(Sharing)


Globalisasi dan Hasrat Segitiga

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)


"Apabila aku sibuk, gunung memandangku. Apabila aku senggang, aku memandang 
gunung. Walau kelihatan sama, tapi tak sama. Karena kesibukan lebih rendah dari 
kesenggangan." - Mitsuhiro menurunkan baris-baris sajak Tsai Wen, dalam novel
 'Musashi', buku ke-4, karya Eiji Yoshikawa.

***

Dalam salah satu penerbangan Garuda yang saya tumpangi baru-baru ini, pramugari 
menyuguhi koran 'The Wall Street Journal' (Friday-Sunday, January 18-20, 2008). 
Satu tulisan pokok di halaman depan, judulnya sangat menggelitik: "Can Asia 
escape drag of weak U.S.?" (oleh: Joanna Slater & Antonio Regaland).

Begini paragraf pembukanya: "To escape woes in the U.S., investors have piled 
into shares in fast growing economies such as China, India and Brazil. Now it 
looks like these markets might not offer a hoped-for-refuge." Wow, betapa 
merananya jika para "pengungsi modal" ini kehabisan tempat mengungsi! Di 
pelataran dunia yang makin mendatar, tak ada lagi tempat lari atau sembunyi. 
Transparansi bukan lagi soal pilihan dan ignorance adalah proses pembekuan.

Beberapa bulan terakhir, prediksi ekonomi AS rada suram. Para investor mulai 
bertanya apakah emerging markets mampu melepas
 gerbongnya (decouple) dari rangkaian kereta ekonomi AS. Dan setelah itu mampu 
tumbuh terus sesuai harapan walaupun AS sebagai lokomotif ekonomi dunia melemah.

Yang jadi soal, meski emerging markets itu memang semakin 
berdaya-tahan-mandiri-lentur (resilient), namun pasar modalnya malah makin 
terhubung-erat dengan ekonomi AS. Kekhawatiran soal resesi AS cukup mencekam 
dunia. Di awal tahun ini saja, benchmark indexes di pasar saham Korea, Turki 
dan Brasil turun rata-rata 7% bahkan lebih.

Memang telah cukup lama AS dan Eropa Barat menjadi model pembangunan disusul 
Jepang, kemudian Korea, Taiwan dan Singapura. Sekarang ada China, India, dan 
negara jiran Malaysia.

***

Lewat buah pikir Rene Girard tentang mimesis, hasrat segitiga (buku Sindhunata, 
Kambing Hitam: Teori Rene Girard, 2006), kita sadar bahwa homo-economicus bukan 
cuma makhluk yang secara ekonomis bisa berhitung rasional, tapi juga makhluk 
yang memperjuangkan
 kepentingannya karena meniru keinginan dan hasrat sesamanya. Pada dasarnya, 
masyarakat sangatlah rawan dan mudah pecah, serta gampang terbenam krisis. 
Maklum, menurut Girard, dalam masyarakat ini bertakhta rivalitas tiada habis, 
yang setiap saat bisa menyulut kekerasan.

Mimesis adalah teori hasrat segitiga (triangular desire). Masyarakat Adil 
Makmur (MAM) seperti diimpikan Bung Karno dalam banyak pidatonya telah merasuk 
ke sanubari bangsa sebagai gambaran ideal. Kita sebagai subjek punya gagasan 
ideal tentang MAM, inilah objek pemikiran kita. Namun karena obyek pikiran ini 
abstrak luar biasa, maka kita perlu mediator sebagai perantara.

Kita sejak kecil menyerap nilai-nilai ideal, misalnya kepahlawanan (heroism). 
Namun karena konsep kepahlawanan sebagai obyek pikiran rada susah dicerna, maka 
kita butuh mediator yang berupa tokoh-tokoh (heroes). Pangeran Diponegoro, 
Gajah Mada, sampai Batman, Superman dan Spiderman, merekalah personifikasi
 sekaligus mediator kita untuk sampai ke gambaran ideal konsep kepahlawanan.

Maka, hubungan kita dengan para tokoh tadi pada dasarnya adalah pola 
'imitiatio', peniruan. Seperti di kecil Joni yang ngotot sama ibunya minta 
dibelikan kostum Spiderman, yang lalu sepanjang mal berlagak laksana Spiderman 
betulan, bangga dan merasa gagah, meski sesungguhnya cuma 'imitatio' dari sang 
mediator.

Kita sebagai subjek punya gambaran ideal MAM sebagai objek, dan AS adalah 
mediatornya. Dalam perjalanan waktu, bukan lagi subjek, tetapi malahan 
mediatorlah yang menentukan objek bagi subjek. Dan objek, yang tadinya 
dihasratkan oleh subjek, terjadi dan ada karena penentuan dan pilihan mediator. 
Sampai di sini, hubungan subjek-objek tidaklah dalam garis linear langsung, 
melainkan dalam hubungan segitiga. Hubungan subjek-objek itu selalu harus lewat 
titik ketiga, yakni mediator. Karena pada akhirnya mediatorlah yang kerap 
menentukan dan memilihkan objek-objek
 bagi hasrat subjek, maka Rene Girard sang filsuf, menyebut hubungan segitiga 
itu sebagai hasrat segitiga (triangular desire).

***

"The world is flat, Indonesia dan AS ada dalam lingkungan yang semakin menyatu  
dan transparan. Gerak rivalitas yang naluriah membuat situasinya bisa jadi 
makin kompleks. Soalnya bukan hanya karena mediator dan subjek yang saling 
berdekatan dan bisa kontak langsung, tapi terlebih karena baik mediator maupun 
subjek sama-sama mengingkari peniruannya, menjaga gengsi keaslian dirinya, 
menyembunyikan imitasinya. Repotnya, justru karena saling jaga gengsi inilah 
kebencian pun pecah. Dan rivalitas antar mereka tak mungkin dihindari lagi. 
Hubungan
 benci tapi rindu ini memang repot. Benci (karena gengsi dan iri) sekaligus 
rindu (karena kagum). Sangat paradoksal."

Banyak soal yang perlu dicermati. Gunung memandangku, atau akulah yang 
memandang gunung. Kalau kita cuek, persoalan memandang kita. Kala kita peduli, 
kitalah yang memandang persoalan, dan mencari jalan keluar.




(tiwtter: @andrewenas)
--------------------------------------------------------------------
Artikel terlampir, dari Majalah MARKETING, edisi Februari 2008



STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke