(Sharing)


Restrukturisasi Sentra Produksi Global

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA. 
(twitter@andrewenas)


“Globalization is such a diverse, broad-based, and potent force that not even 
today’s massive economic crash will dramatically slow it down or permanently 
reverse it. Love it or hate it, globalization is here to stay.” –
 Moises Naim, dalam “Think Again: Globalization”, Foreign Policy, March/April 
2009.

***

   Sebuah perusahaan tekstil dan garmen asal Korea Selatan, Sae-A, diberitakan 
sedang membangun pabriknya di atas tanah seluas 60 hektar di kawasan Jatiluhur, 
Jawa Barat dengan
 nilai investasi sebesar 200 juta dolar. Proyek ini adalah untuk menunjang 
rencana ekspansinya di pasar Indonesia. Pabrik ini diperkirakan nantinya  bakal 
menampung sekitar 15 ribu pekerja. Di sisi lain, fenomena sebaliknya terjadi. 
Dilaporkan (Jakarta Post, Feb 12, 2010) bahwa PT Sriboga Raturaya (penghasil 
tepung terigu) mengancam pemerintah untuk memindahkan pabriknya ke Australia. 
Di samping PT Sriboga Raturaya ada 2 perusahan terigu lain yang juga mengajukan 
petisi keberatan atas dugaan praktek dumping yang dilakukan produsen terigu 
dunia, yakni PT Eastern Pearl FM dan PT Panganmas. 

   Sekedar perspektif, data FAO (2007) menunjukkan bahwa 10 besar produsen 
gandum dunia adalah (dalam jutaan metrik ton): China (109), India (76), USA 
(56), Rusia (49), Perancis (33), Pakistan (23), Jerman (21), Kanada (20), 
disusul Turki (17) dan Argentina (16). Walaupun tidak termasuk 10 besar dunia,
 Australia juga termasuk salah satu sentra produsen gandum global. Disinyalir 
bahwa terigu import dari Turki dan Australia dijual dengan taktik dumping. 
Tentu Aptindo (Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia) protes keras. 

   Tepung terigu adalah “komoditi” yang bukan produk lokal lantaran gandumnya 
impor. Jadi yang disebut kandungan lokal ya cuma proses penggilingannya saja. 
Hasil investigasi tim KADI (komite anti-dumping Indonesia) menyatakan gandum 
asal Turki memang dijual dengan taktik dumping, sehingga bakal dikenakan 
tambahan bea masuk anti-dumping (BMAD) sebesar 18,69%-21,99%. Sedangkan 
investigasi atas terigu asal Australia tidak bisa dibuktikan adanya praktek 
dumping, sehingga tidak dikenakan BMAD.
  
  Dengan dinamika lingkungan global yang semakin intens, maka posisi daya saing 
dari setiap determinant-factors seperti yang dijelaskan Prof.Michael Porter 
(The Competitive Advantage of Nations, 1990) mestilah
 terus dicermati. Lantaran konstelasi dari factor-conditions, 
demand-conditions, related & supporting industries serta firm-strategy, 
structure & rivalry bisa saja telah mengalami perubahan signifikan akibat 
inisiatif strategis yang diambil aktor bisnis maupun pemerintah mancanegara. 
Dampaknya terhadap bisnis-model setiap korporasi di suatu negara juga akan 
cukup pekat. Para pemimpin bisnis dituntut untuk punya radar yang cukup peka 
dalam mendeteksi sinyal perubahan yang mungkin saja berdampak langsung maupun 
tidak langsung terhadap organisasi yang diurusnya.

  Untuk kasus pabrik tekstil Korea yang memindahkan sentra produksi ke 
Indonesia demi mendekati pasar - karena memang Indonesia dijadikan sasaran 
pasar - adalah jelas dimaksudkan untuk mempertinggi posisi daya saing. 
Pertimbangan biaya-logistik (supply-chain-costs) tentu imperatif untuk maksud 
ini. Sementara aspek tenaga kerja murah - saat ini - sudah menjadi relatif 
terhadap
 kondisi lain seperti produktivitas, infrastruktur, previlege, dan insentif 
maupun program stimulasi lainnya dari pemerintah.

  Kasus kedua, pabrik tepung terigu jadi menarik lantaran sesungguhnya 
Indonesia adalah importir biji gandung - bahan komoditas untuk kemudian 
digiling menjadi tepung terigu. Boleh dibilang Indonesia tidak menghasilkan 
gandum - kalaupun ada, volumenya kecil sekali. Jadi di hulu tidak ada 
kepentingan petani gandum lokal, dan industri turunannya (pembuat roti, kue, 
gorengan, dan lainnya, dalam skala besar, menengah atau kecil, dan mikro) tidak 
peduli dari siapa mereka bisa membeli terigu. Yang penting mereka bisa dapat 
terigu dengan kualitas yang cocok dengan harga paling murah, demi meningkatkan 
daya saing melalui perbaikan cost-structure. Efisiensi adalah kata kuncinya. 
Sehingga, yang tinggal adalah kepentingan di hulu, yakni para importir dan 
penggiling gandum serta penjual terigunya.

  Dengan telah
 ditinggalkannya pola bisnis monopolitik-kolusif gaya Orba, memang konstelasi 
industri gandum-terigu ini - juga industri lainnya - sedang terimbas dampak 
restrukturisasi sentra-sentra produksi dan distribusi (supply-chain) dunia 
sampai nantinya tercapai titik ekuilibrium dalam efisiensi dan efektivitas 
produksi dan perdagangannya secara mondial.

***

  Adalah suatu kenyataan gejala globalisasi - yang menurut David Held berarti: 
" widening, deepening and speeding up of worldwide interconnectedness in all 
aspects of contemporary social life" - terus meruyak ke stiap sendi kehidupan 
masyarakat di mana pun (dimensi spatio-temporal). Dan krisis ekonomi dunia yang 
terjadi tidaklah bakal menghambat kesibukan antarbangsa, bahkan - menurut 
Moises Naim - sangat mungkin malah akan melipatgandakannya. Dan di dalam 
ekspansi gerakan internasionalisasi ini, peran negara dan identitas kebangsaan 
(nasionalisme) tidaklah meluntur - seperti yang selama
 ini diadvokasi kaum neoliberal. Bahkan, Moises Naim menyimpulkan bahwa pada 
ujungnya, "Nationalism never disappeared. Globalization did not lessen national 
identities; it just rendered them more complex. Even in a Bill Gates era, 
today's Otto von Bismarck still wield great power. Globalization and 
geopolitics coexist, and neither is going anywhere."

  Nampaknya korporasi dan negara mesti tetap berkolaborasi - bukan berkolusi! - 
satu sama lain - terekspresi dalam Indonesia incorporated. Kolaborasi 
berspektrum luas berdasar summum bonum (kebaikan tertinggi) demi mencapai 
bonnum commune (kebaikan bersama) penghudi planet bumi.




(twitter@andrewenas)
----------------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah
 MARKETING edisi Maret 2012


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke