(Sharing)


Mempertahankan Kinerja Tinggi Organisasi

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)


     Perkembangan bisnis membawa konsekuensi bakal banyak order yang tak 
tertangani dengan baik (terbengkalai). Pertumbuhan jumlah karyawan nampaknya 
telah menjadi dampak susulannya. Organisasi berkembang dan
 pembagian tugas serta distribusi pekerjaan mulai dilakukan. Ada yang bekerja 
di bagian produksi/workshop, penjualan & pemasaran serta administrasi keuangan 
dan personalia. Tantangannya, banyak pengusaha yang belum berani untuk menambah 
karyawan karena ini akan menambah biaya tetap (fixed-costs). 

 
    Maka demi meningkatkan kinerja, beberapa perusahaan juga aktif mengirim 
staff dan karyawan ke beberapa program seminar motivasi. Hasilnya lumayan, 
sekembalinya mereka dari program ini memang semangatnya terbakar luar biasa, 
namun sayangnya kerap tidak bertahan lama, dalam suatu kurun waktu kinerjanya 
kembali memburuk. Lalu bagaimana jalan keluarnya?

     Program seminar motivasi yang marak diselenggarakan pelbagai pihak memang 
bagus untuk menimba inspirasi (lewat isi ceramah, dan terutama gaya bicara dan 
suasana yang sengaja dibangun lewat alat bantu audio-visual), lagipula event 
seminar juga bisa jadi ajang untuk mengembangkan jejaring (networking) yang 
efektif. Persoalannya adalah bagaimana menjaga momentum semangat yang telah 
dipicu saat mengikuti program-program motivasi itu. 

     Prinsipnya adalah, benih pohon yang bagus seyogianya ditanam dan dirawat 
di tanah yang
 bagus. Artinya, selain faktor orang yang memang sudah bagus dari sisi 
pengetahuan, keterampilan dan sikap kerjanya (knowldege, skill & attitude), 
maka lingkungan kerja (sistem), dan pembinaan kepemimpinan pun perlu digarap 
dengan sungguh-sungguh dan kontinyu.

     Salah satu cara membangun sistem adalah dengan dengan menerapkan manajemen 
kinerja (performance management) yang penting untuk menetapkan dan mengukur 
prestasi kerja seluruh bagian dalam organisasi.

     Manajemen kinerja (performance management) akan mengintegrasikan 
sasaran-sasaran perusahaan, individu, dan kelompok (team). Ia juga membantu 
mengkomunikasikan sasaran (visi) itu dan sekaligus menyokong pembentukan 
nilai-nilai inti (core values) suatu organisasi. Maka dengan menerapkan 
manajemen kinerja, Pak Handoko juga berpeluang untuk melakukan perubahan 
kultural dan perilaku organisasi. Pendelegasian wewenang juga
 terarah, dan pimpinan bisa memfokuskan diri untuk pengembangan usaha lebih 
lanjut.

     Kriteria supaya penerapan manejemen kinerja dalam organisasi bisa sukses, 
seperti dijelaskan Michael Armstrong dalam bukunya ‘Performance Management’ 
(2004) disebutkan di antaranya: kejelasan tentang apa yang disebut kesuksesan 
dalam organisasi itu; kepemilikan dan komitmen manajemen tingkat atas dan 
tingkat lini; staf percaya bahwa prosesnya konsisten dan adil dalam kaitannya 
dengan kontribusi dan kemampuan; kecocokan kultural – proses yang tepat dan 
pengembangan gaya manajemen; proses bersama dalam manajemen strategis 
(manajemen lini dilibatkan dalam perumusan sasaran bersama organisasi); tingkat 
ketrampilan yang tinggi yang dimiliki manajer dan individu dalam menetapkan 
akuntabilitas dan kompetensi, penentuan sasaran dan ukuran kinerja dan 
kontribusi; serta seorang kepala SDM yang memainkan peranan
 utama dan inovatif memastikan bahwa kondisi-kondisi ini dipuaskan dan 
dipelihara.

     Secara sederhana, kerangka kerja manajemen kinerja bisa digambarkan 
terdiri dari: 

    1. Sasaran dan strategi perusahaan (visi, misi dan target departemen usaha)
    2. Rencana kinerja (performance plan) yang disepakati bersama (kesepakatan 
akuntabilitas, tugas sasaran, pengetahuan, keterampilan dan perlunya kompetensi 
serta ukuran-ukuran kinerja, kesepakatan atau kontrak kerja).
    3. Pelaksanaan manajemen kinerja
    4. Melakuan kajian (review) terhadap kinerja formal
    5. Pengembangan dan pelatihan yang didorong oleh kajian kinerja
    6. Penilaian kinerja
    7. Upah atau penghargaan berdasarkan kinerja

     Dengan melaksanakan secara konsisten dan persisten manajemen kinerja ini,
 besar harapan motivasi kerja para karyawan akan lebih terawat panjang. Karena 
lingkungan kerja (sistem manajemen) secara konsisten terasa lebih mendukung dan 
menghargai jerih payah mereka. Apalagi jika sang pemimpin bisa mengembangkan 
bisnisnya terus menerus (business development) sehingga jenjang karir 
orang-orang yang kompeten dan loyal di perusahaan bisa terbuka luas. Tugas 
pemimpin memang membuka horison harapan terbuka luas dan cerah, serta membawa 
dan menyiapkan orang-orangnya berjalan bersama menjelang masa depan penuh 
harapan. 

Membangun Tim Kerja yang Efektif

     Setelah melengkapi organisasi dengan jumlah karyawan yang cukup banyak. 
Pembagian dan distribusi tugas ke setiap bagian dilakukan, maka sebetulnya 
beberapa kelompok kerja telah tercipta. Yang menjadi persoalan sekarang adalah 
bagaimana bisa mengelola efektivitas setiap kelompok kerja ini, sehingga 
akhirnya
 organisasi secara keseluruhan pun bisa efektif pula?

     Bisnis yang semakin berkembang memang telah membuktikan bahwa intuisi 
bisnis sang pemimpin sangat tajam dalam mendeteksi peluang usaha. Tinggal 
sekarang bagaimana mengelola organisasinya, sehingga menjadi organisasi yang 
efektif. Pertanyaan pertama yang perlu dijawab adalah, apa sih yang disebut 
kelompok kerja efektif?

     Kelompok efektif adalah kelompok kerja yang berhasil mencapai performa 
tingkat tinggi dalam hal: 1) kinerja tugas (task performance), dan 2) perawatan 
 
sumber daya manusia (human resource maintenance). Keduanya adalah 2 sisi dari 
satu kepingan yang sama.

     Bagaimana kita bisa memantau apakah suatu kelompok (group) bakalan efektif 
dalam kedua dimensi (task performance & people maintenance) itu? Prof. Jack 
Maxwell Wood, dkk., (bukunya: Organizational Behaviour, An Asia-Pacific
 Perspective, 1998) menyebutkan 8 aspek yang perlu dicermati:

    1. Setiap anggota kelompok loyal terhadap anggota lainnya dan terhadap 
pemimpinnya. Loyal artinya tetap setia – pada tugas, kewajiban, janji - 
meskipun rekan atau pemimpinnya sedang tidak bersama mereka. Tidak ada gossip 
di belakang punggung.

    2. Anggota kelompok dan para pemimpinnya punya rasa percaya diri tinggi dan 
menaruh kepercayaan satu terhadap lainnya. Orang percaya diri akan berani 
mendelegasikan dan melakukan empowerment. Orang yang tidak percaya diri, juga 
tidak akan mempercayai orang lain. Dan biasanya hampir semua aspek pekerjaan 
akan dikuasainya sendirian secara semena-mena. Takut nanti anak-buahnya lebih 
maju.

    3. Setiap anggota kelompok punya keinginan kuat untuk saling membantu demi 
mengembangkan potensi masing-masing secara optimal. Tadi, pemimpin yang 
berhasil membangun
 rasa percaya diri anggota kelompoknya, maka anggota akan mempunyai mentalitas 
limpah-ruah (abundance mentality). Yang melihat bahwa kesempatan untuk 
berkembang di dunia ini terbuka lebar  dan tidak akan habis dikonsumsi 
sendirian dalam masa hidupnya yang hanya sekelebat ini saja.

    4. Setiap anggota tahu kapan ia mesti meminta persetujuan atasan dan kapan 
ia sendiri bisa mengambil keputusan secara bertanggungjawab sesuai 
sasaran-sasaran yang telah disepakati.

    5. Setiap anggota kelompok berkomunikasi secara intensif dan jujur-terbuka 
satu sama lainnya akan setiap masalah yang relevan.

    6. Anggota merasa aman saat memutuskan sesuatu hal yang pantas bagi mereka 
(dalam lingkup posisi/jabatan dan tanggungjawabnya).

    7. Nilai-nilai kelompok (group values) dan tujuan kelompok sesuai (match) 
dengan kebutuhan anggota
 kelompok.

    8. Setiap aktivitas berada dalam lingkungan (group atmosphere) yang 
mendukung (supportive).

     Perlu diketahui, bahwa pelbagai perusahaan terbaik di dunia adalah 
organisasi yang sungguh serius mengeksploitasi secara positif-optimal potensi 
dari kelompok kerja sebagai sumber daya manusia yang penting.

     Komposisi karakter dan kompetensi dalam suatu kelompok kerja bisa 
menciptakan daya sinergi manakala faktor kepemimpinan mampu untuk memicu dan 
merawatnya.

     Jadi keefektifan organisasi bicara tentang kinerja 2 dimensi: dimensi 
tugas (task) dan dimensi orang (people). Kalau cuma sukses di satu sisi – 
dimensi tugas/orang saja misalnya – maka keefektifannya cuma 50%.

     Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah soal efisiensi. Jika 
keefektifan bicara soal pencapaian tujuan (yang ada 2 dimensinya: tugas &
 orang), maka aspek efisiensi bicara soal segala sumber daya yang dimanfaatkan 
sesedikit mungkin dalam upaya pencapaian tujuan. Biasanya orang menyebut dengan 
5M (Man, Money, Machines, Materials & Method).

     Walaupun dalam aspek efisiensi juga disebutkan unsur Man (Manusia), namun 
itu dipakai dalam konteks sebagai faktor sumber daya (yang – misalnya – tidak 
perlu merekrut melebihi rencana bisnisnya). 

     Memang faktor Manusia bisa dilihat dari kedua sisi itu (efektivitas dan 
efisiensi). Tujuan akhir bisnis pada galibnya adalah kemaslahatan manusia itu 
sendiri lewat optimalisasi manfaat talenta setiap orang dalam organisasi. 
Bahkan juga yang berada di luar organisasi.

     Bersiaplah untuk sukses.




(twitter@andrewenas)
-------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah PERDUKI, edisi Sept-Okt
 2010


STRATEGIC
 MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke