandang ke depan, menjelang masa yang akan datang dengan percaya diri. Buat orang Romawi kuno, karena dewa ini dipuja untuk membuka tahun yang baru, maka namanya dipatri sebagai nama bulan pembuka tahun: Januari. Di Januari adalah momen yang pas buat kita merenung dan belajar dari peristiwa-peristiwa sejarah kita masing-masing maupun bersama untuk merengkuh energi dan inspirasi demi menjelang masa depan dengan penuh harapan dan optimisme. *** Di dorong oleh tekanan kompetisi domestik di negaranya masing-masing, akhirnya Dome Coffees dari Australia dan Starbucks dari Amerika berangkat melanglangbuana dan menabuh genderang Global Marketing Warfare di padang kurusetra di mancanegara. Dalam perjalanannya ndilalah keduanya berjumpa muka temu muka di Citos (Cilandak Town Square) sebuah mal perbelanjaan popular di kawasan Cilandak Jakarta Selatan yang didesain menyerupai cat-walk raksasa, tempat orang melihat dan dilihat oleh orang-orang lain. Memang seperti diajarkan mahaguru pemasaran global, Masaaki Kotabe dan Kristiaan Helsen (Global Marketing Management, 2004), gerak pemasaran global didorong oleh – paling tidak – empat soal: 1) Saturation of Domestic Markets. Pasar domestik jenuh, maka mari kita meregang horison pemasaran sampai ke negara tetangga, bahkan lintas benua. 2) Global Competition. Para pengamat sering bilang, “if you’re not going global, globalization will come to you!”. Ya, akhirnya toh kita menyadari, isu globalisasi bukan soal pilihan, tapi lebih merupakan imperatives. 3) Need for Global Cooperation. Ini uniknya, kompetisi-global juga sekaligus membawa kooperasi-global. Misalnya – demi efisiensi – proses pengembangan produk (atau komponen dari produk akhir) tidak lagi dikerjakan sendiri, namun dikerjakan bersama-sama kompetitor globalnya. Industri teknologi informasi Jepang seperti Toshiba dan Sony telah bergandengan dengan raksasa pembuat komputer IBM untuk mengembangkan advanced semiconductor processing technology bagi chips generasi mendatang. 4) Internet Revolution. Setelah mencapai angka miliaran penduduk bumi yang punya akses internet, kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap fenomena internet ini, dan kekuatan pengaruhnya. Proliferasi internet dan e-commerce membawa perubahan signifikan dalam perlbagai pemilihan model-bisnis. *** Dome Coffees maupun Starbucks berada dalam kancah rivalitas yang semakin hebat di negara masing-masing. Sebagian juga mungkin “dipaksa” oleh kewajibannya untuk terus bertumbuh (growth), maka – manakala pasar domestik dianggap telah jenuh – mereka mengayunkan langkah ke pasar internasional. Keduanya bisa saja cuma memandang ke masa lalu, saat di mana mereka masih merajai pasar domestiknya masing-masing, bangga. Tapi ternyata, konsekuensi globalisasi merambah halaman belakang mereka juga. Untungnya mereka tidak terbelenggu dengan “kejayaan masa-lalu” dan malah bangkit menantang the new frontiers. Dinamika dalam kancah persaingan bisnis (business-landscape) terus bergeser. Intensitas persaingan yang semakin tinggi membuat pasar domestik makin pekat. Lalu orang pergi bertarung di luar negeri. Dan demi memperkuat rantai-nilai perusahaan masing-masing, secara kreatif mereka melakukan coopetition (competition and cooperation sekaligus). Akhirnya, teknologi – sebagai change-driver terpenting saat ini – membuktikan sekali lagi kritikalitasnya untuk dicermati betul oleh para professional. Kita punya kebanggaan Majapahit, Sriwijaya, Padjadjaran dan Demak. Banyak inspirasi bisa digali dari situ, bukan untuk tenggelam di masa lalu, tapi untuk kembali ke masa depan (back to the future). Fakta hidup masa kini kita adalah sekaligus membawa masa lalu, tapi mengarah ke masa depan. Para pemimpin (bisnis maupun politik) memasuki Januari ini dengan tatapan Dewa Janus yang ganteng-klimis, karena kita adalah milik masa depan. Sekali lagi, selamat tahun baru 2008. Majulah Indonesia! (twitter@andrewenas) ---------------------------------------------------------------------------- Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Januari 2008 STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES Email: [email protected] <*>Attachment(s) from Strategic Management Services: <*> 1 of 1 File(s) http://groups.yahoo.com/group/biznett/attachments/folder/537131844/item/list <*> 01 ------------------------------------ Mari bertukar informasi soal bisnis ! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/biznett/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/biznett/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
