(Sharing)


Realitas Kosmetik

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)


“Kita telah mencapai suatu masa saat kosmetik menggantikan ideologi sebagai 
bidang keahlian yang harus dikuasai oleh seorang politisi.” – Neil Postman.

***

     Media-massa (radio, tv, cetak) adalah wahana melalui mana seseorang 
disuguhi dan karenanya dapat memahami realitas. Namun sejak instansi pertama 
perlulah disadari bahwa media-massa selalu berdiri di atas perspektif tertentu. 
Karenanya media dalam penyajian (audio, visual, tulisan) senantiasa 
“memerangkap” sekaligus juga “mengungkap” realitas ke dalam atau lewat 
kerangka-acuan (frame of reference) serta medan-pengalaman (field of 
experience) tertentu pula.

***

     Pemberitaan di bidang ekonomi, misalnya yang bertajuk: “Dana Asing 
Mengalir ke Pasar Obligasi Tanah Air: Kepemilikan asing di surat utang negara 
tahun ini bisa tumbuh 38% menjadi Rp270 triliun” (Harian Kontan, Selasa 19 Juli 
2011) melaporkan bahwa peta investasi global mulai bergeser seiring krisis 
utang yang melanda pasar Eropa dan Amerika Serikat. Investor global kini 
mengincar emerging market, termasuk Indonesia. Satu momentum yang bisa 
mengantarkan investor asing masuk Indonesia adalah rencana lelang surat utang 
negara. Dalam lelang ini, pemerintah menawarkan enam seri SUN dengan target 
indikatif senilai Rp 7 triliun. Kemudian disitir pula pendapat seorang analis 
pasar obligasi yang mengatakan bahwa hasil lelang surat utang tersebut akan 
positif selama imbal hasil (yield) yang ditawarkan menarik bagi investor. 
Selanjutkan dikatakan juga bahwa dana asing diprediksi bakal masuk pasar 
obligasi domestik seiring adanya
 kecemasan krisis Eropa akan meluas.

     Pewartaan yang menggambarkan optimisme pada sisi penawaran obligasi di 
pasar global tentu baru sebelah bagian dari koin yang utuh. Karena perspektif 
kewajiban negara (pemerintah serta rakyatnya) untuk nanti bagaimana bisa 
melunasi atau menjaga performa ekonomi makro-mikro tidaklah masuk dalam 
kerangka pemberitaan. Padahal – anehnya – produk yang dijual bernama obligasi 
(yang arti harafiahnya adalah: kewajiban, atau obligation dalam bahasa 
Inggris). Optimisme di aspek penjualan (sales) perlu diimbangi dengan ulasan di 
sisi kewajiban secara proporsional, sehingga realitas yang hendak diberitakan 
bakal lebih mencakup.

***

     Kekuasaan media-massa terletak dalam kemampuannya menentukan, dan dengan 
demikian mendefinisikan, apa dan siapa yang penting untuk diketahui publik 
(layak diberitakan), apa yang dianggap benar (membentuk opini publik), juga 
secara aksiologis ikut merumuskan pembentukan nilai-nilai apa yang dianggapbaik 
atau buruk. Persoalannya, seperti disitir Neil Postman (“Amusing Ourselves to 
Death: Public Discourse in the Age of Business”, 1985), kita tidak dapat 
mengukur suatu budaya dengan output topik remeh temeh, melainkan dengan apa 
yang dianggap penting. Maka media-massa adalah juga sebagai epistemologi. 
Penjelasan Postman,bahwa epistemologi adalah suatu subyek yang kompleks yang 
berurusan dengan asal-usul pengetahuan. Bagian dari pembahasannya yang relevan 
di sini adalah berbagai definisi kebenaran dan sumber-sumber semua definisi 
tersebut dibentuk oleh karakter media komunikasi yang melalui mana informasi 
dilayangkan. Singkatnya,
 media-massa memengaruhi epistemologi kita.

***

     Tatkala kepemimpinan nasional sedang disibukkan dengan isu kaburnya “sang 
bendahara”, di Nusa Dua Bali Hillary Clinton memotivasi para wirausaha muda 
Indonesia, seperti dilaporkan The Jakarta Post, July 24, 2011, dikatakan, “We 
are here today because we believe in the power of opportunities and 
entrepreneurship to transform lives and lift up communities.” Diingatkan pula, 
“But we need to tackle the obstacles that entrepreneurs face… among others 
bribing government officials to get permits. By tackling the problems, 
entrepreneurs could easily start up business and would have global links, while 
investors would enter a better business climate and have enhanced protection of 
intellectual property rights.” Dan ia pun berjanji, “We will do anything we can 
to help you.” Tegas dan mantap nadanya.

     Sementara itu di ibu kota, dengan intonasi memelas: “Nazaruddin, 
pulanglah!”, begitu pernyataan SBY menyikapi dinamika komunikasi politik yang 
berkembang ke segala arah (untuk tidak mengatakan kacau balau) akibat kaburnya 
sang bendahara partai yang sedang berkuasa. Entah ia kabur ke mana, kabarnya ke 
negeri jiran yang tidak punya perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. 
Komunikasi politik lokal telah bergeser masuk ke kancah internasional gara-gara 
sang buron melintas batas demarkasi. Situasi makin heboh tatkala sang buron 
malah diwawancara langsung di hadapan publik kecil (The Jakarta Lawyers Club) 
dan serentak juga disimak publik besar (pemirsa TVOne). Wawancara interlokal 
(yang diduga dari Singapura), selain menghebohkan dari dimensi sosial-politik, 
di sisi lain juga telah mengirim sinyal pemasaran-internasional bahwa Singapura 
adalah lokasi yang aman bagi mereka yang mau menginvestasikan uangnya. Negeri 
kecil ini kebal dan
 tidak bisa didikte sekalipun oleh tetangganya yang besar.

     Pernyataan sikap yang disampaikan dalam sebuah konperensi pers itu telah 
mengundang pelbagai interpretasi atas tokoh penyampai pesan, maupun atas 
peristiwa itu sendiri. Banyak opini berkembang, konperensi pers yang walau 
dibuka dengan justifikasi-posisi, namun akibat tampilannya melewati frame/cara 
yang agakcengeng, telah membuat sementara publik menilainya sebagai lemah.

     Repotnya, resonansi tampilan realitas kosmetik seperti ini bakal 
menciptakan kesan inkompetensi yang mengakibatkan gugurnya kepercayaan, basis 
dari efektivitas kepemimpinan. Quo vadis? 




(twitter: @andrewenas)
----------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Agustus 2011

STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke