(Sharing)


"Remarkable Indonesia!" …dan banjirnya Singapura

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)


“Meskipun telah menimbulkan pelbagai kesulitan atau bencana bagi ribuan 
penduduk Perancis, banjir yang terjadi pada Januari 1955 lebih merupakan suatu 
Perayaan daripada malapetaka.” – Roland Barthes, Membedah
 Mitos-mitos Budaya Massa, 2007 (Mythologies, 1972).

***

   Indonesia yang luar biasa! (remarkable Indonesia), ini adalah idiom baru 
yang disiapkan BKPM (badan koordinasi penanaman modal) bagi pencitraan 
Indonesia untuk menarik investasi baru dari AS (Amerika Serikat). Maksud hati 
memosisikan
 citra (brand image) Indonesia sebagai negeri “ajaib”, yang menjanjikan 
keuntungan besar bagi investor. Orin Basuki (Kompas, 14 Juli 2010) melaporkan 
bahwa BKPM telah 3 kali bolak balik ke AS demi meyakinkan para investor 
prospektif untuk mulai menanam modalnya di negeri yang “ajaib” ini. 

  Prosesi pencitraan seyogianya mengikuti alur sederhana: brand awareness -> 
brand recognition/recall -> brand association -> brand image. Pertama-tama 
tentu nama Indonesia mesti dikenal (diketahui), maka perlu program-program dan 
inisiatif untuk memperkenalkan diri dan “hadir” terus menerus dalam pergaulan 
antar-bangsa supaya – paling tidak – nama Indonesia dikenal dan diingat terus 
oleh komunitas internasional. Namun, serentak dengan itu juga mesti diupayakan 
agar nama, identitas (brand) Indonesia terasosiasi dengan sesuatu yang positif 
(keramahan, keindahan, kesempatan, kecerdasan,
 kejujuran, kebersihan, etos kerja keras, inovasi, kreativitas, efisiensi, 
infrastruktur/public utilities yang memadai, profesionalisme state-apparatus, 
dan yang sejenisnya), sehingga akhirnya – dengan aktualisasi di dalam lintasan 
waktu – citra merek (brand image) Indonesia yang “luar biasa” bisa betul-betul 
menjadi suatu formasi yang “nyata” di benak komunitas internasional.

***

  Singapura banjir! …ini realitas bencana yang mengherankan komunitas global. 
Mengikuti alur pemikiran Roland Barthes (Paris Tidak Kebanjiran, dalam 
Mythologies, 1972), banjir yang terjadi itu – bagi kasus Singapura – nampaknya 
lebih merupakan perayaan daripada malapetaka. Terutama, “…karena banjir itu 
menggantikan objek-objek tertentu, menyegarkan persepsi kita tentang dunia 
dengan memperkenalkan ke dalam dunia pelbagai hal yang belum terbiasa tetapi 
dapat dijelaskan; kita melihat mobil
 direduksi menjadi bagian atapnya, lampu-lampu di pinggir jalan dipotong sampai 
hanya bagian atasnya yang muncul di atas permukaan seperti bunga bakung air, 
rumah-rumah dipotong seperti permainan balok anak-anak, seekor kucing terjebak 
di atas pohon selama beberapa hari. Semua objek sehari-hari ini tampaknya 
mendadak terpisah dari akarnya, tercabut dari substansi rasionalnya yang sangat 
baik, Bumi… Banjir itu membangkitkan penglihatan normal tanpa membangkitkan 
kefantastisan; objek-objek dihapuskan sebagian, tidak terdistorsi: tontonan itu 
ganjil tetapi masuk akal.”

  Lalu bagaimana kita ‘merayakan’ Singapura yang kebanjiran ini? Roland Barthes 
menggariskan, “Setiap pemisahan yang cukup besar dalam kehidupan sehari-hari 
mengintroduksi Perayaan: kini, banjir itu tidak hanya menghantam dan 
menghanyutkan benda-benda tertentu, banjir itu juga melimpahi coenesthesia 
(estetika umum) pemandangan,
 pengorganisasian sejak zaman nenek moyang terhadap garis-garis horizon, 
garis-garis habitual pada peta survei, tirai pepohonan, barisan rumah, jalanan, 
palung sungai itu sendiri, dan stabilitas kaku yang dengan begitu cermat 
mempersiapkan bentuk-bentuk properti, semua ini dijadikan tidak jelas, 
merentang dari sudut menjadi bidang: tidak ada lagi jalan, tidak ada lagi 
pinggir sungai, tidak ada lagi arah; suatu substansi datar yang tidak beranjak 
ke mana-mana dan yang dengan demikian menangguhkan proses manusia, melepaskan 
dia dari nalar, dari suatu kemanfaatan lokasi-lokasi… Secara paradoks, banjir 
itu telah menciptakan dunia yang lebih dapat diakses, yang dapat dimanipulasi 
dengan jenis kesenangan yang dimiliki anak-anak… mengeksplorasi dan 
menikmatinya.”

***

  Berefleksi dari fenomena banjirnya Singapura dan upaya pencitraan Indonesia 
untuk menjadi entitas yang ‘luar biasa’
 merupakan sesuatu yang sangat menantang dan menggugah perasaan. Teristimewa di 
hari-hari menjelang peringatan kemerdekaan bangsa ini. Kemerdekaan – seperti 
metafora dari Bung Karno – adalah sebuah jembatan emas yang merupakan condition 
sine qua non bangsa Indonesia dalam pilgrimasinya menuju MAM (masyarakat adil 
makmur). Dan sampai tahun 2010 ini, jembatan emas itu sudah 65 tahun di 
belakang kita.

  Di suatu tempat orang bisa merayakan ‘bencana’ sebagai sesuatu yang ‘luar 
biasa’ (di luar kebiasaan), sementara di tempat lain sesuatu yang seyogianya 
sudah menjadi keharusan (dus sesuatu yang biasa, seperti: keteraturan, 
disiplin, kebersihan, dll) nyatalah perlu diangkat sebagai sesuatu yang ‘luar 
biasa’ karena hal-hal itu memang – dalam realitas keseharian – masih di luar 
kebiasaan. 

  Salam
 kemerdekaan!


(twitter@andrewenas)
---------------------------------------------------------
Artikel dari
 Majalah MARKETING, edisi Agustus 2010


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke