(Sharing)


Pendidikan dan Pelatihan untuk People Champion


Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)


   Sebagai pebisnis mesti berpikir strategis dan jauh ke depan. Tidak cuma hit 
and run atau mengandalkan KKN, tapi berpikir strategis, jangka panjang, dan 
menjunjung tinggi professionalisme. Serta,
 ini yang penting, mau bayar harga, yakni dengan bersusah-payah membangun 
kompetensi organisasi.

   Kalau Anda percaya SDM adalah kuncinya, maka seperti ditulis Alex Yong dalam 
bukunya: Strategic HR, Invent and Innovate, ada empat peran yang dimainkan 
strategic human resource (HR), yakni:

1. SDM sebagai mitra bisnis;
2. Sebagai pemicu/pemrakarsa perubahan (change triggers);
3. Sebagai pembela orang dalam organisasi (people
 champion);
4. Sebagai administratur atau kepersonaliaan (personnel administration).

  Berkaitan dengan soal pelatihan dan pendidikan, mari kita soroti peran HR 
yang ketiga, yakni sebagai people champion. 

  Tujuan peran ini adalah demi memastikan bahwa setiap orang dalam organisasi 
bisa berdampak positif dan signifikan bagi bisnis (people impact). Untuk itu 
ada tiga hal yang perlu Anda  tekadkan dan lakukan: 

   1) Kepemimpinan SDM (human resources leadership);
   2) Membangun kemampuan strategis (building strategic capabilities);
   3) Mengelola modal manusia dan budaya (managing human capital and cultures)

   Pelatihan dan pendidikan karyawan menjadi faktor krusial demi mencegah 
stagnannya kinerja dan turunnya produktivitas. 

   Manusia pada dasarnya berkeinginan mencapai hasil yang lebih baik dari waktu 
ke waktu (achievement
 motivation).

   Secara pribadi, setiap karyawan ingin berkembang, baik keterampilan maupun 
pengetahuannya. Sehingga, sikapnya terhadap lingkungan pekerjaan pun jadi 
positif-kondusif. Pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap 
(attitude) adalah tiga unsur pembentuk kompetensi.

   Maka, letakkan fungsi pelatihan dan pendidikan karyawan dalam konteks 
strategi organisasi. Jangan cuma sporadik atau sekedar menghabiskan anggaran 
pelatihan! 

   Banyak organisasi bagus seperti Citibank, GE, dan Motorola merekatkan fungsi 
pelatihan dan pendidikan dalam rencana pengembangan karier karyawan. 
(career-development plan). Bahkan mereka membangun lembaga pengembangan 
manajemen sendiri.

   Di tingkat lokal, bisa pula kita sebut beberapa perusahaan yang menempuh 
strategi serupa. Diantaranya, Telkom, Astra, dan Bank Niaga. Juga beberapa yang 
baru mulai, seperti Garudafood, Kalbe, dan SMART,
 boleh juga kita pantau sebagai bahan pembelajaran.

   Memang, akhirnya seorang pelaku strategic HR mesti paham misi bisnis 
organisasi, mampu menterjemahkannya ke dalam detail rencana, serta 
mengeksekusinya.

   Kualifikasi lainnya adalah, mampu melihat apa kepentingan fungsi-fungsi 
lain, dan mengharmonisasi semua itu sebagai unsur biaya (cost and expenses) 
dari suatu sistem. Ini dalam konteks pencapaian sosial-ekonomis yang paling 
optimal dan etis.

   Membangun kompetensi karyawan sama dengan membangun kompetensi organisasi.

   Organisai yang kompetenlah yang bakal bertahan dan sukses di era pertarungan 
global. Istilah Charles Darwin: survival of the fittest! Yang bertahan bukan 
the biggest, melainkan yang paling fit, yakni yang paling cocok dan 
kompetensinya pas untuk menghadapi tantangan seleksi zaman.

   Sebagai penutup saya ingin mengingatkan, banyak yang mengatakan,
 "Orang adalah aset terpenting perusahaan." Saya ingin koreksi sedikit, bahwa 
orang bukanlah aset terpenting perusahaan, tapi semestinya, "Orang yang tepat 
adalah aset terpenting perusahaan." Not all people, but only the right people 
are the most important asset to the company.

   Bersiaplah untuk sukses!




(twitter@andrewenas)
-----------------------------------------------------------------------
Artikel terlampir, dari Tabloid Bisnis KONTAN edisi khusus Mei 2007


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke